Hari ini mungkin menjadi ujung dari sebuah cerita yang berawal empat tahun lalu. Sebuah kelalaian, kebodohan dan kecelakaan sejarah yang harus ditebus dengan harga yang cukup mahal.

Singkat cerita, lima tahun yang lalu anak pertama saya lahir di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur. Kelalaian kami adalah tidak segera mengurus Akte Kelahiran nya. Saya menunda hingga 8 bulan setelahnya karena dulu saya membuat akte pada usia 11 tahun dan tidak ada masalah.

Kebodohan kami dimulai dari keputusan mempercayakan urusan pembuatan akte ini kepada seorang petugas kantor desa (sebut saja calo premium). Dengan alasan kesibukan dan kebetulan kami juga warga perumahan baru, dimana saat itu belum terbentuk RT/RW, menurut hemat kami menggunakan jasa seharga 300.000 itu cukup masuk akal.

Drama dimulai dari kedatangan sang petugas ke rumah, menyampaikan bahwa kami sudah melanggar Undang Undang Kependudukan. Berdasarkan UU kekinian itu, akte kelahiran harus diurus paling lambat 6 bulan setelah kelahiran anak. Jika terlambat konsekuensinya adalah mengajukan sidang dulu ke Pengadilan Negri dengan biaya perkara dan denda yg cukup besar plus serangkaian prosedur yang cukup rumit. Kami mengangguk-angguk saja tanpa harapan. Disinilah petugas tersebut menawarkan ‘jasa istimewa’ yaitu menyulap pemberkasan sehingga terlihat tidak terlambat. Dia mengaku punya kenalan dengan orang dalam Dinas Catatan Sipil Kab.Bogor. Intinya saya tidak perlu pusing urusan pengadilan. Harga yang diminta untuk jasa istimewa ini adalah 800.000 rupiah, wow.

Kami menunggu cukup lama hingga petugas tadi mengantar akte ke rumah 3 bulan kemudian. Di sinilah kami mengetahui ada kecelakaan sejarah, tempat lahir yang seharusnya Jakarta tertulis Bogor di akte kelahiran. Bagaimana bisa? Kami protes keras minta hal ini diperbaiki segera. Petugas beralasan ini sudah sesuai peraturan, tempat lahir menyesuaikan dengan alamat KTP orang tua, begitu dalihnya. Kami tetap tidak terima dan akhirnya petugas ini setuju untuk kembali ke Catatan Sipil, minta perbaikan. Tiga bulan kemudian dia datang dan berkata, data tidak bisa diubah lagi. Belakangan baru kami tahu kalau data tidak bisa diubah lewat satu minggu setelah akte dikeluarkan, setiap perubahan harus lewat penetapan pengadilan. Kami juga akhirnya tahu bahwa petugas sialan ini ternyata tidak pernah pergi ke Catatan Sipil dan akte terlambat diberikan kepada kami. Kami terpaksa menerima akte seharga 800.000 yang cacat sejarah.

……

Perlu waktu yang cukup lama bagi kami untuk memutuskan perbaikan data tempat lahir anak pertama kami. Kami menimbang-nimbang apakah perbaikan itu worthed mengingat prosedurnya cukup panjang, belum lagi biaya perkara yang harus dibayar sebesar 800.000 (lagi!). Sebenarnya bukan soal gaya-gayaan ingin punya anak dengan tempat lahir Jakarta, namun lebih kepada rasa kebenaran yang tercederai.

Proses perbaikan akta ini dimulai dari pengumpulan informasi data yang harus disiapkan dan prosedurnya. Orang tua saya sangat berperan pada tahapan ini karena untuk bepergian Cileungsi-Cibinong kerap butuh satu hari penuh untuk satu urusan, sedangkan saya tidak bisa sering-sering minta cuti. Bapak saya nyaris empat kali bolak balik ke Cibinong karena kebiasaan birokrasi kita yang mencicil informasi kekurangan syarat satu demi satu. Saya merasa amat kasihan melihat letihnya ayah saya setiap pergi ke pusat pemerintahan Kabupaten Bogor ini.

Setelah semua syarat lengkap antara lain fotokopi ktp, kk, akte, surat nikah, surat keterangan lahir yang harus dimaterai dan dilegalisir kepala kantor pos, saya pun menghadap ke petugas khusus di Dinas Catatan Sipil. Beliau menawarkan saya untuk membuat SKTM supaya biaya perkara dapat dibebankan kepada negara. Konsekuensinya sidang akan berlangsung secara kolektif pada persidangan keliling.

Saya mengambil opsi ini karena saya merasa tidak mampu untuk membayar kesalahan yang tidak saya perbuat.

Singkat cerita saya mengambil cuti satu hari untuk persidangan di sebuah aula kecamatan yang ditunjuk sebagai tempat sidang keliling. Hari itu diputuskan secara perdata bahwa putri pertama saya benar lahir di Jakarta berdasarkan bukti-bukti yang cukup. Saya dibebaskan dari biaya perkara berkat SKTM yang saya ajukan. Yang mengejutkan, ternyata hasil perubahan dan penetapan pengadilan bukanlah penerbitan akte kelahiran baru melainkan hanya selembar kertas HVS putih yang menyatakan tempat lahir berubah dari Bogor menjadi Jakarta berdasarkan penetapan pengadilan perdata nomor sekian. Lembaran ini bernama Catatan Pinggir dan distempel dengan cap Dinas Kependudukan. Saya nyaris tak percaya dan sempat protes ke hakim, mengapa susah sekali untuk mendapatkan akte baru. Jawabannya, begitulah perintah Undang-Undang. Saya hanya masygul mendapati perjuangan yang meletihkan ini hasilnya hanya selembar kertas HVS mirip undangan rapat RT. Untunglah dokumen ini berkekuatan hukum tetap.

Jadi hari ini saya kembali ke kantor Kecamatan Cileungsi untuk perubahan data Kartu Keluarga, penyesuaian tempat lahir anak saya dari Bogor menjadi Jakarta. Tadinya saya berpikir dengan menunjukkan penetapan pengadilan dan legalisir akte dari Catatan Sipil semua bisa selesai. Ternyata pihak kecamatan masih butuh surat pengantar dari kantor desa sebagai arsip bagi mereka. Saya benar-benar bingung dengan birokrasi negeri ini. Dari bawah dilempar ke atas, setelah jadi dilempar lagi kebawah dengan alasan yang tidak jelas.

Singkat cerita saya mengalah dan memacu kendaraan menuju kantor desa tempat semua cerita ini dimulai.
Apa jawab petugas desa setelah saya minta surat pengantar dan menunjukkan penetapan pengadilan. “bapak sudah buat surat pengantar dari RT belum?”
Jawaban sekenanya ini sungguh membuat saya emosi, dan saya pun menumpahkan kisah ini di hadapan mereka. Betapa kesalahan yang mereka buat menyusahkan saya selama hampir setengah tahun.
….
Akhirnya surat pengantar pun diberikan, saya kembali ke kecamatan, KK dijanjikan jadi dua hari kemudian.
Selesai?
Saya belum tahu juga, yang jelas tempat lahir anak saya masih tertulis Bogor di aktenya yang tidak berubah. Saya mengakali dengan membuat fotokopi akte dan catatan pinggir yang berdampingan dalam satu halaman, untuk jaga-jaga terhadap kesalahan input data yang masih mungkin terjadi di masa depan.

Inilah harga dari sebuah kebenaran, dan juga kesalahan.

The End.