“Mengapa Lagu Minang Lamo begitu dirindukan oleh para penyukanya?”

Pertanyaan sederhana yang menggelitik ini begitu menantang untuk dijawab dan dijelaskan. Setelah empat tahun lebih mengelola situs Lirik Lagu Minang Lamo perlahan-lahan saya menemukan samar-samar jawabannya.

Komunal

Kata di atas merupakan kata pertama yang terlintas di fikiran saya setelah mengamati hampir 500 lirik lagu Minang pada kurun waktu 1950-an sampai 1980-an. Lirik-lirik lagu tersebut sebahagian besar mewakili perasaan bersama orang Minang. Jarang sekali perasaan-perasaan personal yang populer pada lirik lagu zaman sekarang muncul pada kurun waktu tersebut. Bahkan untuk urusan percintaan sekalipun, setiap intrik yang dimunculkan dalam lirik lagu mengambil latar belakang yang komunal, yang dirasakan hampir semua orang yaitu masalah klasik percintaan di Ranah Minang. Apalagi kalau bukan perjodohan oleh orang tua atau tentang status sosial ekonomi yang menjadi penghalang jalan ke pelaminan. Tengoklah lirik-lirik lagu seperti Langkah Kida, Japuiklah Denai, Tasarah Mamak dan Tabuang Cinto di Umbilin sebagai perbandingan.

Perantauan

Solusi dari masalah-masalah sosial ekonomi tersebut bisa ditebak dengan gampang. Apalagi kalau bukan Marantau. Hampir semua anak Minang mengalami fase merantau ini, yang dalam lirik lagu Minang lamo terekam dengan baik. Dengan bersedih hati kampung ditinggalkan seperti yang terekam dalam lirik Tinggalah Kampuang, Kelok 44 dan KM Kurinci.

Daerah daerah tujuan perantauan ini bervariasi dari yang dekat seperti Riau hingga yang jauh seperti Jawa. Lihatlah lirik lagu Barangkek Kapa, Sinar Riau, Tanah Jao dan Tanjuang Pariuak.

Setelah sampai di perantauan nasib yang tidak kunjung baik pun menyergap. Maka berkeluh kesahlah mereka dalam lagu dan ratok, baik terang-terangan maupun dengan kiasan. Lirik-lirik lagu seperti Apo Ka Tenggang, Nasib Kabau Padati, Roda Padati dan Mangana Untuang menggambarkan suasana tersebut.

Dalam pada itu kerinduan pada kampung halaman tidak tertahankan lagi. Situasi ini tercurahkan pada lagu-lagu seperti Kampuang Nan Jauah di Mato, Minang Maimbau, Imbauan Kampuang dan Taragak.

Nostalgia dan Peristiwa

Banyak hal yang tidak dapat dilupakan oleh perantau Minang tentang kampung halamannya. Salah satunya adalah makanannya. Ya, makanan. Puluhan lirik lagu dibuat dengan mengabadikan nama berbagai macam makanan/masakan khas Minang. Tengoklah lirik-lirik Bareh Solok, Es Kuncang, Lamang Tapai, Lompong Sagu, Palai Bada, Sala Maco, Kue Mangkuak, Ondeh Ondeh, Kue Dokok Dokok, Karupuak Sanjai, Bika Si Mariana, Sala Lauak, Katupek Gulai Paku, Kue Sarabi, Nasi Ampera dan Sate Piaman.

Peristiwa-peristiwa sejarah dan politik tidak ketinggalan menyumbangkan kenangan dalam lirik lagu. Simak lirik-lirik bernuansa perjuangan semacam Mariam Tomong atau seputar peristiwa PRRI seperti Hari Pagi, Gadih Lambah, Nan Dihati dan Sabalun Tabik Matoari.

Kritik Sosial

Dalam kurun waktu sepanjang 1950-an sampai 1990-an tentulah banyak perubahan yang terjadi pada orang Minang, baik yang di Ranah Minang maupun yang berdomisili di perantauan. Ternyata orang Minang ini tidak tinggal diam menghadapi perubahan-perubahan ini. Keresahannya diungkapkan dalam lirik-lirik seperti Antahlah, Sinandi Nandi, Si Nona, Sabai Nan Aluih dan Basiginyang.

Begitulah, orang Minang yang terkenal dengan tradisi lisannya menggunakan lirik-lirik lagu sebagai kamera yang merekam segala aspek kehidupannya. Oleh karena itulah, pada saat mereka rindu terhadap ruang dan waktu di masa lampau tersebut, dengan segera mereka kembali ke dendang lama, menyenandungkan lagu-lagu Minang lamo tersebut untuk bernostalgia dengan kenangan lama.

Lirik Lagu Minang Lamo hadir dalam versi tulisan untuk lebih mengabadikan kenangan-kenangan tersebut. Semoga kehadirannya dapat bermanfaat bagi orang Minang di mana saja.