You are currently browsing the monthly archive for October 2007.

“Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan” (Pembukaan UUD 45)

kurdistan2.gif

Dunia Islam wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara diisi oleh empat suku bangsa besar yaitu Arab (dan yang di-Arab-kan), Persia, Turki dan Kurdi. Pasca runtuhnya kekhalifahan sekitar awal abad 19 [bukan pada tahun 1924 seperti versi Hizbut Tahrir] disebabkan oleh ekspansi kaum kolonialis barat dan berkembangnya konsep nation state yang dihembuskan kepada eks-anggota khilafah, muncullah negara-negara baru dikawasan ini. Pasca Perang Dunia II, dikawasan Timur Tengah dan Afrika Utara berdiri 22 Negara berdaulat. 20 Negara milik bangsa Arab, 1 milik bangsa Turki dan 1 lagi milik bangsa Persia yang kemudian berubah nama menjadi Iran. Jika Yahudi si bangsa tak bertanah air juga kita masukkan, maka bertambah lagi satu negara berdaulat yaitu Israel.

Alhasil dikawasan para Nabi itu pada saat sekarang ini berdiri 23 nation state yang dikapling oleh 4 Bangsa yaitu Arab, Persia, Turki dan Yahudi. Ada yang aneh? Sekilas sih kelihatannya ok ok saja. Tapi tunggu dulu, apakah Anda sedemikian gampangnya tertipu? Yup benar, secara ajaib bangsa Kurdi yang juga pewaris khilafah hilang ditelan bumi. Kemanakah mereka mengirab? Dikutuk Tuhan-kah mereka (seperti bangsa Yahudi yang pernah dikutuk oleh Tuhan tidak punya tanah air selama beberapa abad)? Atau kena wabah penyakitkah mereka?

Siapakah bangsa Kurdi? Apakah mereka termasuk bangsa biadab yang mendurhakai perintah Tuhan? Ow, kalau memang begitu tidak perlulah kita repot-repot memikirkan mereka. Biarkan saja mereka menjalani kutukannya seperti bangsa Yahudi. Kalau perlu kita tambahi istilah laknatullah setiap nama bangsa ini disebut. Read the rest of this entry »

Advertisements

Saya cukup bingung juga untuk menentukan judul dari artikel ini, apakah yang benar itu adalah “Apa yang Islami dari Indonesia” atau seperti judul yang tertera diatas. Gosip hangat soal identitas Islam memancing saya untuk ikut latah mengutarakan unek-unek. Diluar sana banyak kalangan mengkritisi soal proses arabisasi di Indonesia yang kelihatannya lebih efektif ketimbang proses islamisasinya sendiri. Dari mulai masalah agama seperti jilbab, masalah tatakrama seperti pergeseran dari kulonuwun menjadi assalamualaikum, masalah arsitektur seperti menara masjid, masalah seni rupa Islam yang tidak boleh tidak harus berbentuk kaligrafi arab,  sampai dengan masalah penamaan anak yang harus kearab-araban. Padahal nama dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah sendiri sudah memiliki kearifan lokal yang khas. Nama Indonesia seperti Sugianto, misalnya berisi doa orangtuanya agar anaknya menjadi orang kaya. Bukankah itu sama dengan konsep nama Islam.

Kembali ke judul, ternyata diluar sana, di negeri-negeri Eropa dan puak keturunannya Islam secara budaya juga terlalu sering dipandang dari sudut arab. Seakan-akan “formal islam” itu mestilah mid-east. Indonesia dan India hanya dipandang sebagai “sincretic islam”. Bahkan ummat Islam di China yang jumlahnya 30juta orang hampir tidak melintas dalam pengetahuan mereka.

Nah sekarang pertanyaannya, jika kita berniat mengkampanyekan sisi Indonesia dari Islam, sisi apakah yang akan kita suguhkan sebagai sajian unik yang tidak dimiliki oleh dunia arab. Malaysia tetangga kita telah mempelopori dengan “Islam Hadhari” sebagai corak Islam khas negeri jiran itu. Di Indonesia juga muncul pemikiran-pemikiran seperti islam liberal dan islam kontekstual. Namun, pertanyaan berikutnya apakah formula seperti itu yang akan kita teruskan? Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 313,297 hits
%d bloggers like this: