“Pemerintah adalah tayangan televisi yang kita saksikan tiap hari dan petugas kelurahan yang melayani kita saat perpanjangan KTP”

Tulisan ini bukan untuk tujuan provokasi maupun kampanye anarkisme. Kutipan diatas pun datangnya bukan dari saya. Malangnya saya, sampai saat tulisan ini saya tulis saya benar-benar tidak ingat siapa pencipta kalimat diatas. Yang saya yakini betul bahwa kalimat polos ini saya dengar di salah satu acara talkshow di televisi swasta.

Pemerintah dan Pemerintahan kian lama kian asing keberadaannya di tengah-tengah kita. Bukannya karena kedua hal ini menjadi barang langka seperti halnya solar, beras dan minyak tanah. Namun karena sentuhannya semakin lama semakin menghilang. Ronanya sendiri tidak kabur dalam pandangan kita. Tampak jelas dan vulgar di televisi dan koran-koran. Suaranya pun masih terdengar lantang di radio-radio. Namun kehadirannya semakin lama semakin tidak kita rasakan.

Entah ini gejala yang baik atau tidak, saya akan mencoba memandang dari sisi positif saja. Cobalah tengok dan amati sekitar kita. Bangsa kita kian hari kian menjelma menjadi bangsa yang mandiri. Peduli setan dengan krisis moneter, krisis sosial, konflik etnis, konflik agama, harga minyak dunia, pergantian presiden dan gubernur, perubahan iklim dan krisis pangan dunia, Bangsa Indonesia masih tetap hidup. Semakin melarat namun semakin kuat.

Anda tentu masih ingat dengan ramalan pakar-pakar ekonomi di barat sana, ketika krisis ekonomi menerpa sebagian negara-negara Asia Timur dan Tenggara. “Lihat Indonesia, 40 juta bayi dan balita akan mati disana!” Abracadabra, apa yang terjadi? Anda bisa lihat sendiri. Bayi, Balita dan Bangsa Indonesia masih tetap hidup sampai saat ini. Ya, saya juga tidak memicingkan mata terhadap kasus-kasus busung lapar (maaf saya tidak pergunakan istilah versi pemerintah yaitu gizi buruk) dan kelaparan di Yahukimo, Papua, namun kalau kita mau kejam hitung-hitungan persentase, hal itu tidak akan sampai mencabut 1% nyawa populasi penduduk negeri ini.

Lihat betapa kreatifnya bangsa kita mengakali krisis pangan. Dari mulai makan bata, makan arang, makan daun sampai makan nasi aking. Sungguh, saya sedang tidak ingin mengolok-olok. Coba Anda simak apa yang terjadi di negara-negara Afrika dan Asia Tengah. Kalau Anda pernah membaca rubrik petualang Agustinus Wibowo di http://www.kompas.com yang bercerita tentang perjalanannya ke republik-republik Asia Tengah macam Afghanistan, Tajikistan dan Kyrgyztan, Anda akan ternganga melihat bagaimana reaksi rakyat negara-negara tersebut menyikapi depresi nasional dan krisis ekonomi akut.

Sungguh saya bangga menjadi orang Indonesia. Daya survivability kita sungguh tinggi. Bahkan di lingkungan expatriat kita di luar negeri cerita ini sudah melegenda. Banyak orang bangga dengan kemampuan kita menangani krisis dan bersahabat dengan krisis.

Jadi, kembali pada judul di atas, saya pikir sebenarnya masyarakat kita tidak butuh pemerintah, tidak butuh pemilu juga tidak butuh pilkada. Toh dengan hukum rimba saja orang Jakarta masih bisa tetap hidup. OK, itu kesimpulan bodoh saya saja tanpa backup analisa:mrgreen:

Any comments?