muss

Mungkin ini merupakan artikel yang kesekian kalinya soal Dahlan Iskan yang muncul di Kompasiana dalam dua hari terakhir ini. Tapi saya masih tertarik untuk mencoba mengulasnya dari sudut pandang yang agak berbeda, yaitu “dari sudut pandang Dahlan Iskan sendiri”. Bagaimana bisa? Ya gampang, tinggal kita baca saja rekam jejak yang bersangkutan lalu kita konfrontir kata dengan tindakan nya.

Kita mengenal Dahlan Iskan sebagai sosok yang lahir dari kalangan pesantren. Walaupun tidak mengaku religius-religius amat namun tokoh yang mendaulat dirinya sendiri sebagai sosok inklusif ini pada kenyataannya sering menggunakan istilah-istilah agama (Islam) dalam tulisan-tuliannya di koran. Tidak tanggung-tanggung kadang menerobos sampai wilayah fiqih dan aqidah, suatu tema sentral dalam ilmu keagamaan.

Salah satunya soal “musyrik”. Dalam Islam, musyrik didefinisikan sebagai tindakan mempersekutukan Tuhan atau menolak keesaan Tuhan. Dahlan sempat menulis artikel berjudul “Neraka Dari Manajemen Musyrik”. Ummat Islam tentu semuanya paham bahwa konsekuensi dari tindakan musyrik ini adalah neraka, karena jelas-jelas memproklamirkan diri menentang Tuhan.

Namun uniknya yang dituduh musyrik oleh Dahlan Iskan ini adalah sebuah perusahaan BUMN yaitu PT Angkasapura II yang mengelola Bandara Soekarno-Hatta. Bagaimana bisa? Artikel lengkapnya bisa anda baca disini. Singkat cerita yang dimaksud musyrik oleh Dahlan Iskan adalah sikap mendua dan tidak fokus yang ditempuh perusahaan ini dan beberapa perusahaan BUMN lain, namun dalam hal ini tentu saja bukan Tuhan yang diduakan (disyirik-kan) namun visi dan misi perusahaan. Kata Dahlan “dalam bahasa agama, “tidak fokus” berarti “tidak mengesakan”. “Tidak mengesakan” berarti “tidak bertauhid”. “Tidak bertauhid” berarti “musyrik”. Memanfaatkan idle capacity di satu pihak sangat ilmiah, di pihak lain bisa juga berarti godaan terhadap fokus. Saya sering mengistilahkannya “godaan untuk berbuat musyrik”. Padahal, orang musyrik itu masuk neraka. Nerakanya perusahaan adalah negative  cash flow, rugi, dan akhirnya bangkrut”

Menarik juga pemikiran Dahlan yang mengambil analogi dari istilah musyrik ini. Namun yang terjadi dalam dua hari terakhir ini sungguh diluar pakem yang dianut oleh Dahlan selama ini. Entah punya maksud mencontohkan praktek dari konsekuensi musyrik, bukan hanya sekedar teori Dahlan menerapkan praktek kemusyrikan ini dalam pengertian sebenar-benarnya, bukan hanya analogi. Barangkali dia mencoba jalan yang pernah dilakukan seorang dosen kriminologi bernama Mulyana W Kusumah, anggota KPU pada tahun 2004.

Dahlan Iskan yang terkenal logis dan rasional tiba-tiba bersekutu dengan tokoh mistis nan paranormal. Ya, entah bercanda atau ada alasan lain, Dahlan merancang suatu upacara ruwatan yang tentu saja masuk dalam kategori kegiatan syirik untuk “menjaminkan” keselamatan mobil Ferrari Tuxaci seharga milyaran kepada selain Tuhan.

Seperti yang ditulis dan diyakini Dahlan sendiri, konsekuensi musyrik tentunya neraka. Tentunya saat ini Dahlan sedang manggut-manggut apakah dia telah mendapatkan nerakanya. Mungkin dia sedang tertawa, karena bisa saja dia hanya pura-pura musyrik sehingga mendapat konsekuensi neraka yang bukan sebenar-benar neraka. Wallahualam. Hanya Tuhan dan Dahlan yang tahu.