You are currently browsing the monthly archive for September 2010.

Belakangan ini marak wacana untuk memindahkan ibukota yang notabene adalah memindahkan pusat pemerintahan negara. Berbagai model pun diusulkan, contohnya Putrajaya-Malaysia atau Canberra-Australia. Para pakar yang kompeten di bidang tata kota pun sudah menghitung-hitung biayanya. Kurang lebih 50 Trilyun rupiah diperkirakan akan membuat rencana ini menjadi nyata. Soal pendanaan pun sudah dipikirkan oleh para pakar keuangan negara. Menurut mereka nominal 50 Trilyun Rupiah itu bisa dicicil selama 5 tahun anggaran APBN. Asal tahu saja 50 Trilyun rupiah itu juga setara dengan jumlah devisa yang dihasilkan para Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia selama setahun.

Pindah Ibukota?

Adalah hal yang lumrah bagi negara federal semacam AS, Australia, Canada bahkan Malaysia untuk tidak memiliki ibukota yang penuh sesak seperti Jakarta. Bandingkan dengan negara sentralistis lain seperti Perancis, Jepang dan Thailand. Tampaknya ke tiga negara ini menghadapi problem yang sama dengan Indonesia. Ibukota mereka pun multifungsi sebagaimana Jakarta: pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat hiburan sekaligus pusat pendidikan. Bedanya, mereka sudah jauh-jauh hari mempersiapkan ibukotanya untuk tetap layak ditinggali dengan membangun jaringan transportasi massal yang siap melayani warganya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia. Haruskah memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi kemacetan ibukota yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Jakarta bahkan telah berevolusi menjadi kota besar yang sangat tidak manusiawi, terutama di jam-jam kerja.

Akar Permasalahan

Jika kita merunut ke akar permasalahan, tampaklah jelas penyebab mengapa orang pergi berduyun-duyun mencari kerja dan kemudian berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Tidak lain tidak bukan adalah karena Jakarta telah menjelma menjadi “satu-satunya” pusat pertumbuhan yang sedemikian hebat menyedot SDM dari seluruh penjuru negeri. Ibarat sekarung besar gula yang tidak punya saingan, para semut pun berkerumun mengerubunginya dari segala arah.

Cobalah kita lihat Jakarta dalam aspeknya sebagai kota jasa. Hampir semua industri yang bergerak di sektor jasa berpusat di sini. Kita boleh mendata sektor Telekomunikasi, Perbankan, Keuangan, Transportasi, Lembaga Penyiaran, Perdagangan dan Pendidikan. Bahkan di kota-kota satelit Jakarta seperti Tangerang, Bekasi dan Cileungsi menjadi pusat-pusat manufaktur.

Imbas dari semua sektor yang berpusat di satu kawasan ini tentu saja adalah tersedotnya sejumlah besar manusia untuk bekerja dan mencari hidup disini. Efek turunannya tentu saja masalah perumahan dan transportasi, karena dua hal ini termasuk daftar teratas kebutuhan hidup manusia, khususnya pekerja. Efek turunan lapis kedua adalah berkembangnya sektor jasa yang lebih kecil dan sifatnya menyebar, contohnya usaha penyediaan konsumsi seperti warung tegal dan rumah makan padang. Usaha-usaha semacam ini akan mengisi setiap celah pemukiman dan perkantoran. Kebutuhan terhadap servis tenaga kebersihan dan keamanan pun melengkapi efek-efek turunan ini. Keseluruhnya berkait kelindan dalam sebuah lingkaran setan yang tidak henti-hentinya menyuplai jumlah manusia ke Ibukota.

Silicon Valley

Pernahkah anda mendengar Silicon Valley di AS atau Hyderabad di India? Kedua kota ini merupakan kota-kota baru yang dibentuk untuk memusatkan satu jenis industri (dalam hal ini Teknologi Informasi) sekaligus menampung para pekerja di bidang tersebut.

Bayangkan jika Indonesia punya sekian Silicon Valley yang tersebar di pulau-pulau utama. Masing-masing Silicon Valley ini diperuntukkan khusus untuk satu atau dua sektor industri. Sebagai contoh, kita bisa memusatkan sektor Telekomunikasi di Bandung, sektor Keuangan di Medan, sektor Perbankan di Makassar, Hiburan dan Penyiaran di Palembang, dsb. Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 76 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 305,866 hits
%d bloggers like this: