Sepuluh tahun sudah reformasi berlalu dan seperti sejarah yang sudah-sudah, euforia pun mulai terpecah. Keadaannya persis seperti tahun 1955, sepuluh tahun setelah proklamasi dan juga persis seperti tahun 1974, sembilan tahun setelah orde baru dicanangkan. Masyarakat terbagi atas kalangan kritis-apatis dan kritis-optimis. Sebagian kecil malah ada yang merindukan keadaan pra perubahan. Romantisme orde baru muncul satu persatu di tengah-tengah masyarakat, sama halnya dengan romantisme kolonialis yang tumbuh beberapa tahun setelah kemerdekaan. Manisnya kenangan lama semakin hari semakin menjadi candu kehidupan. Orang-orang mulai kalah sebelum perang, putus asa dan kehilangan cita-cita.

Gerakan apatisme massal disuarakan dan digelorakan dengan penuh semangat. Di bidang politik contohnya, tentu masih segar dalam ingatan kita tentang seruan golput massal yang kemudian ditanggapi dengan fatwa golput haram oleh sebagian ulama. Di bidang-bidang lain semisal ekonomi dan sosial nyaris tiada perbedaan. Semua dilanda kebekuan. Tiada gerakan-gerakan pencerahan yang menerobos keadaan dan berani menebar harapan. Masyarakat tersihir virus anti gombalisasi dan cenderung merespon negatif setiap ide-ide baru di ketiga bidang itu. Setiap usulan dan janji perubahan serta merta ditolak dengan alasan yang nyaris seragam, “kami sudah bosan dibohongi”.

Masyarakat yang memilih apatis sebagai cara bersikap kehilangan daya analisa untuk memilih yang buruk diantara yang terburuk. Lebih dari itu bahkan kehilangan harapan dan cita-cita.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, ketika sebagian besar dari kita sudah apatis lalu apa manfaat yang kita dapatkan. Apakah dengan tidak melakukan apa-apa dan kontra terhadap golongan yang berani berbuat dan berani menaruh harapan akan menghasilkan sesuatu? Apakah mungkin perubahan akan muncul ketika tidak ada yang bergerak? Ini adalah pertanyaan paling prinsipil yang selayaknya dijawab oleh kaum yang begitu bangga dengan keapatisannya. Ataukah mungkin kaum apatis justru tidak menghendaki perubahan sama-sekali? Tentu ini akan menjadi lebih aneh jika dihubungkan dengan sikap kritis yang juga salah satu ciri kaum apatis. Bagaimana mungkin mereka yang mengaku kritis tetapi tidak berusaha mendukung perubahan.

Dari logika di atas semakin terang ketidakjelasan posisi kaum apatis dalam dunia yang terus berubah. Mereka terjebak dalam ambivalensi yang tidak menghasilkan apa-apa. Mungkin posisi ini bukan masalah bagi mereka yang menjadi apatis karena kesadaran diri sendiri, karena seperti pilihan-pilihan hidup lainnya tentunya mereka akan bertanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil. Namun lain ceritanya bagi kelompok masyarakat yang apatis karena latah atau menjadi korban propaganda gerakan apatisme massal, mereka sama sekali tidak menyadari konsekuensi dari keputusan mereka. Alih alih menjadi agen perubahan, kelompok besar ini malah bersekutu menjadi agen kemandegan.

Berani untuk optimis

Adalah perkara yang sangat mudah untuk menjadi apatis karena kita hanya dituntut untuk tidak melakukan apa-apa. Pada konteks-konteks tertentu sikap apatis ini mirip dengan sikap berani mati sedangkan lawannya, sikap optimis merepresentasikan sikap berani hidup. Optimisme adalah jalan terjal dan berliku. Didalamnya tersimpan sikap berpantang putus asa, berani mencoba dan menganalisa, percaya pada harapan dan tidak alergi terhadap kegagalan.

Bagi kaum apatis mungkin kaum optimis dianggap sebagai kaum bodoh yang tidak jera-jeranya dibohongi berkali kali. Namun sikap optimis yang paling sederhana ini yang dalam istilah saya sendiri saya sebut sebagai optimis pasif, pada hakikatnya adalah salah satu pintu menuju perubahan. Disisi lain selain kaum optimis pasif, masih ada segelintir kaum optimis aktif dengan gerakan-gerakan yang nyaris tidak terekspose. Kalau boleh jujur, pada saat ini media sangat berpihak pada kaum apatis yang teramat sering dikesankan sebagai kaum yang kritis lagi terpelajar.

Memilih untuk optimis berarti memilih untuk berani mengambil pilihan pada keadaan sulit. Percaya pada keajaiban yang mungkin muncul sebagai konsekuensi logis atas setiap pergerakan, karena keajaiban itu hanya berpihak pada kaum yang bertindak.

Negara ini dan banyak negara-negara lain didirikan oleh sekelompok orang-orang yang optimis, yang berani menyimpan mimpi dan memproyeksikannya pada rencana-rencana lalu mengimplementasikannya pada gerakan-gerakan. Apa jadinya jika kaum terpelajar kita pada era 1920-an terjebak dalam sikap apatis, mungkin saat ini kita tidak akan menemukan istilah Indonesia di peta dunia. Sikap kritis sebagai buah intelektualitas memang bermata dua, satu sisi adalah optimisme dan sisi lain adalah apatisme. Apapun yang kita pilih, kitalah yang akan bertanggungjawab atas pilihan itu.

Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum apabila kaum tersebut tidak bergerak melakukan perubahan.