dakwah

Dakwah PKS : Antara Sensasi dan Halusinasi

Seorang perempuan berjilbab lebar masuk ke kandang banteng untuk ‘berdakwah’ kemudian lari keluar terbirit-birit sambil diuber pakai golok oleh penghuni kandang. Hmm … cerita yang aneh.

Namun ini bukan cerita khayalan bagi para kader PKS, karena cerita diatas sungguh-sungguh terjadi dan bisa lebih dari satu kali. Atas nama dakwah, kader-kader tersebut (bahkan perempuan, seorang diri pula, tanpa mahram) berani masuk ke kantor-kantor DPC PDIP untuk ‘mendakwahkan’ partainya atau dalam bahasa mereka direct selling. Kok bisa yah? Ya bisa donk, itulah hebatnya ‘dakwah’.

Dakwah bagi PKS bisa jadi menjadi istilah sakral sebagaimana Pancasila bagi Indonesia dan syahadat bagi Islam. Mereka punya dalil bahwa tiap-tiap manusia (muslim) itu memiliki kewajiban dakwah, dan salah satunya adalah yang mereka geluti, yaitu dakwah siyasiyah (berpolitik praktis). Atas nama dakwah dalam pemahaman kader PKS, maka demonstrasi itu adalah jihad, kampanye adalah jihad, bakti sosial mungkin juga jihad, dan mati kecelakaan ketika kampanye adalah mati syahid sehingga layak disebut syuhada (pahlawan). Cukup aneh karena dalam Islam sendiri dilarang untuk mengatakan seseorang itu syahid karena perkara syahid atau tidaknya seseorang itu hanya Tuhan yang tahu.

Maka segala hal kritik atas perilaku dan metode PKS akan dianggap menghalangi jalan dakwah, apalagi keluar dari organisasi ini akan dianggap pengkhianat dakwah atau lebih halus lagi ‘gugur di jalan dakwah’, mereka menyebutnya futhur dalam bahasa internal. Kalau saya menyebutnya futuristik, alias berpikir modern. Keluar dari PKS sungguh tidak enak, mungkin rasanya seperti murtad dari agama Islam. Orang-orang yang dahulunya bagai saudara, serentak seperti dikomando akan berlaku sinis kepada kita, inbox SMS bisa penuh dalam semalam berisi ajakan-ajakan untuk tobat, dan seketika kita akan terkenal sebagai seorang futur of the month.

Sensasi dakwah PKS memang amat terasa bagi kader-kader muda. Dengan bergelora mereka akan melakukan berbagai cara untuk merekrut anggota, semua atas nama dakwah dakwah dan dakwah. Namun sesungguhnya semangat itu kebanyakan halusinasi, karena ada juga yang masih terbata-bata mengaji namun telah sukses ‘berdakwah’ (baca:mencetak simpatisan).

Secara historis memang Partai Keadilan (bukan PKS) lahir dari sebuah jamaah dakwah dengan  tujuan membawa dakwah ke ranah politik yaitu dengan cara menunjukkan contoh-contoh yang baik. Anda tentu masih ingat Mashadi, anggota DPR periode 1999-2004 dari PK yang tidak malu memarkir motornya di samping mobil-mobil mewah anggota DPR lain di parkiran gedung DPR. Tapi itu dulu, sekarang hampir semua pendakwah dari Partai Keadilan ini sudah meninggalkan PKS, termasuk Mashadi yang fenomenal itu.

 

Piramida Dakwah dan Istilah-istilah PKS

PKS memiliki istilah-istilah khusus dalam kegiatannya, mari kita buka satu-satu:

  • Ammah,  ini artinya masyarakat umum diluar PKS yang masih belum ‘tersentuh dakwah’ sehingga menjadi target perekrutan.
  • Qiyadah, ini artinya pemimpin, pada prakteknya ketua DPW, DPC, DPRA, anggota Majelis Syura dan petinggi-petinggi lainnya. Qiyadah ini wajib dipercaya sebagai manusia bersih karena dianggap pemahamannya tentang syariat sudah amat tinggi sehingga kecil kemungkinan berbuat kesalahan.
  • Tsiqah, artinya percaya. Percaya sama siapa? Ya itu sama Qiyadah tadi. Pokoknya percaya bahwa mereka tidak macem-macem, apa yang mereka putuskan adalah yang terbaik dan pahit manis nya harus dilaksanakan walaupun bertentangan dengan logika dan hati nurani.
  • Bayan, ini maksudnya rekomendasi atau seruan atau perintah dari pada Qiyadah. Bayan ini harus diikuti dan tidak boleh dipertanyakan.
  • Thoat, artinya taat pada Qiyadah dan bayan-bayan yang mereka keluarkan. Jangan mengkritik karena hanya akan menceraiberaikan kader dari jalan dakwah.
  • Jundi, artinya prajurit. Inilah porsi terbanyak anggota PKS, dalam kata lain kader dan simpatisan. Jundi harus menaati perintah Qiyadah dan siap digerakkan dalam kondisi apa saja. Mereka adalah pion-pion tanpa nama yang diukur dalam satuan angka. 1000, 100 ribu, sejuta, dua juta. Mereka harus siap sedia untuk dipanggil dalam seruan demonstrasi dan tentu saja memberikan suara dalam pemilu.
  • Murabbi, artinya guru. Mereka adalah para ustadz yang menyelenggarakan Liqo’ (pertemuan mingguan) dalam rangka mendakwahkan ide-ide PKS dalam bahasa agama. Para murabbi ini levelnya berlapis-lapis bagai struktur MLM. Tidak semua mereka masuk di struktur partai, tapi mereka berperan penting dalam menyampaikan bayan. Murabbi kadang juga jadi pelindung bagi kader dalam urusan kesulitan ekonomi.
  • Liqo’ (pertemuan mingguan). Kegiatan ini berisi pengajian dan curhat dengan sedikit sekali muatan keilmuannya. Intinya hanya mengontrol seorang kader. Liqo’ ini bagaikan ibadah mingguan tambahan yang wajib dihadiri dalam kondisi apapun (macet, banjir, sakit, ga ada duit). Oh ya, kalau ga salah Liqo’ ini juga bagian dari jihad.
  • Jihad. Jangan takut dulu, meskipun kedengaran seram, istilah ini tak lain hanyalah demonstrasi dan kampanye.
  • Infaq. Inilah pengumpulan dana dengan besaran paling kecil 5,000 rupiah untuk kegiatan partai semacam Munas. Andaikan satu juta kader saja menyumbang 5,000 tentu akan terkumpul 5 milyard. Ya cukuplah untuk mengadakan acara di Ritz Carlton atau di Pulau Bali. Para kader yang sehari-harinya hanya mengajar mengaji cukuplah menyaksikan kemewahan ini di televisi.

 

Sekian kiranya dunia PKS yang ingin saya bagi dengan khalayak ramai, semoga memahami ayat-ayat PKS ini. Oya, bicara soal ayat, PKS paling jago dalam urusan melepaskan ayat dari asbabun nuzulnya, pokoknya asal kalimatnya cocok, ayat itu pun dicomot untuk menguatkan pendapat.

 

Selamat memilih PKS. Semoga anda mendapat Hidayah.