“Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan” (Pembukaan UUD 45)

kurdistan2.gif

Dunia Islam wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara diisi oleh empat suku bangsa besar yaitu Arab (dan yang di-Arab-kan), Persia, Turki dan Kurdi. Pasca runtuhnya kekhalifahan sekitar awal abad 19 [bukan pada tahun 1924 seperti versi Hizbut Tahrir] disebabkan oleh ekspansi kaum kolonialis barat dan berkembangnya konsep nation state yang dihembuskan kepada eks-anggota khilafah, muncullah negara-negara baru dikawasan ini. Pasca Perang Dunia II, dikawasan Timur Tengah dan Afrika Utara berdiri 22 Negara berdaulat. 20 Negara milik bangsa Arab, 1 milik bangsa Turki dan 1 lagi milik bangsa Persia yang kemudian berubah nama menjadi Iran. Jika Yahudi si bangsa tak bertanah air juga kita masukkan, maka bertambah lagi satu negara berdaulat yaitu Israel.

Alhasil dikawasan para Nabi itu pada saat sekarang ini berdiri 23 nation state yang dikapling oleh 4 Bangsa yaitu Arab, Persia, Turki dan Yahudi. Ada yang aneh? Sekilas sih kelihatannya ok ok saja. Tapi tunggu dulu, apakah Anda sedemikian gampangnya tertipu? Yup benar, secara ajaib bangsa Kurdi yang juga pewaris khilafah hilang ditelan bumi. Kemanakah mereka mengirab? Dikutuk Tuhan-kah mereka (seperti bangsa Yahudi yang pernah dikutuk oleh Tuhan tidak punya tanah air selama beberapa abad)? Atau kena wabah penyakitkah mereka?

Siapakah bangsa Kurdi? Apakah mereka termasuk bangsa biadab yang mendurhakai perintah Tuhan? Ow, kalau memang begitu tidak perlulah kita repot-repot memikirkan mereka. Biarkan saja mereka menjalani kutukannya seperti bangsa Yahudi. Kalau perlu kita tambahi istilah laknatullah setiap nama bangsa ini disebut.

Tapi kenyataannya tidak demikian. Mereka ini ternyata saudara kandung kita sendiri (bahkan terlebih lagi bagi muslimin bermazhab ahlussunnah waljamaah (sunni)) yang menjadi mayoritas dikawasan Timur Tengah. Anda tentu sangat kenal dengan tokoh Salahuddin al Ayyubi. Panglima perang berhati malaikat yang legendaris itu. Namanya populer kembali dalam film Kingdom of Heaven. Jamaah Masjid Kampus UGM pun tak segan mengabadikan namanya untuk dinisbati. Dia itu bangsa Kurdi lho. Anda kenal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah? Seorang reformis mazhab Hanbali yang kemudian menginspirasi berdirinya Kerajaan Saudi modern. Dia itu juga bangsa Kurdi lho. Masih banyak lagi tokoh-tokoh bangsa Kurdi diera kekhalifahan yang berkontribusi utamanya dibidang sains dan ilmu pengetahuan.

kurdistan_heart.jpg

Namun apa balasannya sekarang? Kurdistan negeri mereka saat ini dijajah beramai ramai oleh bangsa-bangsa muslim sendiri. Tak kurang 6 negara yaitu Turki, Suriah, Irak, Iran, Armenia dan Azerbaijan mempartisi negeri indah dan subur ini dengan sadis. Bangsa Kurdi yang berjumlah 40 juta orang terpisah-pisah oleh sekat-sekat administrasi negara-negara baru yang kadang saling berperang itu. Keenam negara tersebut sepakat memusuhi mereka. Bersekongkol membasmi mereka dengan cara-cara yang kadang mendekati praktek genosida.

Kurdi adalah bangsa yang lugu dan jujur. Mereka terpesona oleh cita-cita indah kekhalifahan. Mereka benar-benar melebur menjadi bangsa Islam dari hatinya. Hal yang kemudian dipersalahkan banyak orang. Kenapa bangsa Kurdi terlambat membangun nasionalismenya, utamanya kesadaran teritorial. Ketika bangsa-bangsa Arab, Persia dan Turki berlomba-lomba memagari negrinya, bangsa Kurdi hanya menonton saja negeri Kurdistan mereka dikapling-kapling menjadi halaman belakang enam negara baru.

Sedemikian lugukah mereka? Apakah mereka ini bangsa terbelakang? Ternyata tidak demikian kenyataannya. Mereka hanya terlalu lama terbuai dalam kekhalifahan sehingga lupa siapa mereka. Mereka masih mendambakan hidup damai sebagai bangsa Islam yang satu. Tapi kesalahan utama mereka adalah, mereka sendirian dalam hiruk pikuk ego nasionalisme sempit yang berkibar-kibar pasca Perang Dunia II.

541akurdistan.jpg

Sekarang Kurdi kembali bergolak angkat senjata. Siapakah yang mampu membantu mereka? Seluruh tetangga disekeliling mereka bersepakat membenci mereka. Arab, Persia dan Turki tidak memandang lagi agama mereka. Yang mereka tahu bangsa Kurdi hanyalah bangsa kelas dua di negara mereka masing-masing.

Siapakah yang peduli akan nasib mereka? Indonesia? Ah, Indonesia lebih peduli pada Palestina [yang cuek-cuek saja] dan Myanmar [yang budeg-budeg saja]. Amerika Serikat kah? Ah, bangsa penjajah ini tentu tidak ikhlas “membantu” Kurdi. Mereka punya strategi jangka panjang sendiri untuk bercokol di Timur Tengah, tepat dijantung Timur Tengah itu sendiri. Dimanakah jantung Timur Tengah itu? di Kurdistan!

“Ya Allah Tuhan Yang Maha Penyayang, Selamatkanlah Bangsa Kurdi, Kashmir, Uygur, Melayu Patthani, Mindanao, Kosovo, Chechnya dan Palestina Dalam Rahmat-Mu, Amiin ya Rabbal ‘Alamiin”