Saya terpaksa menulis artikel ini karena merasa terpanggil untuk meluruskan opini-opini tak berdasar tentang Minangkabau yang disajikan secara sporadis oleh seorang pencari sensasi seperti Sutomo Paguci. Yang bersangkutan katanya tinggal di Padang dan merasa amat paham tentang dinamika masyarakat Minangkabau sehingga dengan pedenya mengatakan sikap penolakan masyarakat Minangkabau atas film Cinta Tapi Beda adalah karena etnik ini berada dalam cengkraman pola pikir wahabisme. Yang bersangkutan menambal bualannya dengan beberapa sumber yang kemudian dijahit secara compang-camping agar terasa ilmiah. Logika yang hendak dia bangun adalah “Minangkabau dahulunya beradab , kemudian datang paham Wahabi dari tanah Arab, yang kemudian mengubah orang Minang menjadi radikal, biadab dan intoleran seperti ditunjukkan dalam kasus penolakan CTB”. Sebagai seorang pencari sensasi, yang bersangkutan boleh saja berjualan seperti tukang obat, namun orang lain yang tahu faktanya tentu tidak sedikit. Ada ribuan orang yang saat ini mengkaji sejarah Minangkabau dan Perang Paderi. Mereka membuka dan membaca literatur-literatur sejarah dengan serius dan ilmiah, menelusuri sumber-sumber primer di lapangan dan bekerjasama dengan para filolog di Universitas Leiden Belanda. Tentu kapasitas mereka lebih dari cukup bila dibandingkan dengan seorang halusinator semacam Sutomo Paguci.

Berikut saya coba menyajikan secara singkat saja point-point penting tentang Islam, Perang Paderi dan isu Wahabisme di Minangkabau. Jika ingin mengetahui lebih detail saya akan pecah menjadi topik-topik tulisan jika diperlukan. Penjelasan dibawah ini bukan semata opini saya namun berangkat dari hasil kajian sejarah yang dilakukan para aktivis sejarah Minangkabau dari kalangan akademisi dan praktisi pada beberapa grup diskusi.

  • Masuknya Islam ke Minangkabau. Menganggap Islam masuk ke Minangkabau sejak zaman Perang Paderi adalah satu kesalahan fatal dan bukti kemalasan membaca literatur. Wilayah Minangkabau adalah wilayah terbuka yang selalu terhubung dengan wilayah-wilayah lain di sekitarnya sejak zaman kejayaan Barus dan Sriwijaya. Islam dipercaya masuk ke Minangkabau sejak abad ke 7, tidak berapa lama terpaut dengan meninggalnya Nabi Muhammad SAW. Sriwijaya sendiri sudah didiami pedagang-pedagang Muslim sejak masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sebagai wilayah perdagangan emas dan pala, kota-kota bandar di Sumatra telah berinteraksi dengan Islam sejak saat itu.
  • Agama Adityawarman. Adityawarman yang berayah Jawa Singashari dan beribu Malayu Dharmasraya menikahi putri penguasa lokal Minangkabau yaitu Datuak Katumanggungan. Dia kemudian memperkenalkan konsep kerajaan pada masyarakat Minangkabau dengan mendirikan kerajaan Malayapura (Pagaruyung). Agama yang dianut Adityawarman adalah Budha Bhairawa.
  • Agama Keturunan Adityawarman. Dua ratus tahun setelah berdirinya Pagaruyung pada tahun 1347, Islam menjadi agama resmi keluarga raja yaitu dengan naik tahtanya Sultan Alif pada tahun 1561. Sultan Alif ini masih ada kaitan keturunan dengan Adityawarman walaupun tidak dalam garis lurus. Gelar Sultan menunjukkan Raja Minangkabau saat itu sudah beragama Islam. Sejak saat itu pula nama Kerajaan secara resmi berubah menjadi Kerajaan Negeri Minangkabau. Pemerintahan bersifat Triumvirate yang dipegang 3 orang raja yaitu Raja Alam di Pagaruyung, Raja Adat di Buo dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus. Keberadaan Raja Ibadat adalah untuk mengatur urusan agama.
  • Syekh Burhanuddin Ulakan. Aliran Tasawuf berkembang di Aceh sebagai agama resmi negara seiring meningkatnya pamor Kesultanan Aceh. Pada awal tahun 1700-an muncul seorang ulama besar dari Ulakan-Pariaman yaitu wilayah Pantai Barat Minangkabau. Syekh Burhanuddin yang menuntut ilmu di Singkil, Aceh Selatan mendirikan Tarekat Syattariyah di Ulakan. Tarekat ini dengan segera memperoleh pengikut dalam jumlah besar hingga ke jantung kerajaan di Pagaruyung. Untuk satu abad ke depan, warna Syatariah inilah yang mendominasi Minangkabau dan menjadi cikal bakal Islam Tradisional di Minangkabau.
  • Konflik di Pagaruyung. Pada akhir tahun 1700-an terjadi persaingan politik di antara anak-anak Sultan Alam Muningsyah II, Raja Alam masa sebelumnya. Konflik ini lah yang menjadi cikal bakal instabilitas di Tanah Datar dan melatarbelakangi beberapa peristiwa pembunuhan di kalangan bangsawan Pagaruyung. Ada dua pihak yang berhadap-hadapan saat itu yaitu kelompok yang dipimpin oleh Raja Adat di Buo yang ingin menerapkan aturan Islam dan pihak Raja Alam di Pagaruyung yang bersekutu dengan Tuan Gadang Batipuah yang berkeinginan mempertahankan acara-acara judi, sabung ayam dan candu sebagai cara cepat mengisi kas negara. Perhatikan, kelompok pendukung aturan Islam dipimpin oleh Raja Adat  sendiri, lalu kelompok mana yang kita kenal dengan Kaum Adat itu?
  • Kepulangan Tiga Orang Haji dari Mekah. Sampai saat ini masih tidak ada kaitan antara kelompok Harimau Nan Salapan di Luhak Agam dan Pasaman dengan konflik internal kerajaan di pusat Minangkabau yaitu di seputaran Tanah Datar dengan Pagaruyung sebagai episentrum konfliknya. Kepulangan Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang dari Makkah yang sedang bergejolak oleh Revolusi Wahabi menjadi awal dari gerakan pemurnian agama di tingkat rakyat. Gerakan ini kemudian membesar dan menginginkan berdirinya sebuah negara Islam yaitu Darul Islam Minangkabau yang berpusat di Bonjol, Pasaman. Bonjol terletak jauh di utara Pagaruyung dan belum terkait dengan konflik Pagaruyung.
  • Penyerahan Minangkabau kepada Belanda. Kembali kepada konflik internal Pagaruyung, di akhir cerita posisi Raja Alam semakin terdesak karena kelompok yang pro pemurnian agama dan anti kemaksiatan semakin kuat. Luhak Agam dan Luhak Tanah Datar lepas dari kendali kekuasaan Raja Alam. Khusus Luhak Agam, faktor Harimau Nan Salapan menjadi penting sebagai sebab berpindahnya dukungan masyarakat. Harimau Nan Salapan adalah Dewan Tuanku (pemimpin agama) yang beranggotakan delapan orang yang berasal dari Wilayah Luhak Agam, Pasaman, Rokan Riau dan Tapanuli Selatan. Tuanku Imam Bonjol merupakan anggota dari Harimau Nan Salapan. Lewat komunikasi politik, kelompok pendukung Raja Adat di Buo yang pro penerapan aturan Islam akhirnya bergabung dengan Harimau Nan Salapan. Posisi Raja Alam menjadi semakin terjepit dan akhirnya mengirim utusan ke Batavia untuk mengundang Belanda masuk ke Minangkabau. Raja Alam saat itu yaitu Sultan Tangkal Alam Bagagarsyah menyerahkan Minangkabau tanpa syarat kepada Belanda. Perlu diketahui, Minangkabau yang dimaksud adalah wilayah Dataran Tinggi Minangkabau di sebelah Timur Bukit Barisan. Belanda sebelumnya telah menguasai Padang (daerah pantai barat) sejak tahun 1600-an.
  • Perang Paderi. Pasca penyerahan wilayah oleh Raja Alam, Belanda mengambil langkah cepat yaitu mendirikan dua benteng yaitu Fort de Kock di Bukittinggi dan Fort Van der Capellen di Batusangkar. Kelompok pendukung Raja Alam kemudian dipersenjatai untuk menyerang pusat pemerintahan Harimau Nan Salapan di Bonjol. Laskar pribumi ini adalah prajurit-prajurit Tuan Gadang Batipuah yang memang dikenal sebagai tukang onar. Mereka dibantu oleh pasukan yang dibawa dari Jawa, Madura, Bugis, Ambon dan tentara bayaran dari India dan Afrika Barat, selain pasukan Belanda sendiri. Bonjol akhirnya jatuh dengan direbutnya benteng Daludalu. Namun Paderi belum takluk, mereka tetap melakukan perlawanan di wilayah Rokan, Riau dibawah pimpinan Tuanku Tambusai (salah satu anggota Harimau Nan Salapan)
  • Benarkah ada Kaum Adat dan Kaum Agama serta Wahabi? Sejarah Nasional Indonesia yang ditulis oleh Nugroho Notosutanto menyederhanakan peristiwa diatas menjadi konflik antara kaum adat dan kaum agama (wahabi). Dasar penulisan sejarah ini adalah buku karangan seorang Orientalis Belanda yang anti Islam bernama Prof. JV Veth. Orang inilah yang pertama menggunakan istilah Wahabbi terhadap kelompok pendukung aturan Islam di Minangkabau. Dia pula yang memperkenalkan istilah Kaum Adat sebagai oposan dari Wahabi. Namun logika ini tentu aneh, karena Raja Adat di Buo sendiri malah berpihak kepada kelompok Paderi. Perlu diketahui Raja Adat ini juga seorang Tuanku dengan gelar Sultan Sembahyang. Jadi bagaimana mungkin mengatakan bahwa kaum adat lah yang melakukan aktivitas judi, sabung ayam, minum tuak dan mengisap candu? Yang ada adalah sekelompok orang yang pro aktivitas maksiat tersebut dengan lindungan Raja Alam dan Tuan Gadang Batipuah. Gerakan pemurnian agama di Minangkabau murni sebagai bentuk keresahan masyarakat atas merajalelanya maksiat. Sedangkan di kalangan bangsawan, ada unsur perebutan kekuasaan dengan latar belakang pandangan keagamaan. Sampai saat itu tidak ada kaitan sama sekali dengan Revolusi Wahabi di Hijaz.
  • Gerakan Modernisme Islam tahun 1900-an. Terpaut seratus tahun setelah kecamuk perang Paderi yang meluluhlantakkan Minangkabau, muncullah gerakan pembaharuan agama yang dirintis oleh Haji Rasul, ayah dari Buya HAMKA. Saat ini spirit keagamaan yang berkembang adalah pemikiran-pemikiran Islam Kontemporer dari Mesir seperti pemikiran Muhammad Abduh, Jamaluddin al Afghani dan Rasyid Ridha. Nuansa Islam zaman ini selain gerakan modernisme agama juga memiliki agenda politik anti penjajahan. Hal ini sejalan dengan mulai bangkitnya perlawanan terhadap penjajah di Mesir, India dan Indonesia. Gerakan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya gerakan pembaruan Minangkabau yang kemudian menyatukan diri dengan Muhammadiyah yang didirikan Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Kemunculan gerakan ini menimbulkan gesekan dengan para penganut Islam Tradisional seperti tarekat Syattariah dan Naqsyabandi. Namun hanya sebatas debat-debat agama saja.
  • Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ada banyak versi tentang kelahiran konsensus ini, namun yang terbanyak diyakini adalah konsensus ini lahir di Puncak Bukit Marapalam dalam pertemuan islah antar pemimpin kelompok-kelompok yang bertikai dalam Perang Paderi. ABS-SBK disebut juga sebagai Piagam Bukit Marapalam. Sejak saat itulah berlaku ketentuan, Islam adalah agama orang Minangkabau dan sumber adat adalah syariat Islam, dengan konsekuensi keluar dari Islam maka dianggap bukan orang Minang lagi.
  • Terpinggirnya ABS-SBK. Jika ABS-SBK benar-benar diterapkan, mungkin kita akan melihat wajah Minangkabau yang lain pada saat ini. Berkuasanya Belanda selama 100 tahun dari 1840 hingga 1940 di Minangkabau membuat cita-cita penerapan aturan Islam kandas. Belanda memperkuat penerapan Hukum Adat dengan menjadikan penghulu-penghulu nagari masuk kedalam struktur pemerintahannya serta menghambat perkembangan dakwah Islam. Oleh karena itu, Belanda amat memusuhi gerakan Modernisme Islam pada awal 1900-an karena bangkitnya Islam akan merugikan kepentingan Belanda.

Itulah sebagian serpihan tentang keberadaan Islam di Minangkabau yang amat kaya dalam variasinya. Islam di Minangkabau telah mengalami persinggungan dengan berbagai jenis aliran dan tarekat sejak Syatariah, Naqsyabandiah, Syafiiah, Pemurnian Agama, Modernisme bahkan Ahmadiyah. Jadi amat keliru jika menganggap Wahabisme lah paham keagamaan orang Minangkabau, apalagi dengan ditambah-tambahi dengan asumsi bahwa Wahabi adalah sebuah mazhab khusus atau malah sekte di luar Islam. Hakikat dakwah yang dibawa oleh para haji yang kembali dari Mekkah pada tahun 1800-an sebenarnya hanyalah mazhab Hanbali yang diakui sebagai salah satu dari empat mazhab resmi Ahlussunnah wal Jamaah.

Istilah Wahabi pada kenyataannya hanyalah istilah yang diciptakan oleh kolonialis untuk memberikan stigma negatif terhadap gerakan perlawanan yang tidak bisa mereka taklukkan. Silahkan ditelusuri sendir apa itu wahabi, karena bisa panjang bahasannya kalau diulas pula disini.

Semoga Bermanfaat.