You are currently browsing the category archive for the ‘Homeland’ category.

Aceh






Bali






Read the rest of this entry »

Advertisements

Pariaman Laweh

Luhak Agam – Maninjau dan Bukittinggi

Luhak Tanah Datar – Nagari Andaleh dan Batusangkar

Luhak Lima Puluh Koto – Lembah Harau dan Payakumbuh

Solok dan Singkarak

Sawahlunto

 

1357584305534776925

Provokatif kah judul artikel diatas? Bisa ya bisa tidak, tergantung dari mana anda menilainya, kalau saya sebagai free thinker menganggapnya biasa saja. Nanti anda juga tahu apa sebenarnya yang saya maksud. Bernuansa SARA-kah artikel ini? Oh jelas, kalau soal ini saya tidak akan menafikannya. Tapi barangkali kita semua sepakat bahwa masalah SARA itu justru harus dibahas secara terbuka sehingga kita bisa saling menerima dan saling memahami satu sama lain yang akan berbuah toleransi dan saling menghargai. Percuma juga kan kalau alergi ngomongin SARA terang-terangan namun saling hujat dengan bahasa tidak terpelajar di forum-forum komentar.

Baiklah, sekian pembukaan artikelnya, semoga tidak ada yang kaget lagi. Sekarang saya beranjak kepada isi cerita, yaitu fenomena yang menghebohkan banyak masyarakat Minangkabau baik di Sumatera Barat maupun di seantero dunia perantauan mereka baik di dalam maupun di luar negeri.

Masyarakat Minangkabau tiba-tiba gempar dalam dua minggu belakangan ini. Mereka berkicau di hampir semua forum dan kanal social media tentang sebuah film yang meresahkan mereka. Cinta Tapi Beda, karya terbaru sutradara Hanung Bramantyo dan produser Raam Punjabi telah membuat masyarakat Minangkabau tersentak. Mereka merasa zona nyamannya telah diusik dengan semena-mena oleh Hanung dengan alasan kebebasan berekspresi. Bagaimana bisa?

Penyebabnya adalah keberadaan salah satu tokoh utama dalam film itu yang bernama Diana, seorang gadis asal Padang yang merupakan penganut Katholik taat dan berwajah sangat Indonesia. Tokoh ini muncul dengan simbol-simbol arsitektur Minang yaitu Rumah Gadang, dialek Minang dan nuansa lain yang dibangun seolah-olah dia adalah gadis dari etnik Minangkabau. Hanya saja dia tidak beragama Islam sebagaimana jamaknya etnik Minangkabau. Diana beragama Katholik dan dibesarkan oleh keluarga yang gemar makan hidangan babi rica-rica.

Sebenarnya Hanung mungkin sadar juga untuk bermain api karena dia menggunakan istilah gadis asal Padang bukan gadis Minangkabau. Apa bedanya? Nah ini dia. Bagi orang di luar Sumatera Barat, Padang dan Minangkabau adalah hal yang identik, bahkan sebagian besar perantau Minangkabau sudah menerima saja diidentifikasi sebagai orang Padang (istilah yang sebenarnya salah kaprah). Namun bagi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, orang Padang belum tentu berasal dari etnik Minangkabau. Ia bisa saja etnik Tionghoa, etnik Nias, etnik Mentawai, etnik Batak, etnik Arab dan bahkan etnik India (Keling). Orang Minangkabau tidak terlalu mengurusi agama yang dianut oleh etnik-etnik selain Minangkabau itu. Padang adalah kota multi etnik dengan tingkat toleransi antar etnik dan agama yang cukup baik. Orang Tionghoa biasanya beragama Katholik, Protestan atau Konghucu dan Buddha. Sedangkan Nias dan Mentawai rata-rata beragama Protestan. Sedangkan India beragama Hindu dan Islam. Kalau orang Minangkabau? Jangan ditanya, mereka akan menjawab 100% Islam.

Mungkin etnik lain akan mempertanyakan, masa iya bisa dijamin kalau Minangkabau itu 100% Muslim. Jawabnya adalah konsep yang dianut masyarakat Minangkabau itu yang mengkaitkan etnisitasnya dengan agama Islam, dalam bahasa mereka “Adat bersendi syariat, Syariat bersendi Al-Qur’an (ABS-SBK)”. Konsep yang mereka anut ini membawa konsekuensi bahwa setiap orang Minangkabau yang keluar dari agama Islam, tidak dianggap orang Minangkabau lagi secara adat, walaupun secara genetik ia masih 100% Minangkabau. Hak-hak adatnya akan gugur, warisannya akan hilang dan dia dibuang dari keluarga. Kejam? Boleh saja anda berpendapat begitu, namun itulah keputusan bersama masyarakat Minangkabau secara musyawarah mufakat, dan ketentuan ini sudah mendarah daging bagi mereka. Minangkabau itu harus Islam, bukan Islam sudah pasti bukan Minangkabau. Sejak awal terciptanya etnis Minangkabau memang tidak mendasarkan dirinya kepada keturunan (genealogis) namun kepada konsep ideologis yang disebut Adat, yang pada kemudian hari mendapat unsur baru yaitu agama.

Inilah realita psikologi sosial yang diamini oleh masyarakat Minangkabau. Dalam komunitas negara yang bernama Indonesia ini tentunya orang Minangkabau berhak untuk diakui keunikannya ini sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Mereka tentu berharap orang di luar etnik Minangkabau memahami hal ini dan menghargai, sebagaimana mereka menghargai komunitas lain.

Batas inilah yang dilangkahi oleh Hanung Bramantyo yang dengan sembrono mengkampanyekan hal-hal yang bertentangan dengan psikologi sosial masyarakat Minangkabau. Wajar saja mereka protes keras bahkan terakhir sudah mengajukan gugatan hukum. Sejatinya orang Minangkabau itu cukup toleran, jarang terdengar ada konflik agama dan etnik di Ranag Minang. Mungkin mereka tidak akan terlalu perduli dengan tema-tema film Hanung seperti “tanda tanya” atau tema-tema nikah beda agama. Tetapi ketika Hanung sudah mengacak-acak dan tidak menghormati konsensus budaya mereka, apalagi Hanung ini bukan orang Minang, maka mereka serempak bersuara.

Kasus Hanung ini merupakan pelajaran yang bagus dan ujian bagi pluralitas dan kebebasan berpendapat di Indonesia. Setiap kebebasan itu haruslah disertai tanggung jawab. Untuk apa kita bebas-bebasan namun malah merusak kedamaian. Realitas sosial boleh diangkat dan tidak baik juga untuk ditutup tutupi, namun kebohongan sosial tentu tidak dapat diterima akal sehat. Di atas semua itu sikap saling memahami, saling menghargai dan saling menerima adalah kunci bagi tetap merekatnya hubungan kita sebagai sebuah bangsa yang sedang berproses.

Untuk Hanung, semoga kedepan semakin bijaksana dan cerdas melakukan analisa. Membuat film Perempuan Berkalung Surban mungkin boleh-boleh saja, tapi Minangkabau Berkalung Salib? Ehm, sebaiknya jangan dicoba.

Salam Damai Indonesia.

Pariaman …

Padang Panjang …

Bukittinggi …

 

Karena nila setitik rusak susu sebelanga”

Enam tahun dibawah pemerintahan SBY, wajah komunikasi politik negeri ini telah berubah amat dramatis. Untuk menjadi politisi atau tokoh politik saat ini benar-benar harus memiliki mental yang kuat atau staf marketing yang mumpuni. Kerja keras semata tanpa promosi yang diliput media bisa-bisa malah berdampak sebaliknya, menjadi jebakan yang memenjara.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mungkin salah satu contoh yang menjadi korbannya. Niat hati untuk mengangkat ekonomi propinsi lewat promosi pariwisata dan kerjasama di bidang energi terbarukan berujung jadi kecaman, umpatan dan hujatan.

Malang bagi gubernur yang baru terpilih ini. Seorang gubernur muda dengan latar belakang akademisi yang mungkin belum cukup awas dengan wabah citra yang berjangkit di negerinya. Ia nekat pergi ke Jerman untuk menghadiri hajatan yang memang telah dirancang jauh-jauh hari sebelumnya.

Sial baginya, hajatan itu berlangsung saat salah satu kabupaten di propinsinya tengah dilanda bencana tsunami. Bagi seorang gubernur yang tak paham citra ia telah melakukan semampunya. Sebagai seorang yang mengerti manajemen pemerintahan ia telah mengkoordinasikan penanganan bencana kepada staf dan jajarannya, sebagai bekal untuk meninggalkan negerinya selama 5 hari.

Mungkin menurut dia dengan menginap 2 hari 2 malam di lokasi bencana sudah cukup untuk menunjukkan empati, paling tidak 20 kali lipat lebih lama daripada sang presiden yang pernah melawat 2 jam saja. Mungkin menurut dia dengan koordinasi yang telah didelegasikan semua akan tetap terkendali dan akan baik-baik saja.

Maka berangkatlah dia dengan segala persiapan itu. Ia terlalu takut jika 5 propinsi lain yang diundang pemerintah Jerman akan menyambar peluang yang mungkin saja bisa didapatkan propinsi yang dipimpinnya. Ia terlalu lugu dengan semua itu.

Maka pecahlah berita. Dalam semalam ia menjadi terkenal menjadi gubernur yang tak berperasaan. Gubernur yang tega berjalan-jalan disaat rakyatnya kelaparan. Dengan segala berita media dan komentar-komentar yang menyertainya pupus sudahlah citranya. Segala fitnah dan sumpah serapah mengalir untuk dirinya.

Ia bekerja, namun tak mendapat Piala Citra.

“Mengapa Lagu Minang Lamo begitu dirindukan oleh para penyukanya?”

Pertanyaan sederhana yang menggelitik ini begitu menantang untuk dijawab dan dijelaskan. Setelah empat tahun lebih mengelola situs Lirik Lagu Minang Lamo perlahan-lahan saya menemukan samar-samar jawabannya.

Komunal

Kata di atas merupakan kata pertama yang terlintas di fikiran saya setelah mengamati hampir 500 lirik lagu Minang pada kurun waktu 1950-an sampai 1980-an. Lirik-lirik lagu tersebut sebahagian besar mewakili perasaan bersama orang Minang. Jarang sekali perasaan-perasaan personal yang populer pada lirik lagu zaman sekarang muncul pada kurun waktu tersebut. Bahkan untuk urusan percintaan sekalipun, setiap intrik yang dimunculkan dalam lirik lagu mengambil latar belakang yang komunal, yang dirasakan hampir semua orang yaitu masalah klasik percintaan di Ranah Minang. Apalagi kalau bukan perjodohan oleh orang tua atau tentang status sosial ekonomi yang menjadi penghalang jalan ke pelaminan. Tengoklah lirik-lirik lagu seperti Langkah Kida, Japuiklah Denai, Tasarah Mamak dan Tabuang Cinto di Umbilin sebagai perbandingan.

Perantauan

Solusi dari masalah-masalah sosial ekonomi tersebut bisa ditebak dengan gampang. Apalagi kalau bukan Marantau. Hampir semua anak Minang mengalami fase merantau ini, yang dalam lirik lagu Minang lamo terekam dengan baik. Dengan bersedih hati kampung ditinggalkan seperti yang terekam dalam lirik Tinggalah Kampuang, Kelok 44 dan KM Kurinci.

Daerah daerah tujuan perantauan ini bervariasi dari yang dekat seperti Riau hingga yang jauh seperti Jawa. Lihatlah lirik lagu Barangkek Kapa, Sinar Riau, Tanah Jao dan Tanjuang Pariuak.

Setelah sampai di perantauan nasib yang tidak kunjung baik pun menyergap. Maka berkeluh kesahlah mereka dalam lagu dan ratok, baik terang-terangan maupun dengan kiasan. Lirik-lirik lagu seperti Apo Ka Tenggang, Nasib Kabau Padati, Roda Padati dan Mangana Untuang menggambarkan suasana tersebut.

Dalam pada itu kerinduan pada kampung halaman tidak tertahankan lagi. Situasi ini tercurahkan pada lagu-lagu seperti Kampuang Nan Jauah di Mato, Minang Maimbau, Imbauan Kampuang dan Taragak.

Nostalgia dan Peristiwa

Banyak hal yang tidak dapat dilupakan oleh perantau Minang tentang kampung halamannya. Salah satunya adalah makanannya. Ya, makanan. Puluhan lirik lagu dibuat dengan mengabadikan nama berbagai macam makanan/masakan khas Minang. Tengoklah lirik-lirik Bareh Solok, Es Kuncang, Lamang Tapai, Lompong Sagu, Palai Bada, Sala Maco, Kue Mangkuak, Ondeh Ondeh, Kue Dokok Dokok, Karupuak Sanjai, Bika Si Mariana, Sala Lauak, Katupek Gulai Paku, Kue Sarabi, Nasi Ampera dan Sate Piaman.

Peristiwa-peristiwa sejarah dan politik tidak ketinggalan menyumbangkan kenangan dalam lirik lagu. Simak lirik-lirik bernuansa perjuangan semacam Mariam Tomong atau seputar peristiwa PRRI seperti Hari Pagi, Gadih Lambah, Nan Dihati dan Sabalun Tabik Matoari.

Kritik Sosial

Dalam kurun waktu sepanjang 1950-an sampai 1990-an tentulah banyak perubahan yang terjadi pada orang Minang, baik yang di Ranah Minang maupun yang berdomisili di perantauan. Ternyata orang Minang ini tidak tinggal diam menghadapi perubahan-perubahan ini. Keresahannya diungkapkan dalam lirik-lirik seperti Antahlah, Sinandi Nandi, Si Nona, Sabai Nan Aluih dan Basiginyang.

Begitulah, orang Minang yang terkenal dengan tradisi lisannya menggunakan lirik-lirik lagu sebagai kamera yang merekam segala aspek kehidupannya. Oleh karena itulah, pada saat mereka rindu terhadap ruang dan waktu di masa lampau tersebut, dengan segera mereka kembali ke dendang lama, menyenandungkan lagu-lagu Minang lamo tersebut untuk bernostalgia dengan kenangan lama.

Lirik Lagu Minang Lamo hadir dalam versi tulisan untuk lebih mengabadikan kenangan-kenangan tersebut. Semoga kehadirannya dapat bermanfaat bagi orang Minang di mana saja.

“Hai perempuan kampung! Jangan pernah kamu membayangkan akan mengawini anakku. Satu-satunya menantu yang diakui keluarga Sanjaya hanyalah Khumairah!”

Lama tidak menyimak sinetron Indonesia, tiba-tiba saya tersentak dan terperangah ketika mendengar sepotong kalimat ini dari mulut salah satu pemerannya. Sinetron apa yah yang akhirnya saya tonton juga setelah hampir 8 tahun mengharamkan jenis tayangan ini? Judulnya adalah “Munajah Cinta“. Kenal dengan sinetron ini berkat bujuk rayu adik-adik sepupu saya di rumah ketika saya pulang kampung selama 10 hari awal bulan ini. Demam film Ayat Ayat Cinta ternyata ikut menjangkiti adik-adik saya tersebut sehingga sinetron yang diklaim sebangun dengan film sukses tersebut, pun mereka anggap layak untuk ditonton. Akhirnya saya menonton juga episode pertama sinetron ini pada tanggal 4 Mei 2008, dan ketagihan :mrgreen: sampai 7 episode yaitu sampai tanggal 10 Mei 2008. Minggu berikutnya saya sudah berada di Jakarta lagi sehingga tidak sempat lagi mengikuti sinetron ini. Kesan saya, sinetron yang satu ini memang beda dengan tayangan sejenis kalaulah tidak kita anggap melawan mainstream. Tayang pada saat primetime, tontonan ini menyajikan jalan cerita yang mendekati logis dan alur yang berjalan cepat serta cukup sukses menghilangkan ciri-ciri utama yang dianut tontonan berjenis sinetron, misalnya eksploitasi kesedihan yang berlebihan, peran antagonis yang tidak masuk akal dan adegan ternganga-nganga yang bisa menyita waktu sampai 5 menit 😀

Kembali kepada kutipan diatas setelah berpanjang-panjang membahas latar belakang sinetron unik ini. Mungkin pembaca masih bingung, apa istimewanya kutipan di atas sehingga membuat saya shock dan terperangah. Tidak dinyana, pada salah satu episode yang saya ikuti pada akhir pekan lalu saya mendengar ucapan ini. “Perempuan kampung!”, frase yang sangat saya benci itu tiba-tiba muncul di sinetron yang sudah saya naikkan penilaiannya di mata saya. Ucapan sinis bernada merendahkan ini diucapkan oleh Ayu Dyah Pasha (pesinetron senior yang telah eksis di zaman serial laga tahun 90’an) dan Dwi Yan (tak kalah seniornya mengingat sudah muncul pada serial Dokter Sartika di TVRI pada 90’an). Kedua pemeran ini saya anggap telah cukup senior dan seharusnya tidak terkontaminasi penyakit menular sinetron Indonesia sekarang.

Namun apalah daya. Kartel India yang sangat berkuasa di belantara persinetronan tanah air ternyata sangat perkasa dalam menyulap istilah “kampung” menjadi berkonotasi jelek dan tercela. Mereka sukses mendogma masyarakat kita bahwa kini istilah “kampung” lekat dengan kesan bodoh dan layak di cemooh. Yang lebih dahsyat lagi sekarang mereka mengkampanyekan Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 313,297 hits
%d bloggers like this: