Belum hapus ingatan kolektif warga bangsa tentang peristiwa berdarah di Pasuruan beberapa bulan yang lalu, muncul lagi insiden yang mengiris hati yang kembali dilakukan oleh TNI Angkatan Laut. Kali ini korbannya adalah nelayan miskin yang tidak tahu apa-apa. Tempat kejadian di Selat Malaka, hanya beberapa kilometer dari bibir pantai Belawan, Sumatera Utara. Seorang nelayan tewas dan tiga temannya kritis menyabung nyawa ditembak oleh tentara penjaga laut negaranya. Nelayan yang tewas ini bernama Mahmud dengan delapan anak yang masih kecil-kecil.

Belum ada informasi yang jelas dan imbang mengenai peristiwa ini, karena secara prosedur tetap biasa sumber informasi diusahakan tetap satu corong, yaitu dari pihak angkatan laut sendiri. Seluruh korban disekap di rumah sakit angkatan laut dan tidak boleh diwawancarai wartawan. Sisanya yang kebetulan tidak tewas “diperiksa”. Sampai sekarang saya belum menemukan definisi resmi dari “diperiksa” ini. Namun saya berkeyakinan inti prosesnya adalah cuci otak dan penyeragaman suara dan mungkin juga pengancaman atau penyuapan. Ini mutlak diperlukan agar sang “terperiksa” tidak menyanyikan lagu yang merusak wibawa sang tentara.

Miris sekali hati ini ketika para petinggi angkatan laut itu mengatakan “secara prosedur kami benar!“. Apa pasal? Nelayan apes yang menaiki kapal Subur Baru itu mereka baiat sebagai perompak. Sederhana bukan? Ini dia yang dinamakan fitnah yang sesuai prosedur. Kapal itu kemudian mereka kejar dan mereka berondong dengan peluru, padahal kapal nelayan ini tidak menampakkan perlawanan apa-apa (catat:ini pengakuan si petinggi tentara laut sendiri).

Lalu mengapa dikejar dan diberondong? “Karena mereka lari”, jelas sumber tentara laut itu. Jadi jelas sudah, dosa nelayan miskin itu adalah ‘karena lari dari tentara’. Saya hanya bisa menggeleng kepala dalam duka. Siapa pula manusia yang tidak ketakutan dan lari dikejar-kejar tentara, sementara mereka tidak tahu salahnya apa. Apalagi kapal tentara itu memberondong mereka dengan beringas. Tentara mencari alasan, bahwa mereka membuang tiga buah benda asing kelaut. Saya teringat cerita ayah saya, bahwa dahulu ketika beliau hendak menyeberang ke Pulau Nias, nahkoda juga membuang tiga mesin jahit ke laut. Kalau alasan ayah saya supaya kapal bisa lebih stabil dalam amukan badai, saya bisa menarik analogi, nelayan ini membuang benda-benda itu supaya kapalnya bisa lebih cepat larinya [ingat, mereka sedang dikejar]. Mereka mengira yang mengejarnya justru tentara laut Diraja Malaysia, karena itu mereka lari kearah daratan Indonesia.

Akhir kata saya hanya bisa berdoa, semoga nelayan yang syahid ini mendapatkan ampunan dari-Nya dan semoga keluarga yang ditinggalkan tidak menyimpan dendam. Dan semoga posisi warga sipil sebagai warga negara kelas dua yang tak punya hak suara, berakhir suatu masa. Amiin.

Sumber-sumber pendukung :

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/sumatera-utara/tni-al-berondong-sumber-baru-3.html

http://www.kompas.com/ver1/Nusantara/0712/25/200832.htm

http://gatra.com/artikel.php?id=110673

http://www.kapanlagi.com/h/0000205996.html

http://cybernews.cbn.net.id/cbprtl/Cybernews/detail.aspx?x=Law%20and%20Crime&y=Cybernews%7C0%7C0%7C12%7C595

http://beritakiss.multiply.com/journal/item/614/SATU_ORANG_NELAYAN_BELAWAN_TEWAS_DITEMBAK_PERSONIL_ANGKATAN_LAUT