Jakarta dengan segala kompleksitasnya sebagai ibukota negara mensintesa suatu keseragaman sikap yang eksis dalam keberagaman penduduknya. Ia menjadi unik karena begitu berbeda dengan daerah-daerah lain bahkan kota-kota besar lain di dunia. Jakarta adalah kota dengan potensi cultural shock yang sangat besar. Orang-orang dari dunia timur dan dunia barat dipastikan kaget sesaat setelah menginjakkan kaki ditanahnya.

Jakarta adalah kota dimana kebebasan dijunjung setinggi-tingginya bahkan hampir tanpa batasan. Jakarta juga adalah tempat dimana kepedulian adalah hal yang langka untuk ditemukan. Bukan, bukan, bukan kepedulian sosial yang saya maksud. Tapi kepedulian atas kerugian yang dirasakan orang lain disebabkan kebebasan personal yang dijunjung tinggi warga kota ini. Tidak mengapa kalau mereka tidak peduli dengan kesusahan orang, akan tetapi jikalau kesusahan orang itu disebabkan oleh dirinya sendiri, ini baru luar biasa jika dirinya sama sekali tidak peduli.

Hukum rimba dalam bentuk paling modern adalah santapan sehari-hari. Jangan harap pendidikan tinggi mereka berkorelasi dengan etika ruang publik. Etika adalah suatu barang mewah yang hanya akan disajikan didalam forum-forum yang “membutuhkannya”. Banyak hal penting dan essential yang divonis tidak penting di Jakarta. Entah karena warganya tidak punya waktu untuk itu atau karena mereka tidak punya ruang untuk itu.

Ini bukan tulisan pertama tentang kejanggalan Jakarta. Dan sudah pasti saya juga bukan penulis pertama yang usil terhadap Jakarta. Sebagai seorang  alien di belantara kota ini, saya merasa perlu [untuk tidak mengatakan “berhak”, seperti orang-orang Jakarta aliran utama] untuk menyajikan sudut pandang lain dalam penilaian saya. Jadi berikut saya sajikan 5 peraturan tak tertulis yang kerap saya temukan di daerah lain, yang saya rasa penting untuk ditonjolkan diruang publik namun samasekali belum saya ketemukan di Jakarta.

  1. Berjalan disebelah kiri, walaupun anda sedang berjalan kaki di trotoar atau di gang, maupun sedang berkendara. Ini menghindari resiko bertabrakan dengan pejalan kaki / pengguna jalan yang datang dari arah berlawanan. Di Jakarta orang berjalan sesuka-sukanya disisi manapun, yang penting pede bahwa orang yang tepat dihadapannya akan menyingkir dengan ikhlas:mrgreen:
  2. Menggunakan jalan maksimum setengahnya jika berombongan. Susunlah rombongan kearah belakang. Di Jakarta, kebiasaannya adalah menggunakan seluruh badan jalan/trotoar/jembatan penyebrangan/tangga untuk menuju kesatu arah. Sehingga jika ada orang datang dari arah berlawanan, dipersilahkan dengan ikhlas loncat kedalam got atau menabrakkan diri ke jalan raya.
  3. Menggunakan klakson untuk hal yang diperlukan. Bukan untuk mengumbar kemarahan. Di Jakarta ketika lampu hijau di perempatan, dan sudah pasti kendaraan didepan akan berjalan, masih saja perlu untuk mengklakson orang didepan. Kurang afdhol rasanya jika tidak mengklakson. Lebih gila lagi kalau yang didepan itu adalah pejalan kaki atau pedagang gerobak yang sedang melewati gang sempit yang disisinya adalah got. Memangnya orang didepan mau disuruh loncat kedalam got.
  4. Memfungsikan trotoar dan jembatan penyebrangan semestinya, bukan untuk jalur cepat motor. Di Jakarta, orang bisa ditabrak diatas trotoar atau di serempet diatas jembatan penyebrangan. Hebat bukan?
  5. Memfungsikan bangku di angkutan umum sebagai barang publik. Di Jakarta penumpang angkutan umum menganggap bangku adalah milik pribadinya. Sehingga jika ada bangku berkapasitas 5 orang, biasanya akan dikuasai 4 orang saja yang dengan bahagianya berleha-leha. Atau jika ada penumpang lain yang ingin duduk, maka akan dipersilahkan duduk disudut, dimana untuk masuk saja sudah susah. Luar biasanya, si penumpang yang ogah bergeser ini turun setelah si penumpang yang mengemis tempat duduk, sehingga ketika keluar dia akan kesulitan lagi untuk kali yang kedua. Lebih hebat lagi bukan? Pikir-pikir apa susahnya sih menggeser duduk sejauh 30cm. Saya masih belum menemukan aspek ruginya sampai sekarang😀