Banyak yang bertepuk tangan gembira ketika mendengar berita penangkapan, penggerebekan atau penembakan teroris yang dilakukan oleh Densus 88. Wajar saja karena sebagai masyarakat umum yang cinta kedamaian dan ketenangan, berita ini tentu saja membawa sedikit rasa nyaman dan aman. Bahkan berlaku semacam ketentuan tak tertulis di masyarakat, barangsiapa merasa bersedih atau sinis, layak dituduh mendukung terorisme atau jangan-jangan dia simpatisan teroris secara diam-diam, atau malah terlibat aktif mendanai kegiatan sel-sel teroris atau bagian dari sebuah jaringan teroris terorganisir.

Namun apakah aksi-aksi itu tetap akan membuat kita gembira pula jika pada sebagian prosesnya ternyata menempuh cara-carat tidak beradab dan penuh rekayasa. Sebagai manusia yang bermartabat seharusnya kita terganggu dengan hal itu. Saya sengaja menulis hal ini dengan konsekuensi akan dituduh mendukung teroris, JAT atau FPI di kemudian hari. Tak apalah, saya sudah terbiasa kok dituduh tuduh.

Pada banyak kasus, tindakan satuan densus ini sering membuat hati miris dan tak jarang menimbulkan keprihatinan. Dalam sudut pandang saya, terorisme itu sama dengan kejahatan-kejahatan yang lain. Para terduga berhak mendapatkan proses hukum yang adil, sedangkan para pemirsa berhak mendapatkan berita yang benar dan jernih. Jangan ada dusta diantara kita.

Namun kenyataannya berapa sering kita dengar pemberitaan salah tangkap karena alasan yang tidak bisa diterima akal. Sebuah kesatuan yang katanya dididik oleh para intelijen ternyata tidak cukup intelligent untuk membedakan teroris dengan ustadz dan aktivis masjid. Asal bercadar, berjenggot, bergamis, berwajah arab dan atau sedikit introvert dengan gampang masuk dalam kategori terduga teroris.

Berapa banyak yang ditembak mati tanpa sanggup bicara lagi. Berapa banyak berita yang kita dengar hanya dari pihak polisi saja. Adakah wartawan disana seperti proses penggerebekan Azhari dan Noordin M Top. Adakah dokumentasi yang bisa disaksikan oleh publik dan pengadilan? Nyaris tidak ada sama sekali. Sekali densus bersaksi bahwa korban penembakan adalah teroris, kita sebagai masyarakat wajib percaya. Berani mempertanyakan aksi mereka, maka kita akan dengan mudah dibidik sebagai simpatisan teroris.

Apakah tidak ada cara lain untuk melumpuhkan teroris selain menembak mati? Apakah tidak ada semacam peluru bius dosis tinggi sehingga mereka cuma pingsan dan kita masih bisa sama-sama melihat pembelaan mereka di pengadilan. Kenapa berita tentang mereka harus kita telan bagaikan dogma?

Berikut saya coba sajikan berita-berita yang saya ingat tentang betapa over actingnya densus selama dua tahun ini:

  1. September 2010. Seorang ustadz di Tanjung Balai, Sumut bernama Khairul Ghazali menolak untuk mengangkat tangan tanda menyerah atas perintah densus. Alasannya dia sedang mengimami shalat Maghrib. Tentunya perintah Tuhan harus didahulukan atas perintah manusia. Densus tidak mau terima dinomorduakan dari Tuhan. Imam yang sedang shalat ini diterjang dan diinjak-injak dibagian dada ketika sedang shalat. Dia kemudian ditahan, dan seminggu kemudian dibebaskan karena tidak terbukti terkait jaringan teroris.
  2. November 2011, seorang ustadz di Jember, Jatim tak sengaja menyerempet polisi mabok. Polisi ini kemudian naik pitam dan mengejar lalu menembaknya sampai mati. Cerita kemudian direkayasa kalau ustadz ini disangka mau merampok. Sebuah clurit dicari kemudian untuk dijadikan barang bukti. Namun cerita fitnah yang busuk ini kemudian terungkap. Polisi durjana ini hanya dihukum mutasi.
  3. Desember 2012, 14 petani penggarap ladang ditepi hutan ditangkap densus dengan tuduhan teroris. Mereka disiksa, dipukuli, diinjak-injak dan disekap selama berhari-hari. Pada akhirnya mereka tidak terbukti terlibat. Namun media sudah mendakwa mereka sebagai teroris dalam berita.

 

Masih banyak cerita lain soal salah tangkap dan salah tembak. Sebagian beruntung terekspos ke media, sebagian tenggelam dan ditutup-tutupi. Kontras mengatakan, kejadian ini tidak sekali dua, nyaris berulang setiap tahunnya. Adakah keadilan bagi orang-orang seperti mereka. Mereka mati dan tak dapat bicara. Namanya hina dalam berita. Keluarganya dirundung fitnah dan dianggap sampah. Bukankah ini akan menimbulkan lingkaran sakit hati yang baru yang dapat saja berbuah dendam di masa depan. Lalu menciptakan teroris jenis baru, bukan teroris ideologis namun teroris karena dendam. Yang pasti bagi densus, kedua golongan ini tak ada bedanya, walaupun golongan kedua adalah karya cipta mereka sendiri.

Mungkin masih belum terlambat untuk memperbaiki keadaan. Masyarakat berharap densus melakukan tugas dengan penuh kebijakan, bersikaplah intelijen jangan seperti preman. Dan bagi korban-korban yang sudah tak dapat bicara ini, ungkaplah siapa mereka. Darimana mereka, sejauh apa mereka terlibat, seperti apa kronologi penghilangan nyawa mereka. Apa yang membuat mereka diduga teroris. Masyarakat ingin tahu.

Jangan anggap remeh kasus ini. Suatu saat anda bisa menjadi korbannya. Bisa saja anda berniat pergi pengajian malam-malam, namun karena menurut seseorang anda berciri-ciri teroris, mati lah anda tertembak malam itu. Dan esok pagi anda sudah dikenal sebagai teroris. Sayang anda tak dapat bicara lagi. Anda tentu masih ingat, dua hari yang lalu ada dua orang “teroris” yang mati ditembak di teras masjid.