PPL2014

KPU akhirnya mengumumkan bahwa Pemilu Parlemen 2014 hanya akan diikuti oleh 10 partai politik saja. Mereka adalah 9 partai pengisi parlemen saat ini yaitu Demokrat, Golkar, PDIP, Hanura, Gerindra, PAN, PPP, PKS dan PKB – ditambah dengan sebuah partai politik baru yaitu Partai NasDem. Walau demikian KPU masih menerima keberatan dari partai-partai yang tidak lolos verifikasi faktual dengan mempersilahkan mereka mengajukan keberatan ke Bawaslu.

Otomatis keputusan KPU ini menyingkirkan beberapa partai kecil namun cukup kuat seperti Partai Bulan Bintang, Partai Damai Sejahtera dan PNBK. Selain itu partai baru seperti Partai SRI juga harus membuang harapannya untuk membuang suara.

Sistem multipartai memang merupakan salah satu konsekuensi dari demokrasi. Tujuan utamanya adalah bagaimana semua rakyat merasa terwakili di parlemen yang pada akhirnya diharapkan dapat efektif menyuarakan aspirasi mereka. Namun terlalu banyak partai juga tidak efisien lantaran isu yang mereka bawa tidak terlalu berbeda juga. Logikanya penyederhanaan jumlah partai tentu diharapkan dapat menjadi solusi yang menengahi antara efisiensi biaya politik dan hakikat demokrasi itu sendiri.

Namun sudah bijakkah penyederhanaan dengan sistem seleksi ini? Sudah adil dan demokratiskah? Sudah mewakili representasi rakyat kah 10 partai ini? Ini yang perlu kita kaji lebih dalam.

10 Partai Politik yang lolos seleksi ini pada hakikatnya dapat kita golongkan menjadi 4 partai saja berdasarkan tinjauan ideologis dan historis:

  1. Partai Ultranasionalis yaitu PDIP dan Gerindra
  2. Partai Nasionalis Tengah yaitu Golkar, Demokrat, Hanura dan NasDem
  3. Partai Islam eks PPP yaitu PAN, PKB dan PPP sendiri
  4. Partai Islam Transnasionalis yaitu PKS

Secara kasat mata terlihat mereka adalah pemain-pemain lama di masa orde baru yaitu pecahan dari PDI, Golkar dan PPP. PKS dikatakan tidak termasuk golongan 3 partai lama karena partai ini awalnya dilahirkan oleh aktivis Lembaga Dakwah Kampus (Usroh) yang selama orde baru belum berani terjun ke dunia politik praktis.

Jadi secara Ideologis 10 partai itu hanya mewakili dua aliran yaitu Islam dan Nasionalis. Pada kenyataannya masih ada ceruk ideologis lain yang belum terwakili yaitu Partai Kristen dan Partai Liberal.

Namun apakah penggolongan Ideologis ini tidak terlalu kuno, sedangkan abad 21 yang kita jalani sekarang sudah lama meninggalkan abad Ideologis yaitu paroh pertama abad 20 yang ditandai dengan bangkitnya ideologi Kapitalisme, Sosialisme, Marxisme dan Nasionalisme. Abad 21 adalah abad yang borderless, fokusnya adalah ekonomi dan lingkungan, walaupun di beberapa sudut dunia isu sektarian masih dianggap relevan.

Diluar aspek Ideologis masih ada alasan lain bagi manusia untuk berserikat dan berkumpul, diantaranya aspek profesi dan aspek agenda. Contohnya adalah Partai Pekerja dan Partai Hijau. Agenda partai aliran non-ideologis ini lebih praktis dan menyentuh kebutuhan dasar bumi dan manusia. Namun kenapa Indonesia masih tertinggal dalam hal ini. Lebih 60 tahun merdeka kita masih melestarikan politik aliran yang tidak menjawab kebutuhan.

Seharusnya 10 Partai peserta pemilu itu cukup disederhanakan menjadi:

  1. Partai Ultranasionalis
  2. Partai Nasionalis Tengah
  3. Partai Islam Nasionalis
  4. Partai Islam Transnasionalis
  5. Partai Kristen
  6. Partai Katholik
  7. Partai Liberal
  8. Partai Pekerja (Partai Buruh)
  9. Partai Hijau
  10. Partai Sosialis

Bagaimana menurut Anda?