Mungkin ini tulisan yang kesejuta soal keluhan masyarakat pinggiran [maksudnya dipinggirkan] yang setiap hari harus mengalami penyiksaan di jalan raya. Mungkin juga ini amarah hampa yang telah kehabisan bahan bakar api emosi. Tepat juga dibilang tangisan kering tanpa air mata. Walau hanya sebuah jeritan tak berdaya, kami cukup puas masih bisa menyuarakannya. Terlalu muluk jika kami bermimpi ada yang mendengarkannya.

Pagi ini saudara-saudara. Masih belum berubah dari pagi-pagi sebelumnya. Kami para komuter angkutan umum bergerak menuju pusat-pusat Jakarta. Tuntutan hidup menyuruh kami bersegera. Satu persen angkutan umum kami perebutkan bersama-sama. Kami bersatu dalam cita dan derita. Kami berbagi ruang seluas 25 cm x 20 cm didalam bis kota. Kami berbagi CO2 dan karbon monoksida kenalpot Anda.

Diluar sana kami lihat Anda yang mengumbar amarah. Sambil duduk memegang stir dan atau mengobrol lewat handsfree. Anda yang sekilas bernasib sama dengan kami, terlihat menikmati kemacetan ini.

“Kami tergencet” pekik kami.

“Saya pun kena macet!” teriak Anda.

“Lalu kenapa pula kita harus saling mengumpat” sambung Anda.

Maaf bapak-bapak yang tertawa. Jika Anda melaju di jalan Anda, kami pun tidak sudi mengusik Anda. Lihatlah diri Anda. Untuk membawa diri Anda yang berdimensi 25 cm x 20 cm x 175 cm, Anda harus menghabiskan ruang seluas 150 cm x 350 cm. Anda yang berteriak-teriak macet sebenarnya sedang menikmatinya didalam sepoi air conditioner dan wangi parfum perancis, sambil sesekali mengklakson kami yang terjepit ketika turun dari angkutan umum.

Maaf ibu-ibu yang tertawa. Kenapa sekarang jumlah Anda begitu banyaknya. Kami yang tergencet ini harus berbagi CO2 dan karbon monoksida ditengah mayoritas Anda. Kami sadar bukan bapak kami yang membangun jalan raya ini. Tapi itu bukan berarti nenek moyang Anda yang membangunnya.

Wahai pemerintah yang mandul. Kami tidak butuh diurus. Kami hanya butuh diatur. Terapkanlah bagi kami politik Apartheid. Berikanlah kami jalan khusus angkutan umum. Kami warga negara yang sangat baik. Dengan jumlah 120 orang kami hanya menghabiskan area 200cm x 800 cm. Berikanlah kami jalan. Kami mau lewat. Hanya mau lewat. Tidak menghalangi siapa-siapa.