You are currently browsing the category archive for the ‘Enlightment’ category.

Saya cukup bingung juga untuk menentukan judul dari artikel ini, apakah yang benar itu adalah “Apa yang Islami dari Indonesia” atau seperti judul yang tertera diatas. Gosip hangat soal identitas Islam memancing saya untuk ikut latah mengutarakan unek-unek. Diluar sana banyak kalangan mengkritisi soal proses arabisasi di Indonesia yang kelihatannya lebih efektif ketimbang proses islamisasinya sendiri. Dari mulai masalah agama seperti jilbab, masalah tatakrama seperti pergeseran dari kulonuwun menjadi assalamualaikum, masalah arsitektur seperti menara masjid, masalah seni rupa Islam yang tidak boleh tidak harus berbentuk kaligrafi arab,  sampai dengan masalah penamaan anak yang harus kearab-araban. Padahal nama dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah sendiri sudah memiliki kearifan lokal yang khas. Nama Indonesia seperti Sugianto, misalnya berisi doa orangtuanya agar anaknya menjadi orang kaya. Bukankah itu sama dengan konsep nama Islam.

Kembali ke judul, ternyata diluar sana, di negeri-negeri Eropa dan puak keturunannya Islam secara budaya juga terlalu sering dipandang dari sudut arab. Seakan-akan “formal islam” itu mestilah mid-east. Indonesia dan India hanya dipandang sebagai “sincretic islam”. Bahkan ummat Islam di China yang jumlahnya 30juta orang hampir tidak melintas dalam pengetahuan mereka.

Nah sekarang pertanyaannya, jika kita berniat mengkampanyekan sisi Indonesia dari Islam, sisi apakah yang akan kita suguhkan sebagai sajian unik yang tidak dimiliki oleh dunia arab. Malaysia tetangga kita telah mempelopori dengan “Islam Hadhari” sebagai corak Islam khas negeri jiran itu. Di Indonesia juga muncul pemikiran-pemikiran seperti islam liberal dan islam kontekstual. Namun, pertanyaan berikutnya apakah formula seperti itu yang akan kita teruskan? Read the rest of this entry »

Hipotesa 1 : Remaja Indonesia tahun 80’an senang mencari perhatian

Frasa Preparat : aksi

Dipopulerkan oleh : remaja tahun 80’an, yang doyan pake pakaian olahraga plus ikat kepala warna-warni sama gelang kain warna-warni (saya kurang tahu istilahnya apa). Contoh orang bisa dilihat di salahsatu videoklip club eighties atau film Back to the Future

Hipotesa 2 : Remaja Indonesia paruh awal 90’an senang memamerkan gigi dan jari tangannya

Frasa Preparat: metal

Dipopulerkan oleh : grup band rock aliran metal

Hipotesa 3 : Remaja Indonesia paruh akhir 90’an memuja ideologi narsisme

Frasa Preparat: keren, funky

Dipopulerkan oleh : Lupus

Hipotesa 4 : Remaja Indonesia tahun 2000-an membenci sikap antisosial

Frasa Preparat: gaul

Dipopulerkan oleh : kurang tahu juga siapa, yang jelas tiba-tiba jadi populer

Hipotesa 5: Remaja Indonesia senang melihat penderitaan orang lain

Frasa Preparat: kaciaaan dech loe

Dipopulerkan oleh : seorang banci pada sebuah sinetron yang saya lupa judulnya

Hipotesa 6: Remaja Indonesia malas berpikir

Frasa Preparat: e ge pe, emang gue pikirin

Dipopulerkan oleh : idem dengan hipotesa 4 (mungkin penonton ada yang tahu)

Hipotesa 7: Remaja Indonesia sering tulalit dalam memahami maksud ucapan orang lain

Frasa Preparat: maksud loh???

Dipopulerkan oleh : masih idem dengan hipotesa 4

Hipotesa 8: Remaja Indonesia merasa selalu benar dan tidak pernah salah

Frasa Preparat: so what gitu loh???

Dipopulerkan oleh : juga masih idem dengan hipotesa 4

Hipotesa 9: Remaja Indonesia tidak peduli pada situasi sekitar dan penderitaan orang lain

Frasa Preparat: I don’t care!

Dipopulerkan oleh : Yang Mulia Presiden Republik Indonesia DR.H.Susilo Bambang Yudhoyono

Hipotesa 10: Remaja Indonesia berwawasan intelektual rendah

Frasa Preparat: mene eke tehe

Dipopulerkan oleh : Project Pop (bener ga sih?)

Hipotesa 11: Remaja Indonesia pemalas dan tidak cocok untuk memasuki era globalisasi

Frasa Preparat: cappe deech …

Dipopulerkan oleh : entah siapa

Hipotesa 12: Remaja Indonesia membenci peribahasa berakit-rakit kehulu berenang-renang kemudian

Frasa Preparat: gitu aja koq repot!

Dipopulerkan oleh : Gus Dur

Sabtu akhir pekan kemarin saya menyempatkan diri berbelanja di Carrefour MT Haryono. Carrefour ini seperti dilokasi-lokasi lain juga mengusung konsep pasar serba ada dimana jika orang mengajukan pertanyaan “Ada Apa Aja?” pastilah jawabannya “Apa Aja Ada”. Begitulah sampai langkah kaki saya menyeret saya ke sayap timur pasar serba ada ini.

Sayap timur didominasi aneka makanan dan masakan siap saji dan siap bawa. Berbagai jenis penganan, kue basah tradisional, kue basah modern, bahan baku masakan, bahan mentah seperti ikan segar, kodok segar, buah dan juga lauk pauk disajikan secara terbuka dalam nampan-nampan lebar. Khusus untuk lauk pauk ini saya sempat menaruh perhatian. Melihat ragam jenisnya dan harganya yang tidak terlalu mahal, ingin rasanya membawa pulang barang satu dua macam, mengingat menu makan saya sebagai anak kost cenderung monoton.

carrefour-buffet.jpg

Namun cara penyajiannya yang bertipe prasmanan layaknya buffet menyurutkan langkah saya. Apalagi setelah saya perhatikan ruangan tempat lauk pauk itu disajikan sangat terbuka, dengan ratusan manusia berseliweran setiap saatnya. Tidak jauh darisana aneka bahan mentah seperti ikan segar, ikan asin, hewan laut dan bahan-bahan lain juga bersemayam. Walaupun jarang terlihat ada lalat, namun saya meragukan ke-hygienisan masakan-masakan yang ditaruh di nampan-nampan lebar itu. Apalagi para calon pembeli (dan atau pengunjung yang sekedar ingin tahu) dapat dengan leluasa mengobok obok masakan itu (dan juga kue-kue basah).

Saya berpikir, sudah berapa lamakah makanan-makanan itu berada disana. Apakah dari pagi sampai malam ia tergeletak saja disana. Lalu jikalau tidak habis pada hari itu, kemanakah makanan-makanan itu disalurkan. Apakah dijual lagi esok hari, apakah dibuang, ataukah disalurkan kepada catering atau rumah makan. Ahh, saya tidak mau melanjutkan angan-angan saya lagi. Saya segera angkat kaki darisana.

Dalam kepekatan mimpiku, wajah Mu tersembunyi

Alam semesta, matahari, bintang, rembulan

Semua datang sujud buat Mu

Menikam cinta paling dalam

 

Dari sudut manakah gerangan, aku dapat segera mulai

Melukiskan Engkau, yang kasat mata namun ada

Bahkan mengalir dalam darah

Hidup telah ku janjikan buat Mu

 

Garis-garis aku satukan, menampilkan watak yang beringas

Titik-titik aku kumpulkan, menampilkan rona geriap

Terlalu jauh dari wajah Mu

Yang agung, teduh dan kasih

 

Kini ku yakini sepenuhnya, Engkau tak mungkin ku gambar

Tinggal ku mohon ampunan Mu

Atas kelancangan mimpiku

 

Dalam kesejukan nafas Mu, aku khusuk sembahyang

Barangkali dapat kutafsirkan makna firman Mu

Peluklah aku dalam damai, siramilah dengan cinta

 

Garis-garis aku satukan, menampilkan watak yang beringas

Titik-titik aku kumpulkan, Menampilkan rona geriap

Terlalu jauh dari wajah Mu

Yang agung, teduh dan kasih

 

Kini ku yakini sepenuhnya, Engkau tak mungkin ku gambar

Tinggal ku mohon ampunan Mu

Atas kedangkalan mimpiku

(Lagu oleh Ebiet G. Ade)

agam-084.jpg

 

Foto ini saya jepret di Kenagarian Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat Maret 2007 lalu. Sementara saya bertafakkur mengingat kejadian di NAD, saya beristighfar melihat masjid yang satu ini. Masjid ini hancur karena gempa 6 Maret 2007 yang meluluhlantakkan Sumatera Barat, sehingga tinggal tiang-tiangnya saja, sementara rumah disekelilingnya hanya retak-retak. Kalau menurut kata orang, masjid ini jarang dimakmurkan, tapi saya tidak akan berkomentar apa-apa. Takut berburuk sangka. Semoga menjadi I’tibar (pelajaran berharga) bagi kita semua.

Dibawah ini adalah sesudut Nagari Koto Gadang Read the rest of this entry »

Ganti rugi sosial? Wacana apa lagi ini? Begitu komentar saya pertama kali ketika membaca satu artikel yang berjudul “Mereka Tetap Ingin Bersama” di halaman depan harian Kompas Sabtu 26 Mei 2007 lalu. Namun setelah saya baca sampai tuntas, terbitlah rasa kagum saya yang luar biasa terhadap kaum yang menyuarakan istilah ganti rugi sosial ini. Dalam hati saya berpikir, mereka inilah “the Genuine of Indonesian society”.

Lho, bagaimana bisa? Begini ceritanya.

Hikayat berawal dari kejadian luar biasa setahun lalu, yang dalam beberapa hari lagi memperingati hari jadinya yang pertama. Ya, ini cerita terkait dengan Legenda Luberan Lumpur Lapindo Porong (L4P) yang sangat fenomenal itu. Ternyata, tak semua pengungsi korban lumpur Lapindo ini bersedia menerima uang kontrak rumah. Ada sekitar 906 keluarga (3.133 jiwa) yang memilih untuk menolaknya, dan tetap bertahan di pengungsian Pasar Baru Porong.

Apa pasal? Cari sensasikah mereka (seperti trend jahit mulut dikalangan aktivis sekarang ini) ? Read the rest of this entry »

*

Jika kamu berhenti menulis, sedangkan bahan belum habis,

maka tulisanmu banyak bolongnya

Jika kamu masih menulis, sedangkan bahan sudah habis,

maka tulisanmu banyak bohongnya

*

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 76 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 308,292 hits
%d bloggers like this: