You are currently browsing the monthly archive for January 2013.

Saya terpaksa menulis artikel ini karena merasa terpanggil untuk meluruskan opini-opini tak berdasar tentang Minangkabau yang disajikan secara sporadis oleh seorang pencari sensasi seperti Sutomo Paguci. Yang bersangkutan katanya tinggal di Padang dan merasa amat paham tentang dinamika masyarakat Minangkabau sehingga dengan pedenya mengatakan sikap penolakan masyarakat Minangkabau atas film Cinta Tapi Beda adalah karena etnik ini berada dalam cengkraman pola pikir wahabisme. Yang bersangkutan menambal bualannya dengan beberapa sumber yang kemudian dijahit secara compang-camping agar terasa ilmiah. Logika yang hendak dia bangun adalah “Minangkabau dahulunya beradab , kemudian datang paham Wahabi dari tanah Arab, yang kemudian mengubah orang Minang menjadi radikal, biadab dan intoleran seperti ditunjukkan dalam kasus penolakan CTB”. Sebagai seorang pencari sensasi, yang bersangkutan boleh saja berjualan seperti tukang obat, namun orang lain yang tahu faktanya tentu tidak sedikit. Ada ribuan orang yang saat ini mengkaji sejarah Minangkabau dan Perang Paderi. Mereka membuka dan membaca literatur-literatur sejarah dengan serius dan ilmiah, menelusuri sumber-sumber primer di lapangan dan bekerjasama dengan para filolog di Universitas Leiden Belanda. Tentu kapasitas mereka lebih dari cukup bila dibandingkan dengan seorang halusinator semacam Sutomo Paguci.

Berikut saya coba menyajikan secara singkat saja point-point penting tentang Islam, Perang Paderi dan isu Wahabisme di Minangkabau. Jika ingin mengetahui lebih detail saya akan pecah menjadi topik-topik tulisan jika diperlukan. Penjelasan dibawah ini bukan semata opini saya namun berangkat dari hasil kajian sejarah yang dilakukan para aktivis sejarah Minangkabau dari kalangan akademisi dan praktisi pada beberapa grup diskusi. Read the rest of this entry »

Image

Kalau anda sering memperhatikan, dalam dua tahun belakangan ini semakin banyak wajah-wajah bangsa asing yang berkeliaran di Indonesia, khususnya di seputaran Jabodetabek. Dari cara berpakaiannya tampak jelas mereka bukan turis. Mereka berpakaian ala karyawan kantor di Indonesia. Sebagian masih membiasakan diri memakai jas, namun sebagian besar telah menyesuaikan diri dengan kemeja lengan pendek tipis, tanpa dasi dan berbusana batik pada hari-hari tertentu.

Mereka pun naik busway, kopaja, ojek bahkan kadangkala angkot sekelas mikrolet. Mereka pun makan ditempat orang Indonesia makan, bukan di restoran sebagaimana layaknya ekspatriat. Sejauh yang mereka mampu mereka menyesuaikan diri dengan kaum pekerja lain yang mencari makan di Jakarta. Tidak alergi dengan macet, hujan, becek dan segala macam kesemrawutan ala Jakarta lainnya.

Pada akhir pekan mereka semakin mudah ditemukan di pusat-pusat perbelanjaan, bersama keluarga mereka. Bukan hanya di mall-mall pusat kota namun dapat dengan mudah ditemukan di Cibubur, Bekasi, Karawaci bahkan Bogor dan Depok. Mereka datang dari berbagai ras dan penjuru dunia. Yang tampak sangat signifikan peningkatannya adalah orang India, kemudian ras Kaukasia dengan beragam macam bahasa. Tidak sedikit pula orang Timur Tengah yang doyan pergi ke Bioskop dan Mall-mall, dari yang kemungkinan berasal dari negara Arab Teluk dengan kebiasaan bercadar dan berbelanja secara berombongan dengan pakaian hitam-hitam, sampai yang kemungkinan berasal dari negara Arab Levant (Syria, Lebanon) yang lebih terbuka, mereka biasanya berbicara dengan volume agak keras dan berpakaian ala bule, laki-laki dan perempuan.

Beberapa bangsa keturunan Afrika pun semakin mudah ditemui sekarang di kawasan perkantoran. Kalau dulu memang mereka rata-rata terkonsentrasi di Tanah Abang, berniaga pakaian dan garmen serta sesekali narkoba, kebanyakan dari negara-negara Afrika Barat semacam Ghana dan Nigeria. Sebagian mereka ada juga yang berprofesi pemain bola impor yang dengan mudah terlihat di Senayan. Namun orang kulit hitam di kawasan perkantoran ini lebih berciri African American, terlihat dari logat bahasa Inggris yang digunakan dan selera berpakaian.

Kalau kita lebih jeli lagi, kita bisa mendengarkan bermacam-macam bahasa sekarang ketika berpapasan dengan sekelompok orang kulit putih, atau secara tak sengaja mendengar mereka sedang menelepon. Bahasa Italia dan Spanyol kerap terdengar, serta beberapa bahasa yang tidak begitu saya kenali, mungkin saja Russia, Turki atau Yunani. Sedangkan bangsa-bangsa Asia Timur mungkin kita tidak begitu menyadari tingkat keasingannya karena ciri mereka yang hampir sama dengan saudara-saudara kita etnik Tionghoa Indonesia. Sesekali mungkin kita bisa identifikasi bahwa mereka ternyata orang Jepang atau Korea. Perlu diketahui orang Korea masih merupakan bangsa asing dengan populasi terbanyak di Indonesia, bisa dibuktikan dengan banyaknya restoran komunitas milik mereka.

Fenomena apakah sebenarnya ini? Apakah semakin memburuknya kondisi ekonomi di Benua Eropa telah meningkatkan aliran pekerja asing ke Indonesia? Orang-orang asing ini sekarang ada dimana-mana, hampir di setiap gedung perkantoran dengan bermacam-macam bidang industri. Jikalau dahulu mungkin hanya di sektor telekomunikasi dan manufaktur, sekarang bidang perbankan, marketing, media, pendidikan, perdagangan dan lain sebagainya telah dimasuki oleh mereka.

1131122p

Mungkin kita boleh bangga atas diliriknya Indonesia khususnya Jakarta sebagai kota ekonomi dunia yang cukup ramah dan aman bagi para ekspatriat. Namun sedikit banyaknya tentu kita khawatir pula akan berkurangnya lapangan pekerjaan bagi anak bangsa sendiri. Saat ini sebenarnya tidak ada perbedaan skill yang cukup signifikan antara orang asing dan orang Indonesia. Masalah penguasaan bahasa Inggris yang pada beberapa dekade yang lalu menjadi pengganjal bagi orang Indonesia, sekarang sudah tidak menjadi kendala lagi. Generasi kelahiran 1990an dan 1980an akhir sangat fasih berbahasa Inggris. Saat ini mereka sedang mengantri memasuki dunia kerja baik di pasar domestik maupun internasional. Inilah bonus demografi yang saat ini dimiliki Indonesia yang seharusnya dapat dikapitalisasi untuk mempercepat kemajuan bangsa.

Namun mampukah mereka bersaing dengan para ekspatriat yang semakin membanjiri pasar kerja dalam negeri. Bagaimana cara yang baik dan elegan untuk menyikapi hal ini? Saya tunggu komentar, saran dan cerita anda.

 

Salam Damai Indonesia.

PPL2014

KPU akhirnya mengumumkan bahwa Pemilu Parlemen 2014 hanya akan diikuti oleh 10 partai politik saja. Mereka adalah 9 partai pengisi parlemen saat ini yaitu Demokrat, Golkar, PDIP, Hanura, Gerindra, PAN, PPP, PKS dan PKB – ditambah dengan sebuah partai politik baru yaitu Partai NasDem. Walau demikian KPU masih menerima keberatan dari partai-partai yang tidak lolos verifikasi faktual dengan mempersilahkan mereka mengajukan keberatan ke Bawaslu.

Otomatis keputusan KPU ini menyingkirkan beberapa partai kecil namun cukup kuat seperti Partai Bulan Bintang, Partai Damai Sejahtera dan PNBK. Selain itu partai baru seperti Partai SRI juga harus membuang harapannya untuk membuang suara.

Sistem multipartai memang merupakan salah satu konsekuensi dari demokrasi. Tujuan utamanya adalah bagaimana semua rakyat merasa terwakili di parlemen yang pada akhirnya diharapkan dapat efektif menyuarakan aspirasi mereka. Namun terlalu banyak partai juga tidak efisien lantaran isu yang mereka bawa tidak terlalu berbeda juga. Logikanya penyederhanaan jumlah partai tentu diharapkan dapat menjadi solusi yang menengahi antara efisiensi biaya politik dan hakikat demokrasi itu sendiri.

Namun sudah bijakkah penyederhanaan dengan sistem seleksi ini? Sudah adil dan demokratiskah? Sudah mewakili representasi rakyat kah 10 partai ini? Ini yang perlu kita kaji lebih dalam.

10 Partai Politik yang lolos seleksi ini pada hakikatnya dapat kita golongkan menjadi 4 partai saja berdasarkan tinjauan ideologis dan historis:

  1. Partai Ultranasionalis yaitu PDIP dan Gerindra
  2. Partai Nasionalis Tengah yaitu Golkar, Demokrat, Hanura dan NasDem
  3. Partai Islam eks PPP yaitu PAN, PKB dan PPP sendiri
  4. Partai Islam Transnasionalis yaitu PKS

Secara kasat mata terlihat mereka adalah pemain-pemain lama di masa orde baru yaitu pecahan dari PDI, Golkar dan PPP. PKS dikatakan tidak termasuk golongan 3 partai lama karena partai ini awalnya dilahirkan oleh aktivis Lembaga Dakwah Kampus (Usroh) yang selama orde baru belum berani terjun ke dunia politik praktis.

Jadi secara Ideologis 10 partai itu hanya mewakili dua aliran yaitu Islam dan Nasionalis. Pada kenyataannya masih ada ceruk ideologis lain yang belum terwakili yaitu Partai Kristen dan Partai Liberal.

Namun apakah penggolongan Ideologis ini tidak terlalu kuno, sedangkan abad 21 yang kita jalani sekarang sudah lama meninggalkan abad Ideologis yaitu paroh pertama abad 20 yang ditandai dengan bangkitnya ideologi Kapitalisme, Sosialisme, Marxisme dan Nasionalisme. Abad 21 adalah abad yang borderless, fokusnya adalah ekonomi dan lingkungan, walaupun di beberapa sudut dunia isu sektarian masih dianggap relevan.

Diluar aspek Ideologis masih ada alasan lain bagi manusia untuk berserikat dan berkumpul, diantaranya aspek profesi dan aspek agenda. Contohnya adalah Partai Pekerja dan Partai Hijau. Agenda partai aliran non-ideologis ini lebih praktis dan menyentuh kebutuhan dasar bumi dan manusia. Namun kenapa Indonesia masih tertinggal dalam hal ini. Lebih 60 tahun merdeka kita masih melestarikan politik aliran yang tidak menjawab kebutuhan.

Seharusnya 10 Partai peserta pemilu itu cukup disederhanakan menjadi:

  1. Partai Ultranasionalis
  2. Partai Nasionalis Tengah
  3. Partai Islam Nasionalis
  4. Partai Islam Transnasionalis
  5. Partai Kristen
  6. Partai Katholik
  7. Partai Liberal
  8. Partai Pekerja (Partai Buruh)
  9. Partai Hijau
  10. Partai Sosialis

Bagaimana menurut Anda?

1357584305534776925

Provokatif kah judul artikel diatas? Bisa ya bisa tidak, tergantung dari mana anda menilainya, kalau saya sebagai free thinker menganggapnya biasa saja. Nanti anda juga tahu apa sebenarnya yang saya maksud. Bernuansa SARA-kah artikel ini? Oh jelas, kalau soal ini saya tidak akan menafikannya. Tapi barangkali kita semua sepakat bahwa masalah SARA itu justru harus dibahas secara terbuka sehingga kita bisa saling menerima dan saling memahami satu sama lain yang akan berbuah toleransi dan saling menghargai. Percuma juga kan kalau alergi ngomongin SARA terang-terangan namun saling hujat dengan bahasa tidak terpelajar di forum-forum komentar.

Baiklah, sekian pembukaan artikelnya, semoga tidak ada yang kaget lagi. Sekarang saya beranjak kepada isi cerita, yaitu fenomena yang menghebohkan banyak masyarakat Minangkabau baik di Sumatera Barat maupun di seantero dunia perantauan mereka baik di dalam maupun di luar negeri.

Masyarakat Minangkabau tiba-tiba gempar dalam dua minggu belakangan ini. Mereka berkicau di hampir semua forum dan kanal social media tentang sebuah film yang meresahkan mereka. Cinta Tapi Beda, karya terbaru sutradara Hanung Bramantyo dan produser Raam Punjabi telah membuat masyarakat Minangkabau tersentak. Mereka merasa zona nyamannya telah diusik dengan semena-mena oleh Hanung dengan alasan kebebasan berekspresi. Bagaimana bisa?

Penyebabnya adalah keberadaan salah satu tokoh utama dalam film itu yang bernama Diana, seorang gadis asal Padang yang merupakan penganut Katholik taat dan berwajah sangat Indonesia. Tokoh ini muncul dengan simbol-simbol arsitektur Minang yaitu Rumah Gadang, dialek Minang dan nuansa lain yang dibangun seolah-olah dia adalah gadis dari etnik Minangkabau. Hanya saja dia tidak beragama Islam sebagaimana jamaknya etnik Minangkabau. Diana beragama Katholik dan dibesarkan oleh keluarga yang gemar makan hidangan babi rica-rica.

Sebenarnya Hanung mungkin sadar juga untuk bermain api karena dia menggunakan istilah gadis asal Padang bukan gadis Minangkabau. Apa bedanya? Nah ini dia. Bagi orang di luar Sumatera Barat, Padang dan Minangkabau adalah hal yang identik, bahkan sebagian besar perantau Minangkabau sudah menerima saja diidentifikasi sebagai orang Padang (istilah yang sebenarnya salah kaprah). Namun bagi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, orang Padang belum tentu berasal dari etnik Minangkabau. Ia bisa saja etnik Tionghoa, etnik Nias, etnik Mentawai, etnik Batak, etnik Arab dan bahkan etnik India (Keling). Orang Minangkabau tidak terlalu mengurusi agama yang dianut oleh etnik-etnik selain Minangkabau itu. Padang adalah kota multi etnik dengan tingkat toleransi antar etnik dan agama yang cukup baik. Orang Tionghoa biasanya beragama Katholik, Protestan atau Konghucu dan Buddha. Sedangkan Nias dan Mentawai rata-rata beragama Protestan. Sedangkan India beragama Hindu dan Islam. Kalau orang Minangkabau? Jangan ditanya, mereka akan menjawab 100% Islam.

Mungkin etnik lain akan mempertanyakan, masa iya bisa dijamin kalau Minangkabau itu 100% Muslim. Jawabnya adalah konsep yang dianut masyarakat Minangkabau itu yang mengkaitkan etnisitasnya dengan agama Islam, dalam bahasa mereka “Adat bersendi syariat, Syariat bersendi Al-Qur’an (ABS-SBK)”. Konsep yang mereka anut ini membawa konsekuensi bahwa setiap orang Minangkabau yang keluar dari agama Islam, tidak dianggap orang Minangkabau lagi secara adat, walaupun secara genetik ia masih 100% Minangkabau. Hak-hak adatnya akan gugur, warisannya akan hilang dan dia dibuang dari keluarga. Kejam? Boleh saja anda berpendapat begitu, namun itulah keputusan bersama masyarakat Minangkabau secara musyawarah mufakat, dan ketentuan ini sudah mendarah daging bagi mereka. Minangkabau itu harus Islam, bukan Islam sudah pasti bukan Minangkabau. Sejak awal terciptanya etnis Minangkabau memang tidak mendasarkan dirinya kepada keturunan (genealogis) namun kepada konsep ideologis yang disebut Adat, yang pada kemudian hari mendapat unsur baru yaitu agama.

Inilah realita psikologi sosial yang diamini oleh masyarakat Minangkabau. Dalam komunitas negara yang bernama Indonesia ini tentunya orang Minangkabau berhak untuk diakui keunikannya ini sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Mereka tentu berharap orang di luar etnik Minangkabau memahami hal ini dan menghargai, sebagaimana mereka menghargai komunitas lain.

Batas inilah yang dilangkahi oleh Hanung Bramantyo yang dengan sembrono mengkampanyekan hal-hal yang bertentangan dengan psikologi sosial masyarakat Minangkabau. Wajar saja mereka protes keras bahkan terakhir sudah mengajukan gugatan hukum. Sejatinya orang Minangkabau itu cukup toleran, jarang terdengar ada konflik agama dan etnik di Ranag Minang. Mungkin mereka tidak akan terlalu perduli dengan tema-tema film Hanung seperti “tanda tanya” atau tema-tema nikah beda agama. Tetapi ketika Hanung sudah mengacak-acak dan tidak menghormati konsensus budaya mereka, apalagi Hanung ini bukan orang Minang, maka mereka serempak bersuara.

Kasus Hanung ini merupakan pelajaran yang bagus dan ujian bagi pluralitas dan kebebasan berpendapat di Indonesia. Setiap kebebasan itu haruslah disertai tanggung jawab. Untuk apa kita bebas-bebasan namun malah merusak kedamaian. Realitas sosial boleh diangkat dan tidak baik juga untuk ditutup tutupi, namun kebohongan sosial tentu tidak dapat diterima akal sehat. Di atas semua itu sikap saling memahami, saling menghargai dan saling menerima adalah kunci bagi tetap merekatnya hubungan kita sebagai sebuah bangsa yang sedang berproses.

Untuk Hanung, semoga kedepan semakin bijaksana dan cerdas melakukan analisa. Membuat film Perempuan Berkalung Surban mungkin boleh-boleh saja, tapi Minangkabau Berkalung Salib? Ehm, sebaiknya jangan dicoba.

Salam Damai Indonesia.

Banyak yang bertepuk tangan gembira ketika mendengar berita penangkapan, penggerebekan atau penembakan teroris yang dilakukan oleh Densus 88. Wajar saja karena sebagai masyarakat umum yang cinta kedamaian dan ketenangan, berita ini tentu saja membawa sedikit rasa nyaman dan aman. Bahkan berlaku semacam ketentuan tak tertulis di masyarakat, barangsiapa merasa bersedih atau sinis, layak dituduh mendukung terorisme atau jangan-jangan dia simpatisan teroris secara diam-diam, atau malah terlibat aktif mendanai kegiatan sel-sel teroris atau bagian dari sebuah jaringan teroris terorganisir.

Namun apakah aksi-aksi itu tetap akan membuat kita gembira pula jika pada sebagian prosesnya ternyata menempuh cara-carat tidak beradab dan penuh rekayasa. Sebagai manusia yang bermartabat seharusnya kita terganggu dengan hal itu. Saya sengaja menulis hal ini dengan konsekuensi akan dituduh mendukung teroris, JAT atau FPI di kemudian hari. Tak apalah, saya sudah terbiasa kok dituduh tuduh.

Pada banyak kasus, tindakan satuan densus ini sering membuat hati miris dan tak jarang menimbulkan keprihatinan. Dalam sudut pandang saya, terorisme itu sama dengan kejahatan-kejahatan yang lain. Para terduga berhak mendapatkan proses hukum yang adil, sedangkan para pemirsa berhak mendapatkan berita yang benar dan jernih. Jangan ada dusta diantara kita.

Namun kenyataannya berapa sering kita dengar pemberitaan salah tangkap karena alasan yang tidak bisa diterima akal. Sebuah kesatuan yang katanya dididik oleh para intelijen ternyata tidak cukup intelligent untuk membedakan teroris dengan ustadz dan aktivis masjid. Asal bercadar, berjenggot, bergamis, berwajah arab dan atau sedikit introvert dengan gampang masuk dalam kategori terduga teroris.

Berapa banyak yang ditembak mati tanpa sanggup bicara lagi. Berapa banyak berita yang kita dengar hanya dari pihak polisi saja. Adakah wartawan disana seperti proses penggerebekan Azhari dan Noordin M Top. Adakah dokumentasi yang bisa disaksikan oleh publik dan pengadilan? Nyaris tidak ada sama sekali. Sekali densus bersaksi bahwa korban penembakan adalah teroris, kita sebagai masyarakat wajib percaya. Berani mempertanyakan aksi mereka, maka kita akan dengan mudah dibidik sebagai simpatisan teroris.

Apakah tidak ada cara lain untuk melumpuhkan teroris selain menembak mati? Apakah tidak ada semacam peluru bius dosis tinggi sehingga mereka cuma pingsan dan kita masih bisa sama-sama melihat pembelaan mereka di pengadilan. Kenapa berita tentang mereka harus kita telan bagaikan dogma?

Berikut saya coba sajikan berita-berita yang saya ingat tentang betapa over actingnya densus selama dua tahun ini:

  1. September 2010. Seorang ustadz di Tanjung Balai, Sumut bernama Khairul Ghazali menolak untuk mengangkat tangan tanda menyerah atas perintah densus. Alasannya dia sedang mengimami shalat Maghrib. Tentunya perintah Tuhan harus didahulukan atas perintah manusia. Densus tidak mau terima dinomorduakan dari Tuhan. Imam yang sedang shalat ini diterjang dan diinjak-injak dibagian dada ketika sedang shalat. Dia kemudian ditahan, dan seminggu kemudian dibebaskan karena tidak terbukti terkait jaringan teroris.
  2. November 2011, seorang ustadz di Jember, Jatim tak sengaja menyerempet polisi mabok. Polisi ini kemudian naik pitam dan mengejar lalu menembaknya sampai mati. Cerita kemudian direkayasa kalau ustadz ini disangka mau merampok. Sebuah clurit dicari kemudian untuk dijadikan barang bukti. Namun cerita fitnah yang busuk ini kemudian terungkap. Polisi durjana ini hanya dihukum mutasi.
  3. Desember 2012, 14 petani penggarap ladang ditepi hutan ditangkap densus dengan tuduhan teroris. Mereka disiksa, dipukuli, diinjak-injak dan disekap selama berhari-hari. Pada akhirnya mereka tidak terbukti terlibat. Namun media sudah mendakwa mereka sebagai teroris dalam berita.

 

Masih banyak cerita lain soal salah tangkap dan salah tembak. Sebagian beruntung terekspos ke media, sebagian tenggelam dan ditutup-tutupi. Kontras mengatakan, kejadian ini tidak sekali dua, nyaris berulang setiap tahunnya. Adakah keadilan bagi orang-orang seperti mereka. Mereka mati dan tak dapat bicara. Namanya hina dalam berita. Keluarganya dirundung fitnah dan dianggap sampah. Bukankah ini akan menimbulkan lingkaran sakit hati yang baru yang dapat saja berbuah dendam di masa depan. Lalu menciptakan teroris jenis baru, bukan teroris ideologis namun teroris karena dendam. Yang pasti bagi densus, kedua golongan ini tak ada bedanya, walaupun golongan kedua adalah karya cipta mereka sendiri.

Mungkin masih belum terlambat untuk memperbaiki keadaan. Masyarakat berharap densus melakukan tugas dengan penuh kebijakan, bersikaplah intelijen jangan seperti preman. Dan bagi korban-korban yang sudah tak dapat bicara ini, ungkaplah siapa mereka. Darimana mereka, sejauh apa mereka terlibat, seperti apa kronologi penghilangan nyawa mereka. Apa yang membuat mereka diduga teroris. Masyarakat ingin tahu.

Jangan anggap remeh kasus ini. Suatu saat anda bisa menjadi korbannya. Bisa saja anda berniat pergi pengajian malam-malam, namun karena menurut seseorang anda berciri-ciri teroris, mati lah anda tertembak malam itu. Dan esok pagi anda sudah dikenal sebagai teroris. Sayang anda tak dapat bicara lagi. Anda tentu masih ingat, dua hari yang lalu ada dua orang “teroris” yang mati ditembak di teras masjid.

 

 

mass

Bagi sebagian orang Indonesia, kelas-kelas motivasi yang marak diselenggarakan akhir-akhir ini menjadi sebuah pemuas dahaga akan mimpi dan ambisi. Kelas-kelas ini begitu bertaburan dimana-mana, bagaikan cendawan di musim hujan. Berbagai tema untuk meraih KESUKSESAN ditwarkan dengan berbagai rasa dan varian. Tentu saja yang paling laris adalah tema-tema seputar kesejahteraan finansial, kemapanan tanpa modal, kemampuan manajerial dan tidak ketinggalan kesalehan emosional dan spiritual.

Paket-paket yang ditawarkan dari kelas-kelas motivasi yang kurikulumnya tidak bisa diintip ini dipercaya menjadi anak tangga dalam menggapai kesuksesan. Kesuksesan itu dipercaya telah amat dekat, bahkan tak jauh didepan mata, sedekat teriakan Selamat Pagi hingga Salam Zuppperr.

Konsumen kelas-kelas motivasi menjadi semakin percaya bahwa kesuksesan telah di depan mata dengan melihat langsung figur sang motivator. Beberapa dari mereka mungkin bermimpi pula menjadi motivator suatu saat nanti. Motivator adalah simbol manusia paripurna yang sukses secara multidimensi, yang sabdanya layak diikuti bahkan dengan mengeluarkan sejumlah uang yang disebut investasi.

Mengapa motivator semakin sukses dan sukses (baca: semakin kaya)? Tidak terpikirkah dari mana sumber kekayaan mereka yang mereka pamerkan kepada anda sebagai inspirasi itu. Jawabnya tentu sangat sederhana. Andalah yang menjadi sumber kesuksesan mereka. Andalah sesungguhnya yang menjadi angsa-angsa emas yang telurnya mereka pungut.

Tidak percaya? Mari saya berikan sebuah ilustrasi nyata.

Bayangkan seorang motivator membuka sebuah kelas pelatihan holistik (katakanlah begitu namanya). Paket pelatihan ini akan mereka tawarkan dengan harga 20 juta dimana didalamnya terdapat sebuah jenjang program yang terdiri dari 2x ceramah, 2x coaching dan 1x business gathering. Kegiatan ini akan diselesaikan dalam waktu 2 tahun dimana jadwalnya akan ditentukan sendiri oleh lembaga kepunyaan motivator.

Biaya 20 juta ini wajib disetorkan didepan dengan alasan untuk komitmen belajar, dan ditambah dengan iming-iming uang investasi akan dikembalikan 100% pada akhir pelatihan, dengan kondisi tertentu misalnya prestasi terbaik. Pada kenyataannya ada juga biaya pelatihan yang tidak dikembalikan 100%.

Kemanakah uang 20 juta per peserta ini perginya? Dengan cerdiknya sang motivator memutarkan uang ini pada berbagai instrumen keuangan, baik yang beresiko rendah maupun beresiko tinggi. Salah satu contoh penggunaan uang yang termasuk beresiko rendah ini adalah dengan mengikuti program jual beli emas batangan yang diselenggarakan sebuah agen internasional. Sebut saja GT**

Biaya pelatihan yang dikumpulkan dari peserta ini akan mereka jadikan modal penyertaan untuk membeli emas batangan dari PT. Antam lewat agen ini. Sang agen akan membeli emas dengan harga normal namun karena kepiawaiannya dalam memproses emas batangan menjadi perhiasan, agen mengaku bisa meningkatkan harga emas per kilogram dari 540 juta  menjadi 700 juta. Selain itu agen juga mengaku bahwa mereka memperoleh keuntungan dari selisih harga emas regional dan karena membeli langsung dari pabrik dengan diskon 20%. Efisiensi yang mereka lakukan dalam proses distribusi emas perhiasan ke konsumen juga menambah pundi-pundi keuntungan mereka, ditambah lagi selisih keuntungan yang diperoleh dari penjualan emas yang sebenarnya sudah mereka timbun sejak 5 tahun yang lalu.

Dengan skema ini si agen berani memberikan pengembalian bonus berupa cash back sebanyak 2% sampai 5% perbulan kepada pemodal mereka dalam hal ini para motivator dan lembaga training center mereka. Setelah satu tahun modal yang disetorkan motivator akan dikembalikan (tergantung perjanjian awalnya).

Bayangkan berapa modal yang diraup oleh sebuah lembaga training dari penyelenggaraan kelas-kelas motivasi semacam ini. Pantaslah mereka semakin sukses dan semakin kaya. Uang mengalir masuk tanpa henti dan berkembang biak dengan investasi yang mereka lakukan.

 Tentunya tidak semua lembaga training memiliki modus pembiayaan seperti ini, namun dengan skema keuntungan yang ditawarkan pedagang emas tadi, motivator mana yang tidak tergiur?

muss

Mungkin ini merupakan artikel yang kesekian kalinya soal Dahlan Iskan yang muncul di Kompasiana dalam dua hari terakhir ini. Tapi saya masih tertarik untuk mencoba mengulasnya dari sudut pandang yang agak berbeda, yaitu “dari sudut pandang Dahlan Iskan sendiri”. Bagaimana bisa? Ya gampang, tinggal kita baca saja rekam jejak yang bersangkutan lalu kita konfrontir kata dengan tindakan nya.

Kita mengenal Dahlan Iskan sebagai sosok yang lahir dari kalangan pesantren. Walaupun tidak mengaku religius-religius amat namun tokoh yang mendaulat dirinya sendiri sebagai sosok inklusif ini pada kenyataannya sering menggunakan istilah-istilah agama (Islam) dalam tulisan-tuliannya di koran. Tidak tanggung-tanggung kadang menerobos sampai wilayah fiqih dan aqidah, suatu tema sentral dalam ilmu keagamaan.

Salah satunya soal “musyrik”. Dalam Islam, musyrik didefinisikan sebagai tindakan mempersekutukan Tuhan atau menolak keesaan Tuhan. Dahlan sempat menulis artikel berjudul “Neraka Dari Manajemen Musyrik”. Ummat Islam tentu semuanya paham bahwa konsekuensi dari tindakan musyrik ini adalah neraka, karena jelas-jelas memproklamirkan diri menentang Tuhan.

Namun uniknya yang dituduh musyrik oleh Dahlan Iskan ini adalah sebuah perusahaan BUMN yaitu PT Angkasapura II yang mengelola Bandara Soekarno-Hatta. Bagaimana bisa? Artikel lengkapnya bisa anda baca disini. Singkat cerita yang dimaksud musyrik oleh Dahlan Iskan adalah sikap mendua dan tidak fokus yang ditempuh perusahaan ini dan beberapa perusahaan BUMN lain, namun dalam hal ini tentu saja bukan Tuhan yang diduakan (disyirik-kan) namun visi dan misi perusahaan. Kata Dahlan “dalam bahasa agama, “tidak fokus” berarti “tidak mengesakan”. “Tidak mengesakan” berarti “tidak bertauhid”. “Tidak bertauhid” berarti “musyrik”. Memanfaatkan idle capacity di satu pihak sangat ilmiah, di pihak lain bisa juga berarti godaan terhadap fokus. Saya sering mengistilahkannya “godaan untuk berbuat musyrik”. Padahal, orang musyrik itu masuk neraka. Nerakanya perusahaan adalah negative  cash flow, rugi, dan akhirnya bangkrut”

Menarik juga pemikiran Dahlan yang mengambil analogi dari istilah musyrik ini. Namun yang terjadi dalam dua hari terakhir ini sungguh diluar pakem yang dianut oleh Dahlan selama ini. Entah punya maksud mencontohkan praktek dari konsekuensi musyrik, bukan hanya sekedar teori Dahlan menerapkan praktek kemusyrikan ini dalam pengertian sebenar-benarnya, bukan hanya analogi. Barangkali dia mencoba jalan yang pernah dilakukan seorang dosen kriminologi bernama Mulyana W Kusumah, anggota KPU pada tahun 2004.

Dahlan Iskan yang terkenal logis dan rasional tiba-tiba bersekutu dengan tokoh mistis nan paranormal. Ya, entah bercanda atau ada alasan lain, Dahlan merancang suatu upacara ruwatan yang tentu saja masuk dalam kategori kegiatan syirik untuk “menjaminkan” keselamatan mobil Ferrari Tuxaci seharga milyaran kepada selain Tuhan.

Seperti yang ditulis dan diyakini Dahlan sendiri, konsekuensi musyrik tentunya neraka. Tentunya saat ini Dahlan sedang manggut-manggut apakah dia telah mendapatkan nerakanya. Mungkin dia sedang tertawa, karena bisa saja dia hanya pura-pura musyrik sehingga mendapat konsekuensi neraka yang bukan sebenar-benar neraka. Wallahualam. Hanya Tuhan dan Dahlan yang tahu.

 

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 310,026 hits
%d bloggers like this: