You are currently browsing the monthly archive for February 2009.

Sepuluh tahun sudah reformasi berlalu dan seperti sejarah yang sudah-sudah, euforia pun mulai terpecah. Keadaannya persis seperti tahun 1955, sepuluh tahun setelah proklamasi dan juga persis seperti tahun 1974, sembilan tahun setelah orde baru dicanangkan. Masyarakat terbagi atas kalangan kritis-apatis dan kritis-optimis. Sebagian kecil malah ada yang merindukan keadaan pra perubahan. Romantisme orde baru muncul satu persatu di tengah-tengah masyarakat, sama halnya dengan romantisme kolonialis yang tumbuh beberapa tahun setelah kemerdekaan. Manisnya kenangan lama semakin hari semakin menjadi candu kehidupan. Orang-orang mulai kalah sebelum perang, putus asa dan kehilangan cita-cita.

Gerakan apatisme massal disuarakan dan digelorakan dengan penuh semangat. Di bidang politik contohnya, tentu masih segar dalam ingatan kita tentang seruan golput massal yang kemudian ditanggapi dengan fatwa golput haram oleh sebagian ulama. Di bidang-bidang lain semisal ekonomi dan sosial nyaris tiada perbedaan. Semua dilanda kebekuan. Tiada gerakan-gerakan pencerahan yang menerobos keadaan dan berani menebar harapan. Masyarakat tersihir virus anti gombalisasi dan cenderung merespon negatif setiap ide-ide baru di ketiga bidang itu. Setiap usulan dan janji perubahan serta merta ditolak dengan alasan yang nyaris seragam, “kami sudah bosan dibohongi”.

Masyarakat yang memilih apatis sebagai cara bersikap kehilangan daya analisa untuk memilih yang buruk diantara yang terburuk. Lebih dari itu bahkan kehilangan harapan dan cita-cita.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, ketika sebagian besar dari kita sudah apatis lalu apa manfaat yang kita dapatkan. Apakah dengan tidak melakukan apa-apa dan kontra terhadap golongan yang berani berbuat dan berani menaruh harapan akan menghasilkan sesuatu? Apakah mungkin perubahan akan muncul ketika tidak ada yang bergerak? Ini adalah pertanyaan paling prinsipil yang selayaknya dijawab oleh kaum yang begitu bangga dengan keapatisannya. Ataukah mungkin kaum apatis justru tidak menghendaki perubahan sama-sekali? Tentu ini akan menjadi lebih aneh jika dihubungkan dengan sikap kritis yang juga salah satu ciri kaum apatis. Bagaimana mungkin mereka yang mengaku kritis tetapi tidak berusaha mendukung perubahan.

Dari logika di atas semakin terang ketidakjelasan posisi kaum apatis dalam dunia yang terus berubah. Mereka terjebak dalam ambivalensi yang tidak menghasilkan apa-apa. Mungkin posisi ini bukan masalah bagi mereka yang menjadi apatis karena kesadaran diri sendiri, karena seperti pilihan-pilihan hidup lainnya tentunya mereka akan bertanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil. Namun lain ceritanya bagi kelompok masyarakat yang apatis karena latah atau menjadi korban propaganda gerakan apatisme massal, mereka sama sekali tidak menyadari konsekuensi dari keputusan mereka. Alih alih menjadi agen perubahan, kelompok besar ini malah bersekutu menjadi agen kemandegan.

Berani untuk optimis

Adalah perkara yang sangat mudah untuk menjadi apatis karena kita hanya dituntut untuk tidak melakukan apa-apa. Pada konteks-konteks tertentu sikap apatis ini mirip dengan sikap berani mati sedangkan lawannya, sikap optimis merepresentasikan sikap berani hidup. Read the rest of this entry »

Advertisements

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 313,297 hits
%d bloggers like this: