You are currently browsing the monthly archive for May 2008.

“Hai perempuan kampung! Jangan pernah kamu membayangkan akan mengawini anakku. Satu-satunya menantu yang diakui keluarga Sanjaya hanyalah Khumairah!”

Lama tidak menyimak sinetron Indonesia, tiba-tiba saya tersentak dan terperangah ketika mendengar sepotong kalimat ini dari mulut salah satu pemerannya. Sinetron apa yah yang akhirnya saya tonton juga setelah hampir 8 tahun mengharamkan jenis tayangan ini? Judulnya adalah “Munajah Cinta“. Kenal dengan sinetron ini berkat bujuk rayu adik-adik sepupu saya di rumah ketika saya pulang kampung selama 10 hari awal bulan ini. Demam film Ayat Ayat Cinta ternyata ikut menjangkiti adik-adik saya tersebut sehingga sinetron yang diklaim sebangun dengan film sukses tersebut, pun mereka anggap layak untuk ditonton. Akhirnya saya menonton juga episode pertama sinetron ini pada tanggal 4 Mei 2008, dan ketagihan :mrgreen: sampai 7 episode yaitu sampai tanggal 10 Mei 2008. Minggu berikutnya saya sudah berada di Jakarta lagi sehingga tidak sempat lagi mengikuti sinetron ini. Kesan saya, sinetron yang satu ini memang beda dengan tayangan sejenis kalaulah tidak kita anggap melawan mainstream. Tayang pada saat primetime, tontonan ini menyajikan jalan cerita yang mendekati logis dan alur yang berjalan cepat serta cukup sukses menghilangkan ciri-ciri utama yang dianut tontonan berjenis sinetron, misalnya eksploitasi kesedihan yang berlebihan, peran antagonis yang tidak masuk akal dan adegan ternganga-nganga yang bisa menyita waktu sampai 5 menit 😀

Kembali kepada kutipan diatas setelah berpanjang-panjang membahas latar belakang sinetron unik ini. Mungkin pembaca masih bingung, apa istimewanya kutipan di atas sehingga membuat saya shock dan terperangah. Tidak dinyana, pada salah satu episode yang saya ikuti pada akhir pekan lalu saya mendengar ucapan ini. “Perempuan kampung!”, frase yang sangat saya benci itu tiba-tiba muncul di sinetron yang sudah saya naikkan penilaiannya di mata saya. Ucapan sinis bernada merendahkan ini diucapkan oleh Ayu Dyah Pasha (pesinetron senior yang telah eksis di zaman serial laga tahun 90’an) dan Dwi Yan (tak kalah seniornya mengingat sudah muncul pada serial Dokter Sartika di TVRI pada 90’an). Kedua pemeran ini saya anggap telah cukup senior dan seharusnya tidak terkontaminasi penyakit menular sinetron Indonesia sekarang.

Namun apalah daya. Kartel India yang sangat berkuasa di belantara persinetronan tanah air ternyata sangat perkasa dalam menyulap istilah “kampung” menjadi berkonotasi jelek dan tercela. Mereka sukses mendogma masyarakat kita bahwa kini istilah “kampung” lekat dengan kesan bodoh dan layak di cemooh. Yang lebih dahsyat lagi sekarang mereka mengkampanyekan Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 310,026 hits
%d bloggers like this: