You are currently browsing the monthly archive for April 2008.

“Pemerintah adalah tayangan televisi yang kita saksikan tiap hari dan petugas kelurahan yang melayani kita saat perpanjangan KTP”

Tulisan ini bukan untuk tujuan provokasi maupun kampanye anarkisme. Kutipan diatas pun datangnya bukan dari saya. Malangnya saya, sampai saat tulisan ini saya tulis saya benar-benar tidak ingat siapa pencipta kalimat diatas. Yang saya yakini betul bahwa kalimat polos ini saya dengar di salah satu acara talkshow di televisi swasta.

Pemerintah dan Pemerintahan kian lama kian asing keberadaannya di tengah-tengah kita. Bukannya karena kedua hal ini menjadi barang langka seperti halnya solar, beras dan minyak tanah. Namun karena sentuhannya semakin lama semakin menghilang. Ronanya sendiri tidak kabur dalam pandangan kita. Tampak jelas dan vulgar di televisi dan koran-koran. Suaranya pun masih terdengar lantang di radio-radio. Namun kehadirannya semakin lama semakin tidak kita rasakan.

Entah ini gejala yang baik atau tidak, saya akan mencoba memandang dari sisi positif saja. Cobalah tengok dan amati sekitar kita. Bangsa kita kian hari kian menjelma menjadi bangsa yang mandiri. Peduli setan dengan krisis moneter, krisis sosial, konflik etnis, konflik agama, harga minyak dunia, pergantian presiden dan gubernur, perubahan iklim dan krisis pangan dunia, Bangsa Indonesia masih tetap hidup. Semakin melarat namun semakin kuat.

Anda tentu masih ingat dengan ramalan pakar-pakar ekonomi di barat sana, ketika krisis ekonomi menerpa sebagian negara-negara Asia Timur dan Tenggara. “Lihat Indonesia, 40 juta bayi dan balita akan mati disana!” Abracadabra, apa yang terjadi? Read the rest of this entry »

Advertisements

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 313,297 hits
%d bloggers like this: