Apa yang Anda ketahui tentang Indonesia?

Bayangkan pertanyaan sederhana di atas diajukan kepada 10 orang responden yang tersebar di berbagai kawasan dunia. Lalu bayangkan kira-kira seperti apa jawaban-jawaban yang akan Anda dapatkan. Responden di Amerika Utara mungkin akan menyebut sarang teroris, responden di Eropa Utara mungkin akan teringat manusia pohon dan hutan belantara, responden di Afrika Barat mungkin akan terpikir pabrik garmen dan indomie sedangkan responden di Turkmenistan, Asia Tengah malah sama sekali belum pernah mendengar sebuah negara bernama Indonesia karena tidak berada di “pusat dunia” seperti negeri mereka, yah setidaknya dalam versi mereka.

Anda kecewa? Atau mungkin protes atau santai-santai saja. OK, jika Anda termasuk yang protes kali ini saya ajukan kembali pertanyaan yang sama kepada Anda. Tapi tunggu dulu, berhubung Anda merupakan rakyat yang memiliki KTP Indonesia, Anda tentu akan dengan sangat mudah mengklaim bahwa Anda tentunya sangat familiar dengan negeri Anda tercinta ini. Karena itu saya akan mengedit sedikit redaksional pertanyaannya. OK, kita mulai saja dengan 4 pertanyaan :

  1. Apa yang Anda ketahui tentang Papua, Makassar, Palembang, Sampang dan Bireun?
  2. Bagaimana jika bulan depan perusahaan menugaskan Anda ke Ternate?
  3. Anda lahir di Jakarta, terpikirkah oleh Anda untuk memilih Medan sebagai kota tempat Anda menyelesaikan kuliah S1?
  4. Saya mengajak Anda untuk berwisata minggu depan ke kawasan Danau Poso, Sulawesi Tengah, maukah Anda ikut?

Sekarang jawablah pertanyaan itu dengan jujur dengan mengetuk nurani Anda yang terdalam dan logika Anda yang tertajam. Wow, saya tidak akan begitu kaget dengan kemungkinan jawaban-jawaban Anda. Sama persis dengan ketidakterkejutan saya dengan jawaban responden-responden seluruh dunia tadi terhadap pertanyaan tentang apa yang mereka ketahui dari Indonesia.

Jawaban-jawaban bernada alergi, kebimbangan, keraguan, fantasi, asumsi atau bahkan penolakan tanpa alasan saya prediksi akan mendominasi jawaban-jawaban dari 4 pertanyaan tadi. Oh, mungkin saja Anda akan menyangkal dengan malu-malu karena respondennya adalah Anda. Nah bagaimana kalau saya ajak Anda untuk berpartisipasi aktif dalam survey kecil-kecilan saya ini. Tolong sebarkan 4 pertanyaan saya tadi ke 10 responden lainnya yang dekat dengan kehidupan Anda, dan tolong rangkumkan saya jawaban-jawabannya. Anda boleh forward kuesioner ini kepada sahabat Anda, tetangga Anda, pembantu rumah tangga Anda atau bahkan mertua Anda.

OK, sekarang bayangkan di hadapan kita telah teronggok setumpuk kertas jawaban survey atas 4 pertanyaan ini. Lalu akan kita apakan? Apakah cukup dengan geleng-geleng kepala yang tidak pegal, atau dengan menggaruk-garuk tengkuk yang tidak gatal? Atau kita akan kampanye ke seluruh pelosok Jakarta untuk mempermak citra wajah negeri tercinta?

Semua terasa impossible dan berat untuk dilakukan. Saya juga tidak akan menyalahkan responden-responden kita atas hasil kumulatif ini. Setiap opini tentu saja berasal dari informasi. Citra yang dihasilkan tergantung keakuratan data yang masuk dan kecanggihan processor yang bekerja mengolahnya. Untuk tidak berburuk sangka, saya amat sangat percaya bangsa kita yang telah lebih 60 tahun merdeka, pastinya sudah amat cerdas. Saya tidak meragukan dan menyangsikan daya analisa dan kekritisan mereka. Maka sekarang tinggal satu variabel lagi yang wajib kita dakwa, yaitu media.

Kenapa media? Ya, karena media pada zaman ini mewakili mayoritas sumber informasi. Media sekarang telah menggantikan dominasi buku-buku pelajaran IPS yang dulu menjadi hafalan kita. Bukannya saya akan men-generalisir bahwa buku-buku IPS jaman orde baru lebih baik, tapi setidaknya saya merasakan aura positif dari buku-buku dogma tersebut.

Dari buku-buku IPS saya mengidentifikasi Papua sebagai pulau kangguru bukannya ranah perang suku, dari buku-buku IPS saya mengenal Makassar sebagai bumi bersejarah orang Bugis bukannya langganan demonstrasi anarkis, dari buku yang sama saya mengenali Palembang dengan Jembatan Ampera Sungai Musi bukan sebagai langganan acara bertajuk Target Operasi.

Saya memimpikan acara dari propinsi ke propinsi di zaman TVRI hari ini bereinkarnasi dengan lebih cerdas. Kita wajib malu dengan rezim Orde Baru karena dalam aspek pencitraan negeri mereka ternyata lebih maju. Sekarang kita begitu membangga-banggakan era kebebasan dan keterbukaan informasi. Namun dengan ketidakberimbangan berita yang disajikan hanya inilah yang kita dapatkan. Wajah cela dan coreng moreng negeri ini. Saya salut dengan acara-acara bergenre Jalan-Jalan, Expedisi, dan Extrim Kuliner karena walaupun mereka tidak bertujuan mempermak wajah negeri ini, mereka telah memberikan kontribusi dalam membangun citra positif tentang Indonesia. Atau mungkin negeri ini sudah saatnya memiliki saluran khusus yang menebarkan berita baik dan optimisme? Jawabannya saya serahkan kepada Anda.

(Beberapa hari yang lalu untuk pertama kalinya kota asal saya yang saya cintai yaitu Pariaman, masuk televisi setelah sekian tahun dianggap tidak ada. Namun berita yang diangkat sungguh membuat saya miris. Konflik pengunjuk rasa pemindahan ibukota kabupaten dengan polisi. Beberapa pengunjuk rasa dipukuli polisi. Untuk pertamakalinya setelah beberapa tahun, kota asal saya masuk liputan Metro TV. Dan yang saya jumpai adalah berita ini …)