Saya cukup bingung juga untuk menentukan judul dari artikel ini, apakah yang benar itu adalah “Apa yang Islami dari Indonesia” atau seperti judul yang tertera diatas. Gosip hangat soal identitas Islam memancing saya untuk ikut latah mengutarakan unek-unek. Diluar sana banyak kalangan mengkritisi soal proses arabisasi di Indonesia yang kelihatannya lebih efektif ketimbang proses islamisasinya sendiri. Dari mulai masalah agama seperti jilbab, masalah tatakrama seperti pergeseran dari kulonuwun menjadi assalamualaikum, masalah arsitektur seperti menara masjid, masalah seni rupa Islam yang tidak boleh tidak harus berbentuk kaligrafi arab,  sampai dengan masalah penamaan anak yang harus kearab-araban. Padahal nama dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah sendiri sudah memiliki kearifan lokal yang khas. Nama Indonesia seperti Sugianto, misalnya berisi doa orangtuanya agar anaknya menjadi orang kaya. Bukankah itu sama dengan konsep nama Islam.

Kembali ke judul, ternyata diluar sana, di negeri-negeri Eropa dan puak keturunannya Islam secara budaya juga terlalu sering dipandang dari sudut arab. Seakan-akan “formal islam” itu mestilah mid-east. Indonesia dan India hanya dipandang sebagai “sincretic islam”. Bahkan ummat Islam di China yang jumlahnya 30juta orang hampir tidak melintas dalam pengetahuan mereka.

Nah sekarang pertanyaannya, jika kita berniat mengkampanyekan sisi Indonesia dari Islam, sisi apakah yang akan kita suguhkan sebagai sajian unik yang tidak dimiliki oleh dunia arab. Malaysia tetangga kita telah mempelopori dengan “Islam Hadhari” sebagai corak Islam khas negeri jiran itu. Di Indonesia juga muncul pemikiran-pemikiran seperti islam liberal dan islam kontekstual. Namun, pertanyaan berikutnya apakah formula seperti itu yang akan kita teruskan?

Dalam teori himpunan, jika kita [dan malaysia] menempuh metode demikian, itu sama artinya dengan menciptakan corak lain dari Islam, atau dengan kata lain membuat anggota baru diluar himpunan. Padahal tujuan kita mula-mula adalah membuka mata dunia bahwa kita juga adalah anggota himpunan yang setara dengan anggota himpunan lain. Bukan diluar himpunan dan bukan pula dipinggir-pinggir dalam himpunan.

Alternatif pertama yang terpikir dalam benak saya adalah, mengkampanyekan nilai kekeluargaan yang kuat sebagai corak Islam yang khas Indonesia. Tradisi mudik adalah salah satu contoh yang bagus. Berikutnya tradisi sopan santun ala Indonesia, yang secara alami melindungi akhlak orang Indonesia. Di arab sana katanya orang takut berbuat zina karena takut dihukum rajam [tapi apa iya sih:mrgreen: ], namun sepertinya hanya berlaku untuk perempuan asli daerah sana [ini menurut cerita TKW Indonesia lho]. Tradisi berikutnya yang sangat khas negeri kita adalah tradisi toleransi. Tanpa harus digurui soal democrazy oleh AS, kita dari dulu sudah sangat fasih untuk urusan yang satu ini.

Nah kalau Iran dan Hezbollah saja bisa memukau mata dunia dengan mengkampanyekan Syiah, kenapa ummat Islam Indonesia yang 190juta lebih ini tidak bisa. Atau kita memang hanya buih di lautan? Yang dengan pasrahnya diombang ambingkan oleh fitnah besar akhir zaman yang sangat berat ini. Semuanya berpulang kepada kita. Selamat Idul Fitri 1428 H. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.