You are currently browsing the category archive for the ‘Foolitics’ category.

PPL2014

KPU akhirnya mengumumkan bahwa Pemilu Parlemen 2014 hanya akan diikuti oleh 10 partai politik saja. Mereka adalah 9 partai pengisi parlemen saat ini yaitu Demokrat, Golkar, PDIP, Hanura, Gerindra, PAN, PPP, PKS dan PKB – ditambah dengan sebuah partai politik baru yaitu Partai NasDem. Walau demikian KPU masih menerima keberatan dari partai-partai yang tidak lolos verifikasi faktual dengan mempersilahkan mereka mengajukan keberatan ke Bawaslu.

Otomatis keputusan KPU ini menyingkirkan beberapa partai kecil namun cukup kuat seperti Partai Bulan Bintang, Partai Damai Sejahtera dan PNBK. Selain itu partai baru seperti Partai SRI juga harus membuang harapannya untuk membuang suara.

Sistem multipartai memang merupakan salah satu konsekuensi dari demokrasi. Tujuan utamanya adalah bagaimana semua rakyat merasa terwakili di parlemen yang pada akhirnya diharapkan dapat efektif menyuarakan aspirasi mereka. Namun terlalu banyak partai juga tidak efisien lantaran isu yang mereka bawa tidak terlalu berbeda juga. Logikanya penyederhanaan jumlah partai tentu diharapkan dapat menjadi solusi yang menengahi antara efisiensi biaya politik dan hakikat demokrasi itu sendiri.

Namun sudah bijakkah penyederhanaan dengan sistem seleksi ini? Sudah adil dan demokratiskah? Sudah mewakili representasi rakyat kah 10 partai ini? Ini yang perlu kita kaji lebih dalam.

10 Partai Politik yang lolos seleksi ini pada hakikatnya dapat kita golongkan menjadi 4 partai saja berdasarkan tinjauan ideologis dan historis:

  1. Partai Ultranasionalis yaitu PDIP dan Gerindra
  2. Partai Nasionalis Tengah yaitu Golkar, Demokrat, Hanura dan NasDem
  3. Partai Islam eks PPP yaitu PAN, PKB dan PPP sendiri
  4. Partai Islam Transnasionalis yaitu PKS

Secara kasat mata terlihat mereka adalah pemain-pemain lama di masa orde baru yaitu pecahan dari PDI, Golkar dan PPP. PKS dikatakan tidak termasuk golongan 3 partai lama karena partai ini awalnya dilahirkan oleh aktivis Lembaga Dakwah Kampus (Usroh) yang selama orde baru belum berani terjun ke dunia politik praktis.

Jadi secara Ideologis 10 partai itu hanya mewakili dua aliran yaitu Islam dan Nasionalis. Pada kenyataannya masih ada ceruk ideologis lain yang belum terwakili yaitu Partai Kristen dan Partai Liberal.

Namun apakah penggolongan Ideologis ini tidak terlalu kuno, sedangkan abad 21 yang kita jalani sekarang sudah lama meninggalkan abad Ideologis yaitu paroh pertama abad 20 yang ditandai dengan bangkitnya ideologi Kapitalisme, Sosialisme, Marxisme dan Nasionalisme. Abad 21 adalah abad yang borderless, fokusnya adalah ekonomi dan lingkungan, walaupun di beberapa sudut dunia isu sektarian masih dianggap relevan.

Diluar aspek Ideologis masih ada alasan lain bagi manusia untuk berserikat dan berkumpul, diantaranya aspek profesi dan aspek agenda. Contohnya adalah Partai Pekerja dan Partai Hijau. Agenda partai aliran non-ideologis ini lebih praktis dan menyentuh kebutuhan dasar bumi dan manusia. Namun kenapa Indonesia masih tertinggal dalam hal ini. Lebih 60 tahun merdeka kita masih melestarikan politik aliran yang tidak menjawab kebutuhan.

Seharusnya 10 Partai peserta pemilu itu cukup disederhanakan menjadi:

  1. Partai Ultranasionalis
  2. Partai Nasionalis Tengah
  3. Partai Islam Nasionalis
  4. Partai Islam Transnasionalis
  5. Partai Kristen
  6. Partai Katholik
  7. Partai Liberal
  8. Partai Pekerja (Partai Buruh)
  9. Partai Hijau
  10. Partai Sosialis

Bagaimana menurut Anda?

Advertisements

muss

Mungkin ini merupakan artikel yang kesekian kalinya soal Dahlan Iskan yang muncul di Kompasiana dalam dua hari terakhir ini. Tapi saya masih tertarik untuk mencoba mengulasnya dari sudut pandang yang agak berbeda, yaitu “dari sudut pandang Dahlan Iskan sendiri”. Bagaimana bisa? Ya gampang, tinggal kita baca saja rekam jejak yang bersangkutan lalu kita konfrontir kata dengan tindakan nya.

Kita mengenal Dahlan Iskan sebagai sosok yang lahir dari kalangan pesantren. Walaupun tidak mengaku religius-religius amat namun tokoh yang mendaulat dirinya sendiri sebagai sosok inklusif ini pada kenyataannya sering menggunakan istilah-istilah agama (Islam) dalam tulisan-tuliannya di koran. Tidak tanggung-tanggung kadang menerobos sampai wilayah fiqih dan aqidah, suatu tema sentral dalam ilmu keagamaan.

Salah satunya soal “musyrik”. Dalam Islam, musyrik didefinisikan sebagai tindakan mempersekutukan Tuhan atau menolak keesaan Tuhan. Dahlan sempat menulis artikel berjudul “Neraka Dari Manajemen Musyrik”. Ummat Islam tentu semuanya paham bahwa konsekuensi dari tindakan musyrik ini adalah neraka, karena jelas-jelas memproklamirkan diri menentang Tuhan.

Namun uniknya yang dituduh musyrik oleh Dahlan Iskan ini adalah sebuah perusahaan BUMN yaitu PT Angkasapura II yang mengelola Bandara Soekarno-Hatta. Bagaimana bisa? Artikel lengkapnya bisa anda baca disini. Singkat cerita yang dimaksud musyrik oleh Dahlan Iskan adalah sikap mendua dan tidak fokus yang ditempuh perusahaan ini dan beberapa perusahaan BUMN lain, namun dalam hal ini tentu saja bukan Tuhan yang diduakan (disyirik-kan) namun visi dan misi perusahaan. Kata Dahlan “dalam bahasa agama, “tidak fokus” berarti “tidak mengesakan”. “Tidak mengesakan” berarti “tidak bertauhid”. “Tidak bertauhid” berarti “musyrik”. Memanfaatkan idle capacity di satu pihak sangat ilmiah, di pihak lain bisa juga berarti godaan terhadap fokus. Saya sering mengistilahkannya “godaan untuk berbuat musyrik”. Padahal, orang musyrik itu masuk neraka. Nerakanya perusahaan adalah negative  cash flow, rugi, dan akhirnya bangkrut”

Menarik juga pemikiran Dahlan yang mengambil analogi dari istilah musyrik ini. Namun yang terjadi dalam dua hari terakhir ini sungguh diluar pakem yang dianut oleh Dahlan selama ini. Entah punya maksud mencontohkan praktek dari konsekuensi musyrik, bukan hanya sekedar teori Dahlan menerapkan praktek kemusyrikan ini dalam pengertian sebenar-benarnya, bukan hanya analogi. Barangkali dia mencoba jalan yang pernah dilakukan seorang dosen kriminologi bernama Mulyana W Kusumah, anggota KPU pada tahun 2004.

Dahlan Iskan yang terkenal logis dan rasional tiba-tiba bersekutu dengan tokoh mistis nan paranormal. Ya, entah bercanda atau ada alasan lain, Dahlan merancang suatu upacara ruwatan yang tentu saja masuk dalam kategori kegiatan syirik untuk “menjaminkan” keselamatan mobil Ferrari Tuxaci seharga milyaran kepada selain Tuhan.

Seperti yang ditulis dan diyakini Dahlan sendiri, konsekuensi musyrik tentunya neraka. Tentunya saat ini Dahlan sedang manggut-manggut apakah dia telah mendapatkan nerakanya. Mungkin dia sedang tertawa, karena bisa saja dia hanya pura-pura musyrik sehingga mendapat konsekuensi neraka yang bukan sebenar-benar neraka. Wallahualam. Hanya Tuhan dan Dahlan yang tahu.

 

sanoto

Banyak yang suka dengan keberadaan PKS, namun tidak kalah banyak pula yang benci, anti dan alergi terhadap partai politik yang satu ini. Tuduhan munafik, korup, poligami, gemar syahwat, rakus kekuasaan, terima mahar dan lain sebagainya adalah makanan sehari hari partai ini. PKS memang fenomenal dengan begitu ramainya pujaan dan hujatan sekaligus, bahkan kalangan yang benci dengan PKS ini datang dari berbagai macam latar belakang. Mari kita kenali satu persatu: 

  1. Benci Setengah Mati, kalangan ini biasanya membenci PKS karena berseberangan secara politik dan menganggap PKS akan mengganjal agenda-agenda mereka. Mereka tidak suka terobosan-terobosan yang dilakukan PKS karena membuat mereka jadi kelihatan kotor.
  2. Benci Dari Hati, nah ini dia yang cuma alergi dengan nuansa keagamaan yang dibawa PKS. Mereka datang dari kalangan yang memang tidak terlalu suka beragama, atau datang dari kalangan agama sebelah yang benar-benar alergi dengan tampilan PKS yang amat kental berbau agama tertentu. Bagi mereka PKS adalah ancaman terhadap eksistensi mereka. Segala tindak tanduk PKS yang berbau agama adalah munafik bagi mereka.
  3. Benci Tanpa Syarat, yang ini kondisinya agak parah. Mereka hanyalah korban media-media yang anti PKS dan korban perang pemikiran di sosial media. Sebenarnya mereka belum mengenal PKS namun dengan lugunya percaya pada berita-berita yang menyamakan PKS dengan partai-partai lain. Mereka tidak perlu fakta, mereka cuma berkicau menuruti kicauan terbanyak.
  4. Benci Tapi Rindu, yang ini adalah para mantan kader dan simpatisan PKS yang memutuskan keluar dari organisasi yang dahulunya mereka anggap jamaah dakwah. Idealisme mereka tentang dakwah membuat mereka meninggalkan partai yang semakin sejahtera ini, namun mereka masih memendam harapan dan kadang tidak terima juga kalau PKS dijelek-jelekkan. Mereka biasanya membenci person tertentu atau sistem yang mereka anggap tidak pas, contohnya keputusan PKS untuk menjadi partai terbuka.
  5. Benci Karena Allah, kalangan ini adalah komunitas diluar PKS yang mengharamkan politik partisan. Mereka mengecam istilah dakwah yang digunakan PKS dengan semena-mena. Mereka anti dengan segala macam perbuatan yang menyerupai orang kafir, termasuk sistem demokrasi yang menyamakan suara ulama dengan suara pelacur.
  6. Benci Karena Patah Hati, kelompok ini datang dari kalangan terdidik yang tidak memiliki afiliasi keagamaan tertentu. Mereka sempat melihat PKS sebagai harapan baru pada tahun 2004 yang lalu. Mereka sebenarnya kesengsem dengan jargon Bersih, Peduli, Professional yang pernah diusung PKS, namun mereka kemudian kecewa karena ternyata tidak ada perubahan signifikan yang diperbuat oleh anggota legislatif dan kepala daerah dari PKS. Harapan mereka yang melambung tinggi jatuh hancur berderai ke bumi.
  7. Benci Karena Alergi, nah ini dia kelompok sesama partai Islam atau organisasi Islam yang tidak sreg dengan PKS yang merasa lebih Islam dari mereka. Kelompok Islam Tradisional ini biasanya tidak suka kalau PKS berusaha merebut masjid-masjid mereka. Mereka juga tidak senang dengan pilihan keagamaan PKS yang rata-rata tidak melaksanakan tahlilan dan maulid. Istilah partai wahabi, anti maulid dan anti tahlil ini datang dari kalangan mereka.
  8. Benci Kaleng (banci kaleng), nah ini dia yang terganggu sangat dengan tampilan PKS yang sok suci dan sok alim menurut mereka. Biasanya pendapat mereka didukung pula oleh kalangan liberal semacam JIL yang bersedia teriak-teriak demi kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, kebebasan menghujat dan kebebasan mengumpat.

Apakah anda benci juga dengan PKS? Kenali lebih dekat sebelum bersikap.

 

dakwah

Dakwah PKS : Antara Sensasi dan Halusinasi

Seorang perempuan berjilbab lebar masuk ke kandang banteng untuk ‘berdakwah’ kemudian lari keluar terbirit-birit sambil diuber pakai golok oleh penghuni kandang. Hmm … cerita yang aneh.

Namun ini bukan cerita khayalan bagi para kader PKS, karena cerita diatas sungguh-sungguh terjadi dan bisa lebih dari satu kali. Atas nama dakwah, kader-kader tersebut (bahkan perempuan, seorang diri pula, tanpa mahram) berani masuk ke kantor-kantor DPC PDIP untuk ‘mendakwahkan’ partainya atau dalam bahasa mereka direct selling. Kok bisa yah? Ya bisa donk, itulah hebatnya ‘dakwah’.

Dakwah bagi PKS bisa jadi menjadi istilah sakral sebagaimana Pancasila bagi Indonesia dan syahadat bagi Islam. Mereka punya dalil bahwa tiap-tiap manusia (muslim) itu memiliki kewajiban dakwah, dan salah satunya adalah yang mereka geluti, yaitu dakwah siyasiyah (berpolitik praktis). Atas nama dakwah dalam pemahaman kader PKS, maka demonstrasi itu adalah jihad, kampanye adalah jihad, bakti sosial mungkin juga jihad, dan mati kecelakaan ketika kampanye adalah mati syahid sehingga layak disebut syuhada (pahlawan). Cukup aneh karena dalam Islam sendiri dilarang untuk mengatakan seseorang itu syahid karena perkara syahid atau tidaknya seseorang itu hanya Tuhan yang tahu.

Maka segala hal kritik atas perilaku dan metode PKS akan dianggap menghalangi jalan dakwah, apalagi keluar dari organisasi ini akan dianggap pengkhianat dakwah atau lebih halus lagi ‘gugur di jalan dakwah’, mereka menyebutnya futhur dalam bahasa internal. Kalau saya menyebutnya futuristik, alias berpikir modern. Keluar dari PKS sungguh tidak enak, mungkin rasanya seperti murtad dari agama Islam. Orang-orang yang dahulunya bagai saudara, serentak seperti dikomando akan berlaku sinis kepada kita, inbox SMS bisa penuh dalam semalam berisi ajakan-ajakan untuk tobat, dan seketika kita akan terkenal sebagai seorang futur of the month.

Sensasi dakwah PKS memang amat terasa bagi kader-kader muda. Dengan bergelora mereka akan melakukan berbagai cara untuk merekrut anggota, semua atas nama dakwah dakwah dan dakwah. Namun sesungguhnya semangat itu kebanyakan halusinasi, karena ada juga yang masih terbata-bata mengaji namun telah sukses ‘berdakwah’ (baca:mencetak simpatisan).

Secara historis memang Partai Keadilan (bukan PKS) lahir dari sebuah jamaah dakwah dengan  tujuan membawa dakwah ke ranah politik yaitu dengan cara menunjukkan contoh-contoh yang baik. Anda tentu masih ingat Mashadi, anggota DPR periode 1999-2004 dari PK yang tidak malu memarkir motornya di samping mobil-mobil mewah anggota DPR lain di parkiran gedung DPR. Tapi itu dulu, sekarang hampir semua pendakwah dari Partai Keadilan ini sudah meninggalkan PKS, termasuk Mashadi yang fenomenal itu.

 

Piramida Dakwah dan Istilah-istilah PKS

PKS memiliki istilah-istilah khusus dalam kegiatannya, mari kita buka satu-satu:

  • Ammah,  ini artinya masyarakat umum diluar PKS yang masih belum ‘tersentuh dakwah’ sehingga menjadi target perekrutan.
  • Qiyadah, ini artinya pemimpin, pada prakteknya ketua DPW, DPC, DPRA, anggota Majelis Syura dan petinggi-petinggi lainnya. Qiyadah ini wajib dipercaya sebagai manusia bersih karena dianggap pemahamannya tentang syariat sudah amat tinggi sehingga kecil kemungkinan berbuat kesalahan.
  • Tsiqah, artinya percaya. Percaya sama siapa? Ya itu sama Qiyadah tadi. Pokoknya percaya bahwa mereka tidak macem-macem, apa yang mereka putuskan adalah yang terbaik dan pahit manis nya harus dilaksanakan walaupun bertentangan dengan logika dan hati nurani.
  • Bayan, ini maksudnya rekomendasi atau seruan atau perintah dari pada Qiyadah. Bayan ini harus diikuti dan tidak boleh dipertanyakan.
  • Thoat, artinya taat pada Qiyadah dan bayan-bayan yang mereka keluarkan. Jangan mengkritik karena hanya akan menceraiberaikan kader dari jalan dakwah.
  • Jundi, artinya prajurit. Inilah porsi terbanyak anggota PKS, dalam kata lain kader dan simpatisan. Jundi harus menaati perintah Qiyadah dan siap digerakkan dalam kondisi apa saja. Mereka adalah pion-pion tanpa nama yang diukur dalam satuan angka. 1000, 100 ribu, sejuta, dua juta. Mereka harus siap sedia untuk dipanggil dalam seruan demonstrasi dan tentu saja memberikan suara dalam pemilu.
  • Murabbi, artinya guru. Mereka adalah para ustadz yang menyelenggarakan Liqo’ (pertemuan mingguan) dalam rangka mendakwahkan ide-ide PKS dalam bahasa agama. Para murabbi ini levelnya berlapis-lapis bagai struktur MLM. Tidak semua mereka masuk di struktur partai, tapi mereka berperan penting dalam menyampaikan bayan. Murabbi kadang juga jadi pelindung bagi kader dalam urusan kesulitan ekonomi.
  • Liqo’ (pertemuan mingguan). Kegiatan ini berisi pengajian dan curhat dengan sedikit sekali muatan keilmuannya. Intinya hanya mengontrol seorang kader. Liqo’ ini bagaikan ibadah mingguan tambahan yang wajib dihadiri dalam kondisi apapun (macet, banjir, sakit, ga ada duit). Oh ya, kalau ga salah Liqo’ ini juga bagian dari jihad.
  • Jihad. Jangan takut dulu, meskipun kedengaran seram, istilah ini tak lain hanyalah demonstrasi dan kampanye.
  • Infaq. Inilah pengumpulan dana dengan besaran paling kecil 5,000 rupiah untuk kegiatan partai semacam Munas. Andaikan satu juta kader saja menyumbang 5,000 tentu akan terkumpul 5 milyard. Ya cukuplah untuk mengadakan acara di Ritz Carlton atau di Pulau Bali. Para kader yang sehari-harinya hanya mengajar mengaji cukuplah menyaksikan kemewahan ini di televisi.

 

Sekian kiranya dunia PKS yang ingin saya bagi dengan khalayak ramai, semoga memahami ayat-ayat PKS ini. Oya, bicara soal ayat, PKS paling jago dalam urusan melepaskan ayat dari asbabun nuzulnya, pokoknya asal kalimatnya cocok, ayat itu pun dicomot untuk menguatkan pendapat.

 

Selamat memilih PKS. Semoga anda mendapat Hidayah.

 

Kalau ada sebuah partai politik yang paling menggemaskan untuk dihujat dalam dua tahun terakhir ini tentunya adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meskipun tidak tercatat sebagai kader dan simpatisan, saya tertarik membahas parpol yang satu ini karena secara konsisten saya menemukan komentar-komentar negatif yang terlalu ramai pada setiap artikel yang memberitakan tentang partai ini, terutama di media-media online besar seperti Kompas.com, Detik.com, Okezone.com, Republika.co.id, Vivanews.com dan Inilah.com.

pks-oke

Komentar-komentar negatif ini datang dari berbagai pihak dengan bermacam afiliasi politik termasuk yang mengaku apriori dan apatis terhadap politik. Lucunya komentar atau lebih tepat hujatan ini kadang benar-benar tidak ‘nyambung’ dengan berita, pokoknya apapun beritanya akan dihajar dengan hujatan-hujatan kejam yang ramainya minta ampun. Jika persentase hujatan terhadap jumlah komentar ini telah melebihi 95% tentunya akan berdampak pula terhadap opini publik.

Kalangan yang pro PKS katakanlah kader atau simpatisan barangkali pernah mencoba memberi warna pada kolom-kolom komentar ini, namun bisa dipastikan akan segera di-bully dan dihajar beramai ramai dengan sebutan onta.

Nah barangkali perlu juga kiranya saya klasifikasi jenis-jenis hujatan tersebut dan dihadapkan pada faktanya (ini bukan klarifikasi, cuma ingin sedikit berimbang karena kita sama-sama cuma pengamat). 

  1. Partai Koruptor Sejahtera, ini adalah typical hujatan yang lumayan laris, bahkan mewakili 30 % dari hujatan. Tudingan ini awal mulanya muncul karena kasus Misbakhun yang divonis bersalah dalam kasus Bank Century. Beberapa kader lain yang diperiksa terkait dugaan korupsi adalah Tamsil Linrung, Anis Matta dan Rama Pratama. Jumlahnya 4 orang, persis seperti laporan Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Namun menarik dicermati, karena 3 orang yang terakhir ternyata tidak sampai ke Pengadilan Tipikor, hanya ditanya-tanya saja. Dan ajaibnya, orang yang paling terkenal yaitu Misbakhun pada akhir cerita justru divonis BEBAS MURNI oleh Mahkamah Agung dan nama baiknya dipulihkan. Yang bersangkutan bahkan sempat menulis buku berjudul “Melawan Takluk : Perlawanan dari Penjara Century” yang berkisah tentang rekayasa hukum yang dialaminya. Artinya hingga saat artikel ini ditulis, tidak ada satupun kader PKS yang terbukti korupsi. Tudingan koruptor sejahtera ini lebih banyak karena sangkaan karena beberapa petinggi partai seperti Anis Matta memang cukup tajir dan hidup mentereng.
  2. Partai Ketagihan Syahwat, atau jenis-jenis hujatan yang terkait dengan perilaku seksual para kadernya. Hujatan ini mengemuka dan membahana sejak tertangkap kameranya Arifinto, yang terpilih dengan sangat cermat  oleh seorang juru kamera Metro TV dari 500-an hadirin di Ruang Rapat Paripurna DPR. Yang bersangkutan katanya terbukti menonton video porno dari Samsung Galaxy Tab nya. Tak ayal lagi peristiwa aneh dengan probability 1/550 ini menjadi akhir tragis dari karirnya, dimana yang bersangkutan akhirnya dipaksa mundur dari partai. Namun karya sang fotografer Metro TV ini akan tetap abadi dalam ingatan masyarakat dan menjadi cela yang tak pernah hilang bagi PKS. Metro TV memang jagonya dalam membuat berita negatif tentang PKS, ada apa? Tentunya kita sudah sama-sama tahu.
  3. Partai Kemunafikan Sejati, konon kabarnya ini soal pilihan PKS untuk berkoalisi dengan Fauzi Bowo pasca kekalahan Hidayat Nur Wahid dalam Pilkada DKI Jakarta Putaran Pertama. Kabar soal mahar milyaran dari Foke yang entah iya entah tidak, dihembuskan dengan sangat kencang oleh pendukung Jokowi-Ahok. Banyak juga yang mengaku-ngaku bekas kader, bekas simpatisan, bekas konstituen dan lain-lain yang berkomentar soal kemunafikan ini. Namun saya heran, munafik itu artinya apa? Dan apakah munafik itu menimbulkan kerugian negara? Lalu siapa saja yang tidak munafik? Oh come on, ini kan dunia politik, bukan pernikahan yang mengharamkan perselingkuhan.
  4. Partai Poligami. Hmm, sepertinya bukan hanya kader PKS deh yang berpoligami namun kenapa yang paling disorot adalah PKS? Soekarno, Hamzah Haz, Abdullah Gymnastiar dan banyak lagi tokoh-tokoh politik dan kyai-kyai juga berpoligami. Selama mereka tidak membuat Poligami Award ala Ayam Bakar Wong Solo kenapa harus dihujat?
  5. Partai Keranjang Sampah, wah yang ini gak tahu deh artinya apa.

 

Kesimpulan sementara, saya bingung dengan hujatan-hujatan ini, karena banyak yang tidak faktual, sudah expired, tidak masuk akal, tidak nyambung dan lain lain. Apa yang sebenarnya diharapkan masyarakat dari PKS sebagai partai politik?

 

Kalau cuma untuk mengisi gedung parlemen dan gedung pemerintah daerah, tentu kriteria bersih dari korupsi sudah cukup. Terus terang saya tidak terlalu peduli dengan aspek urusan pribadi mereka-mereka selama tidak merugikan negara. Bukankah pada hakikatnya setiap politisi itu hanya pekerja sosial yang kita gaji dengan uang pajak? Selama mereka amanah dengan gaji yang mereka terima tentunya tidak masalah.

 

Bagaimana menurut Anda? Ada yang lebih baik dari PKS untuk soal ini?

Tibet Map East Asia Map Central Asia Map Peoples Republic of China Map East Turkestan Map Manchuria Map Mongolia Map Central Eastern Asia Xinjiang Uyghur Uyghuristan

Central East Asia

Central East Asia

  1. Peoples Republic of China
  2. Republic of Turkestan
  3. Kingdom of Tibet
  4. Republic of Mongolia
  5. Republic of Manchuria
Greater Central Eastern Asia

Greater Central Eastern Asia

 

Karena nila setitik rusak susu sebelanga”

Enam tahun dibawah pemerintahan SBY, wajah komunikasi politik negeri ini telah berubah amat dramatis. Untuk menjadi politisi atau tokoh politik saat ini benar-benar harus memiliki mental yang kuat atau staf marketing yang mumpuni. Kerja keras semata tanpa promosi yang diliput media bisa-bisa malah berdampak sebaliknya, menjadi jebakan yang memenjara.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mungkin salah satu contoh yang menjadi korbannya. Niat hati untuk mengangkat ekonomi propinsi lewat promosi pariwisata dan kerjasama di bidang energi terbarukan berujung jadi kecaman, umpatan dan hujatan.

Malang bagi gubernur yang baru terpilih ini. Seorang gubernur muda dengan latar belakang akademisi yang mungkin belum cukup awas dengan wabah citra yang berjangkit di negerinya. Ia nekat pergi ke Jerman untuk menghadiri hajatan yang memang telah dirancang jauh-jauh hari sebelumnya.

Sial baginya, hajatan itu berlangsung saat salah satu kabupaten di propinsinya tengah dilanda bencana tsunami. Bagi seorang gubernur yang tak paham citra ia telah melakukan semampunya. Sebagai seorang yang mengerti manajemen pemerintahan ia telah mengkoordinasikan penanganan bencana kepada staf dan jajarannya, sebagai bekal untuk meninggalkan negerinya selama 5 hari.

Mungkin menurut dia dengan menginap 2 hari 2 malam di lokasi bencana sudah cukup untuk menunjukkan empati, paling tidak 20 kali lipat lebih lama daripada sang presiden yang pernah melawat 2 jam saja. Mungkin menurut dia dengan koordinasi yang telah didelegasikan semua akan tetap terkendali dan akan baik-baik saja.

Maka berangkatlah dia dengan segala persiapan itu. Ia terlalu takut jika 5 propinsi lain yang diundang pemerintah Jerman akan menyambar peluang yang mungkin saja bisa didapatkan propinsi yang dipimpinnya. Ia terlalu lugu dengan semua itu.

Maka pecahlah berita. Dalam semalam ia menjadi terkenal menjadi gubernur yang tak berperasaan. Gubernur yang tega berjalan-jalan disaat rakyatnya kelaparan. Dengan segala berita media dan komentar-komentar yang menyertainya pupus sudahlah citranya. Segala fitnah dan sumpah serapah mengalir untuk dirinya.

Ia bekerja, namun tak mendapat Piala Citra.

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 311,776 hits
%d bloggers like this: