You are currently browsing the monthly archive for December 2007.

Belum hapus ingatan kolektif warga bangsa tentang peristiwa berdarah di Pasuruan beberapa bulan yang lalu, muncul lagi insiden yang mengiris hati yang kembali dilakukan oleh TNI Angkatan Laut. Kali ini korbannya adalah nelayan miskin yang tidak tahu apa-apa. Tempat kejadian di Selat Malaka, hanya beberapa kilometer dari bibir pantai Belawan, Sumatera Utara. Seorang nelayan tewas dan tiga temannya kritis menyabung nyawa ditembak oleh tentara penjaga laut negaranya. Nelayan yang tewas ini bernama Mahmud dengan delapan anak yang masih kecil-kecil.

Belum ada informasi yang jelas dan imbang mengenai peristiwa ini, karena secara prosedur tetap biasa sumber informasi diusahakan tetap satu corong, yaitu dari pihak angkatan laut sendiri. Seluruh korban disekap di rumah sakit angkatan laut dan tidak boleh diwawancarai wartawan. Sisanya yang kebetulan tidak tewas “diperiksa”. Sampai sekarang saya belum menemukan definisi resmi dari “diperiksa” ini. Namun saya berkeyakinan inti prosesnya adalah cuci otak dan penyeragaman suara dan mungkin juga pengancaman atau penyuapan. Ini mutlak diperlukan agar sang “terperiksa” tidak menyanyikan lagu yang merusak wibawa sang tentara.

Miris sekali hati ini ketika para petinggi angkatan laut itu mengatakan “secara prosedur kami benar!“. Apa pasal? Nelayan apes yang menaiki kapal Subur Baru itu mereka baiat sebagai perompak. Sederhana bukan? Ini dia yang dinamakan fitnah yang sesuai prosedur. Kapal itu kemudian mereka kejar dan mereka berondong dengan peluru, padahal kapal nelayan ini tidak menampakkan perlawanan apa-apa (catat:ini pengakuan si petinggi tentara laut sendiri).

Lalu mengapa dikejar dan diberondong? “Karena mereka lari”, jelas sumber tentara laut itu. Jadi jelas sudah, dosa nelayan miskin itu adalah ‘karena lari dari tentara’. Saya hanya bisa menggeleng kepala dalam duka. Siapa pula manusia yang tidak ketakutan dan lari dikejar-kejar tentara, sementara mereka tidak tahu salahnya apa. Apalagi kapal tentara itu memberondong mereka dengan beringas. Tentara mencari alasan, bahwa mereka Read the rest of this entry »

Advertisements

 

Pagi di Kaki Gunung Osga

Tidak ada yang berbeda pada pagi ini. Seperti pagi-pagi lainnya di musim semi, matahari tetap terbit dengan cerlang di ufuk timur. Kabut mulai terangkat dari kaki-kaki bukit di pegunungan Sinabar. Cewang berwarna jingga menghiasi cakrawala di sekitar Gunung Nubus. Di selatan kota, lereng-lereng Gunung Osga mulai berubah warna dari biru pekat menjadi sedikit jingga. Sesaat lereng-lereng itu mempertontonkan guratan-guratan yang sejatinya adalah jalur lava di masa purba.

Rakyat Bakuhumpay sudah sejak dua jam yang lalu terjaga. Kota kecil di kaki Gunung Osga ini memang dihuni oleh penduduk yang tergolong rajin. Ba’da shubuh mereka sudah beranjak memulai kegiatan rutin. Dimulai dari menyambangi kedai kopi sekitar setengah jam, mereka mulai berangsur-angsur pulang ke rumah untuk selanjutnya turun ke sawah. Masyarakat Bakuhumpay sebagian besarnya memang petani. Beberapa gelintir kelas menengah ada juga yang berprofesi sebagai pegawai negeri atau guru.

Pagi itu Sumitra barusaja beranjak dari kedai kopi sehabis menyetorkan uang penjualan gorengan kepada pemilik kedai. Ia sempat menyimak pembicaraan atau lebih tepatnya kehebohan berita yang sedang dibahas oleh bapak-bapak di kedai kopi. Salah seorang di antara mereka membawa cerita yang baru didengarnya dari Radio Gasak. Khabarnya Presiden Oroskane telah memberi titah kepada Panglima Pasukan Rodeopigon untuk menghukum Negeri Bingkanamua atas pembangkangannya terhadap Presiden. Ultimatum yang dikirim Panglima Haldan, seorang panglima penting Negeri Bingkanamua kepada sang presiden dirasa sudah sangat keterlaluan. Maka tiada cara lain yang layak ditempuh untuk memulihkan wibawa presiden, kecuali mengirimkan pasukan ke Negeri Bingkanamua.

Kehebohan di kedai kopi tadi sempat menjadi buah pikiran Sumitra, namun apalah yang bisa dimengerti oleh anak petani berumur sepuluh tahun itu. Dengan seragam putih lusuhnya ia segera bergabung dengan rombongan kecil anak-anak seumurannya. Anak-anak lain berpenampilan kurang lebih sama dengan Sumitra, dengan telanjang kaki mereka bergerak ke arah pasar ternak. Sekolah mereka kebetulan berada di samping pasar ternak itu. Sampai di sekolah, masing-masing anak duduk bersila di lantai dengan rapi. Mereka mengeluarkan alat tulisnya dengan rapi pula. Sebuah batu pipih sebagai buku, beberapa batu tulis dan sebutir putik pepaya sebagai karet penghapus. Dan rutinitas pagi itu pun segera dimulai. Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 311,776 hits
%d bloggers like this: