You are currently browsing the category archive for the ‘In Blue’ category.

May 2005, Jogjakarta

Saat kau peroleh rasa

Dalam makna cinta

Tak hiraukan semua angkara

 

Hanya satu buah titah

Yang kami ejawantah

Terlalu banyak cinta kan binasa

 

Yang indah kau rasa

Yang manis kau beri

Walau itu hanya sementara

 

Lihat dirimu…

Semakin jauh mengayuh

Lewati segala tujuan hidup yang mungkin kau tempuh

 

Tentukan yang utama

Yang satu tercinta

Kan jadi teman hidup yang setia

Semoga kau masih ingat ketika lagu ini kuperdengarkan pertama kali padamu lewat telepon. Maafkan aku mengganggu ketentraman duniamu saat itu.

(taken from Sheila on 7 – Mari Bercinta)

 

June 2006, Jakarta

Serapuh kelopak sang mawar

Yang disapa badai, berselimutkan gontai

Saat aku menahan sendiri diterpa

Dan luka oleh senja …

 

Semegah sang mawar dijaga

Matahari pagi bermahkotakan embun

Saat engkau ada disini, dan pekat

Pun berakhir sudah

 

Akhirnya aku menemukanmu

Saat ku bergelut dengan waktu

 

Beruntung aku menemukanmu

Jangan pernah berhenti memilikiku

Hingga ujung waktu

 

Setenang hamparan samudra

Dan tuan burung camar takkan henti bernyanyi

Saat aku berkhayal denganmu

Dan janji, pun terukir sudah

 

Jika kau menjadi istriku nanti

Fahami aku saat menangis

 

Saat kau menjadi istriku nanti

Jangan pernah berhenti memilikiku

Hingga ujung waktu …

 

Dan semoga lagu ini masih kau ingat juga, ketika kuperdengarkan dengan cara yang sama. Kita masih sama-sama percaya, bahwa jarak dalam ruang dan waktu bukan hambatan.

(taken from Sheila on 7 – Hingga Ujung Waktu)

 

July 2007, Batam

Kesabaran adalah kunci, yang menjaga kita terus bertahan

Penat yang datang sesekali, pasti selalu ada disepanjang jalan

 

Aku masih mampu untuk menemanimu

Belum ada rasa ingin menyerah

Dan aku masih mampu untuk melindungimu …

Belum ada terkikis oleh lelah

 

Kau meragukanku saat ini, seperti kau meragukan perasaanmu padaku

Percaya padaku sekali ini, aku masih pantas untuk kau tunggu

 

Aku masih mampu untuk menemanimu

Belum ada rasa ingin menyerah

Dan aku masih mampu untuk mencintaimu …

Dengan semua ketulusan hatiku

Tiba-tiba kaukatakan cukup. Kau bilang kau bukan yang dulu lagi. Semudah itukah engkau menyerah? Justru pada saat-saat yang menentukan.

Takkan sampai sewindu ku minta engkau menunggu. Hanya sepuluh purnama saja.

Semoga kau tahu, Aku disini masih menunggu penyesalanmu.

(taken from The Rain – Masih Mampu Menemanimu)

Advertisements

Mei 2001, Pariaman

 
 

Masih saja kuteringat kata iringi kau pergi
Jadikan sore itu satu janji
Kau akan setia untukku, kembali untuk diriku
Mengingatku walau aku jauh

 

Akupun sempat janjikan, kukayuh semua mimpiku
Kulabuh tepat di kotamu…
Dan kaupun s’lalu janjikan kau ‘kan menungguku datang
Bersatu kembali seperti dulu

 

Dan bila akupun rindu pada nyamannya kecupmu
Pada hangatnya tawamu
Kudendangkan dengan gitar lagu-lagu kesayangan
Sambil kuingat indah wajahmu
Oo… oo…

 

Tunggulah aku di Jakarta mu
Tempat labuhan semua mimpiku
Tunggulah aku di kota itu
Tempat labuhan semua mimpiku

 
     

Kita masih sama-sama belum tahu saat itu akan kemana ini semua bermuara. Dan empat tahun pun berlalu dalam kisahnya masing-masing.

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 311,776 hits
%d bloggers like this: