You are currently browsing the monthly archive for January 2008.

Silahkan masuk untuk melihat peta …

Read the rest of this entry »

Mungkin ini tulisan yang kesejuta soal keluhan masyarakat pinggiran [maksudnya dipinggirkan] yang setiap hari harus mengalami penyiksaan di jalan raya. Mungkin juga ini amarah hampa yang telah kehabisan bahan bakar api emosi. Tepat juga dibilang tangisan kering tanpa air mata. Walau hanya sebuah jeritan tak berdaya, kami cukup puas masih bisa menyuarakannya. Terlalu muluk jika kami bermimpi ada yang mendengarkannya.

Pagi ini saudara-saudara. Masih belum berubah dari pagi-pagi sebelumnya. Kami para komuter angkutan umum bergerak menuju pusat-pusat Jakarta. Tuntutan hidup menyuruh kami bersegera. Satu persen angkutan umum kami perebutkan bersama-sama. Kami bersatu dalam cita dan derita. Kami berbagi ruang seluas 25 cm x 20 cm didalam bis kota. Kami berbagi CO2 dan karbon monoksida kenalpot Anda.

Diluar sana kami lihat Anda yang mengumbar amarah. Sambil duduk memegang stir dan atau mengobrol lewat handsfree. Anda yang sekilas bernasib sama dengan kami, terlihat menikmati kemacetan ini.

“Kami tergencet” pekik kami.

“Saya pun kena macet!” teriak Anda.

“Lalu kenapa pula kita harus saling mengumpat” sambung Anda.

Maaf bapak-bapak yang tertawa. Jika Anda melaju di jalan Anda, kami pun tidak sudi mengusik Anda. Lihatlah diri Anda. Untuk membawa diri Anda yang berdimensi 25 cm x 20 cm x 175 cm, Anda harus menghabiskan ruang seluas 150 cm x 350 cm. Anda yang berteriak-teriak macet sebenarnya sedang menikmatinya Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 76 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 305,866 hits
%d bloggers like this: