You are currently browsing the category archive for the ‘Insight’ category.

Hari ini mungkin menjadi ujung dari sebuah cerita yang berawal empat tahun lalu. Sebuah kelalaian, kebodohan dan kecelakaan sejarah yang harus ditebus dengan harga yang cukup mahal.

Singkat cerita, lima tahun yang lalu anak pertama saya lahir di sebuah rumah sakit di Jakarta Timur. Kelalaian kami adalah tidak segera mengurus Akte Kelahiran nya. Saya menunda hingga 8 bulan setelahnya karena dulu saya membuat akte pada usia 11 tahun dan tidak ada masalah.

Kebodohan kami dimulai dari keputusan mempercayakan urusan pembuatan akte ini kepada seorang petugas kantor desa (sebut saja calo premium). Dengan alasan kesibukan dan kebetulan kami juga warga perumahan baru, dimana saat itu belum terbentuk RT/RW, menurut hemat kami menggunakan jasa seharga 300.000 itu cukup masuk akal.

Drama dimulai dari kedatangan sang petugas ke rumah, menyampaikan bahwa kami sudah melanggar Undang Undang Kependudukan. Berdasarkan UU kekinian itu, akte kelahiran harus diurus paling lambat 6 bulan setelah kelahiran anak. Jika terlambat konsekuensinya adalah mengajukan sidang dulu ke Pengadilan Negri dengan biaya perkara dan denda yg cukup besar plus serangkaian prosedur yang cukup rumit. Kami mengangguk-angguk saja tanpa harapan. Disinilah petugas tersebut menawarkan ‘jasa istimewa’ yaitu menyulap pemberkasan sehingga terlihat tidak terlambat. Dia mengaku punya kenalan dengan orang dalam Dinas Catatan Sipil Kab.Bogor. Intinya saya tidak perlu pusing urusan pengadilan. Harga yang diminta untuk jasa istimewa ini adalah 800.000 rupiah, wow.

Kami menunggu cukup lama hingga petugas tadi mengantar akte ke rumah 3 bulan kemudian. Di sinilah kami mengetahui ada kecelakaan sejarah, tempat lahir yang seharusnya Jakarta tertulis Bogor di akte kelahiran. Bagaimana bisa? Kami protes keras minta hal ini diperbaiki segera. Petugas beralasan ini sudah sesuai peraturan, tempat lahir menyesuaikan dengan alamat KTP orang tua, begitu dalihnya. Kami tetap tidak terima dan akhirnya petugas ini setuju untuk kembali ke Catatan Sipil, minta perbaikan. Tiga bulan kemudian dia datang dan berkata, data tidak bisa diubah lagi. Belakangan baru kami tahu kalau data tidak bisa diubah lewat satu minggu setelah akte dikeluarkan, setiap perubahan harus lewat penetapan pengadilan. Kami juga akhirnya tahu bahwa petugas sialan ini ternyata tidak pernah pergi ke Catatan Sipil dan akte terlambat diberikan kepada kami. Kami terpaksa menerima akte seharga 800.000 yang cacat sejarah.

……

Perlu waktu yang cukup lama bagi kami untuk memutuskan perbaikan data tempat lahir anak pertama kami. Kami menimbang-nimbang apakah perbaikan itu worthed mengingat prosedurnya cukup panjang, belum lagi biaya perkara yang harus dibayar sebesar 800.000 (lagi!). Sebenarnya bukan soal gaya-gayaan ingin punya anak dengan tempat lahir Jakarta, namun lebih kepada rasa kebenaran yang tercederai.

Proses perbaikan akta ini dimulai dari pengumpulan informasi data yang harus disiapkan dan prosedurnya. Orang tua saya sangat berperan pada tahapan ini karena untuk bepergian Cileungsi-Cibinong kerap butuh satu hari penuh untuk satu urusan, sedangkan saya tidak bisa sering-sering minta cuti. Bapak saya nyaris empat kali bolak balik ke Cibinong karena kebiasaan birokrasi kita yang mencicil informasi kekurangan syarat satu demi satu. Saya merasa amat kasihan melihat letihnya ayah saya setiap pergi ke pusat pemerintahan Kabupaten Bogor ini.

Setelah semua syarat lengkap antara lain fotokopi ktp, kk, akte, surat nikah, surat keterangan lahir yang harus dimaterai dan dilegalisir kepala kantor pos, saya pun menghadap ke petugas khusus di Dinas Catatan Sipil. Beliau menawarkan saya untuk membuat SKTM supaya biaya perkara dapat dibebankan kepada negara. Konsekuensinya sidang akan berlangsung secara kolektif pada persidangan keliling.

Saya mengambil opsi ini karena saya merasa tidak mampu untuk membayar kesalahan yang tidak saya perbuat.

Singkat cerita saya mengambil cuti satu hari untuk persidangan di sebuah aula kecamatan yang ditunjuk sebagai tempat sidang keliling. Hari itu diputuskan secara perdata bahwa putri pertama saya benar lahir di Jakarta berdasarkan bukti-bukti yang cukup. Saya dibebaskan dari biaya perkara berkat SKTM yang saya ajukan. Yang mengejutkan, ternyata hasil perubahan dan penetapan pengadilan bukanlah penerbitan akte kelahiran baru melainkan hanya selembar kertas HVS putih yang menyatakan tempat lahir berubah dari Bogor menjadi Jakarta berdasarkan penetapan pengadilan perdata nomor sekian. Lembaran ini bernama Catatan Pinggir dan distempel dengan cap Dinas Kependudukan. Saya nyaris tak percaya dan sempat protes ke hakim, mengapa susah sekali untuk mendapatkan akte baru. Jawabannya, begitulah perintah Undang-Undang. Saya hanya masygul mendapati perjuangan yang meletihkan ini hasilnya hanya selembar kertas HVS mirip undangan rapat RT. Untunglah dokumen ini berkekuatan hukum tetap.

Jadi hari ini saya kembali ke kantor Kecamatan Cileungsi untuk perubahan data Kartu Keluarga, penyesuaian tempat lahir anak saya dari Bogor menjadi Jakarta. Tadinya saya berpikir dengan menunjukkan penetapan pengadilan dan legalisir akte dari Catatan Sipil semua bisa selesai. Ternyata pihak kecamatan masih butuh surat pengantar dari kantor desa sebagai arsip bagi mereka. Saya benar-benar bingung dengan birokrasi negeri ini. Dari bawah dilempar ke atas, setelah jadi dilempar lagi kebawah dengan alasan yang tidak jelas.

Singkat cerita saya mengalah dan memacu kendaraan menuju kantor desa tempat semua cerita ini dimulai.
Apa jawab petugas desa setelah saya minta surat pengantar dan menunjukkan penetapan pengadilan. “bapak sudah buat surat pengantar dari RT belum?”
Jawaban sekenanya ini sungguh membuat saya emosi, dan saya pun menumpahkan kisah ini di hadapan mereka. Betapa kesalahan yang mereka buat menyusahkan saya selama hampir setengah tahun.
….
Akhirnya surat pengantar pun diberikan, saya kembali ke kecamatan, KK dijanjikan jadi dua hari kemudian.
Selesai?
Saya belum tahu juga, yang jelas tempat lahir anak saya masih tertulis Bogor di aktenya yang tidak berubah. Saya mengakali dengan membuat fotokopi akte dan catatan pinggir yang berdampingan dalam satu halaman, untuk jaga-jaga terhadap kesalahan input data yang masih mungkin terjadi di masa depan.

Inilah harga dari sebuah kebenaran, dan juga kesalahan.

The End.

Advertisements

Image

Kalau anda sering memperhatikan, dalam dua tahun belakangan ini semakin banyak wajah-wajah bangsa asing yang berkeliaran di Indonesia, khususnya di seputaran Jabodetabek. Dari cara berpakaiannya tampak jelas mereka bukan turis. Mereka berpakaian ala karyawan kantor di Indonesia. Sebagian masih membiasakan diri memakai jas, namun sebagian besar telah menyesuaikan diri dengan kemeja lengan pendek tipis, tanpa dasi dan berbusana batik pada hari-hari tertentu.

Mereka pun naik busway, kopaja, ojek bahkan kadangkala angkot sekelas mikrolet. Mereka pun makan ditempat orang Indonesia makan, bukan di restoran sebagaimana layaknya ekspatriat. Sejauh yang mereka mampu mereka menyesuaikan diri dengan kaum pekerja lain yang mencari makan di Jakarta. Tidak alergi dengan macet, hujan, becek dan segala macam kesemrawutan ala Jakarta lainnya.

Pada akhir pekan mereka semakin mudah ditemukan di pusat-pusat perbelanjaan, bersama keluarga mereka. Bukan hanya di mall-mall pusat kota namun dapat dengan mudah ditemukan di Cibubur, Bekasi, Karawaci bahkan Bogor dan Depok. Mereka datang dari berbagai ras dan penjuru dunia. Yang tampak sangat signifikan peningkatannya adalah orang India, kemudian ras Kaukasia dengan beragam macam bahasa. Tidak sedikit pula orang Timur Tengah yang doyan pergi ke Bioskop dan Mall-mall, dari yang kemungkinan berasal dari negara Arab Teluk dengan kebiasaan bercadar dan berbelanja secara berombongan dengan pakaian hitam-hitam, sampai yang kemungkinan berasal dari negara Arab Levant (Syria, Lebanon) yang lebih terbuka, mereka biasanya berbicara dengan volume agak keras dan berpakaian ala bule, laki-laki dan perempuan.

Beberapa bangsa keturunan Afrika pun semakin mudah ditemui sekarang di kawasan perkantoran. Kalau dulu memang mereka rata-rata terkonsentrasi di Tanah Abang, berniaga pakaian dan garmen serta sesekali narkoba, kebanyakan dari negara-negara Afrika Barat semacam Ghana dan Nigeria. Sebagian mereka ada juga yang berprofesi pemain bola impor yang dengan mudah terlihat di Senayan. Namun orang kulit hitam di kawasan perkantoran ini lebih berciri African American, terlihat dari logat bahasa Inggris yang digunakan dan selera berpakaian.

Kalau kita lebih jeli lagi, kita bisa mendengarkan bermacam-macam bahasa sekarang ketika berpapasan dengan sekelompok orang kulit putih, atau secara tak sengaja mendengar mereka sedang menelepon. Bahasa Italia dan Spanyol kerap terdengar, serta beberapa bahasa yang tidak begitu saya kenali, mungkin saja Russia, Turki atau Yunani. Sedangkan bangsa-bangsa Asia Timur mungkin kita tidak begitu menyadari tingkat keasingannya karena ciri mereka yang hampir sama dengan saudara-saudara kita etnik Tionghoa Indonesia. Sesekali mungkin kita bisa identifikasi bahwa mereka ternyata orang Jepang atau Korea. Perlu diketahui orang Korea masih merupakan bangsa asing dengan populasi terbanyak di Indonesia, bisa dibuktikan dengan banyaknya restoran komunitas milik mereka.

Fenomena apakah sebenarnya ini? Apakah semakin memburuknya kondisi ekonomi di Benua Eropa telah meningkatkan aliran pekerja asing ke Indonesia? Orang-orang asing ini sekarang ada dimana-mana, hampir di setiap gedung perkantoran dengan bermacam-macam bidang industri. Jikalau dahulu mungkin hanya di sektor telekomunikasi dan manufaktur, sekarang bidang perbankan, marketing, media, pendidikan, perdagangan dan lain sebagainya telah dimasuki oleh mereka.

1131122p

Mungkin kita boleh bangga atas diliriknya Indonesia khususnya Jakarta sebagai kota ekonomi dunia yang cukup ramah dan aman bagi para ekspatriat. Namun sedikit banyaknya tentu kita khawatir pula akan berkurangnya lapangan pekerjaan bagi anak bangsa sendiri. Saat ini sebenarnya tidak ada perbedaan skill yang cukup signifikan antara orang asing dan orang Indonesia. Masalah penguasaan bahasa Inggris yang pada beberapa dekade yang lalu menjadi pengganjal bagi orang Indonesia, sekarang sudah tidak menjadi kendala lagi. Generasi kelahiran 1990an dan 1980an akhir sangat fasih berbahasa Inggris. Saat ini mereka sedang mengantri memasuki dunia kerja baik di pasar domestik maupun internasional. Inilah bonus demografi yang saat ini dimiliki Indonesia yang seharusnya dapat dikapitalisasi untuk mempercepat kemajuan bangsa.

Namun mampukah mereka bersaing dengan para ekspatriat yang semakin membanjiri pasar kerja dalam negeri. Bagaimana cara yang baik dan elegan untuk menyikapi hal ini? Saya tunggu komentar, saran dan cerita anda.

 

Salam Damai Indonesia.

1357584305534776925

Provokatif kah judul artikel diatas? Bisa ya bisa tidak, tergantung dari mana anda menilainya, kalau saya sebagai free thinker menganggapnya biasa saja. Nanti anda juga tahu apa sebenarnya yang saya maksud. Bernuansa SARA-kah artikel ini? Oh jelas, kalau soal ini saya tidak akan menafikannya. Tapi barangkali kita semua sepakat bahwa masalah SARA itu justru harus dibahas secara terbuka sehingga kita bisa saling menerima dan saling memahami satu sama lain yang akan berbuah toleransi dan saling menghargai. Percuma juga kan kalau alergi ngomongin SARA terang-terangan namun saling hujat dengan bahasa tidak terpelajar di forum-forum komentar.

Baiklah, sekian pembukaan artikelnya, semoga tidak ada yang kaget lagi. Sekarang saya beranjak kepada isi cerita, yaitu fenomena yang menghebohkan banyak masyarakat Minangkabau baik di Sumatera Barat maupun di seantero dunia perantauan mereka baik di dalam maupun di luar negeri.

Masyarakat Minangkabau tiba-tiba gempar dalam dua minggu belakangan ini. Mereka berkicau di hampir semua forum dan kanal social media tentang sebuah film yang meresahkan mereka. Cinta Tapi Beda, karya terbaru sutradara Hanung Bramantyo dan produser Raam Punjabi telah membuat masyarakat Minangkabau tersentak. Mereka merasa zona nyamannya telah diusik dengan semena-mena oleh Hanung dengan alasan kebebasan berekspresi. Bagaimana bisa?

Penyebabnya adalah keberadaan salah satu tokoh utama dalam film itu yang bernama Diana, seorang gadis asal Padang yang merupakan penganut Katholik taat dan berwajah sangat Indonesia. Tokoh ini muncul dengan simbol-simbol arsitektur Minang yaitu Rumah Gadang, dialek Minang dan nuansa lain yang dibangun seolah-olah dia adalah gadis dari etnik Minangkabau. Hanya saja dia tidak beragama Islam sebagaimana jamaknya etnik Minangkabau. Diana beragama Katholik dan dibesarkan oleh keluarga yang gemar makan hidangan babi rica-rica.

Sebenarnya Hanung mungkin sadar juga untuk bermain api karena dia menggunakan istilah gadis asal Padang bukan gadis Minangkabau. Apa bedanya? Nah ini dia. Bagi orang di luar Sumatera Barat, Padang dan Minangkabau adalah hal yang identik, bahkan sebagian besar perantau Minangkabau sudah menerima saja diidentifikasi sebagai orang Padang (istilah yang sebenarnya salah kaprah). Namun bagi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, orang Padang belum tentu berasal dari etnik Minangkabau. Ia bisa saja etnik Tionghoa, etnik Nias, etnik Mentawai, etnik Batak, etnik Arab dan bahkan etnik India (Keling). Orang Minangkabau tidak terlalu mengurusi agama yang dianut oleh etnik-etnik selain Minangkabau itu. Padang adalah kota multi etnik dengan tingkat toleransi antar etnik dan agama yang cukup baik. Orang Tionghoa biasanya beragama Katholik, Protestan atau Konghucu dan Buddha. Sedangkan Nias dan Mentawai rata-rata beragama Protestan. Sedangkan India beragama Hindu dan Islam. Kalau orang Minangkabau? Jangan ditanya, mereka akan menjawab 100% Islam.

Mungkin etnik lain akan mempertanyakan, masa iya bisa dijamin kalau Minangkabau itu 100% Muslim. Jawabnya adalah konsep yang dianut masyarakat Minangkabau itu yang mengkaitkan etnisitasnya dengan agama Islam, dalam bahasa mereka “Adat bersendi syariat, Syariat bersendi Al-Qur’an (ABS-SBK)”. Konsep yang mereka anut ini membawa konsekuensi bahwa setiap orang Minangkabau yang keluar dari agama Islam, tidak dianggap orang Minangkabau lagi secara adat, walaupun secara genetik ia masih 100% Minangkabau. Hak-hak adatnya akan gugur, warisannya akan hilang dan dia dibuang dari keluarga. Kejam? Boleh saja anda berpendapat begitu, namun itulah keputusan bersama masyarakat Minangkabau secara musyawarah mufakat, dan ketentuan ini sudah mendarah daging bagi mereka. Minangkabau itu harus Islam, bukan Islam sudah pasti bukan Minangkabau. Sejak awal terciptanya etnis Minangkabau memang tidak mendasarkan dirinya kepada keturunan (genealogis) namun kepada konsep ideologis yang disebut Adat, yang pada kemudian hari mendapat unsur baru yaitu agama.

Inilah realita psikologi sosial yang diamini oleh masyarakat Minangkabau. Dalam komunitas negara yang bernama Indonesia ini tentunya orang Minangkabau berhak untuk diakui keunikannya ini sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Mereka tentu berharap orang di luar etnik Minangkabau memahami hal ini dan menghargai, sebagaimana mereka menghargai komunitas lain.

Batas inilah yang dilangkahi oleh Hanung Bramantyo yang dengan sembrono mengkampanyekan hal-hal yang bertentangan dengan psikologi sosial masyarakat Minangkabau. Wajar saja mereka protes keras bahkan terakhir sudah mengajukan gugatan hukum. Sejatinya orang Minangkabau itu cukup toleran, jarang terdengar ada konflik agama dan etnik di Ranag Minang. Mungkin mereka tidak akan terlalu perduli dengan tema-tema film Hanung seperti “tanda tanya” atau tema-tema nikah beda agama. Tetapi ketika Hanung sudah mengacak-acak dan tidak menghormati konsensus budaya mereka, apalagi Hanung ini bukan orang Minang, maka mereka serempak bersuara.

Kasus Hanung ini merupakan pelajaran yang bagus dan ujian bagi pluralitas dan kebebasan berpendapat di Indonesia. Setiap kebebasan itu haruslah disertai tanggung jawab. Untuk apa kita bebas-bebasan namun malah merusak kedamaian. Realitas sosial boleh diangkat dan tidak baik juga untuk ditutup tutupi, namun kebohongan sosial tentu tidak dapat diterima akal sehat. Di atas semua itu sikap saling memahami, saling menghargai dan saling menerima adalah kunci bagi tetap merekatnya hubungan kita sebagai sebuah bangsa yang sedang berproses.

Untuk Hanung, semoga kedepan semakin bijaksana dan cerdas melakukan analisa. Membuat film Perempuan Berkalung Surban mungkin boleh-boleh saja, tapi Minangkabau Berkalung Salib? Ehm, sebaiknya jangan dicoba.

Salam Damai Indonesia.

Banyak yang bertepuk tangan gembira ketika mendengar berita penangkapan, penggerebekan atau penembakan teroris yang dilakukan oleh Densus 88. Wajar saja karena sebagai masyarakat umum yang cinta kedamaian dan ketenangan, berita ini tentu saja membawa sedikit rasa nyaman dan aman. Bahkan berlaku semacam ketentuan tak tertulis di masyarakat, barangsiapa merasa bersedih atau sinis, layak dituduh mendukung terorisme atau jangan-jangan dia simpatisan teroris secara diam-diam, atau malah terlibat aktif mendanai kegiatan sel-sel teroris atau bagian dari sebuah jaringan teroris terorganisir.

Namun apakah aksi-aksi itu tetap akan membuat kita gembira pula jika pada sebagian prosesnya ternyata menempuh cara-carat tidak beradab dan penuh rekayasa. Sebagai manusia yang bermartabat seharusnya kita terganggu dengan hal itu. Saya sengaja menulis hal ini dengan konsekuensi akan dituduh mendukung teroris, JAT atau FPI di kemudian hari. Tak apalah, saya sudah terbiasa kok dituduh tuduh.

Pada banyak kasus, tindakan satuan densus ini sering membuat hati miris dan tak jarang menimbulkan keprihatinan. Dalam sudut pandang saya, terorisme itu sama dengan kejahatan-kejahatan yang lain. Para terduga berhak mendapatkan proses hukum yang adil, sedangkan para pemirsa berhak mendapatkan berita yang benar dan jernih. Jangan ada dusta diantara kita.

Namun kenyataannya berapa sering kita dengar pemberitaan salah tangkap karena alasan yang tidak bisa diterima akal. Sebuah kesatuan yang katanya dididik oleh para intelijen ternyata tidak cukup intelligent untuk membedakan teroris dengan ustadz dan aktivis masjid. Asal bercadar, berjenggot, bergamis, berwajah arab dan atau sedikit introvert dengan gampang masuk dalam kategori terduga teroris.

Berapa banyak yang ditembak mati tanpa sanggup bicara lagi. Berapa banyak berita yang kita dengar hanya dari pihak polisi saja. Adakah wartawan disana seperti proses penggerebekan Azhari dan Noordin M Top. Adakah dokumentasi yang bisa disaksikan oleh publik dan pengadilan? Nyaris tidak ada sama sekali. Sekali densus bersaksi bahwa korban penembakan adalah teroris, kita sebagai masyarakat wajib percaya. Berani mempertanyakan aksi mereka, maka kita akan dengan mudah dibidik sebagai simpatisan teroris.

Apakah tidak ada cara lain untuk melumpuhkan teroris selain menembak mati? Apakah tidak ada semacam peluru bius dosis tinggi sehingga mereka cuma pingsan dan kita masih bisa sama-sama melihat pembelaan mereka di pengadilan. Kenapa berita tentang mereka harus kita telan bagaikan dogma?

Berikut saya coba sajikan berita-berita yang saya ingat tentang betapa over actingnya densus selama dua tahun ini:

  1. September 2010. Seorang ustadz di Tanjung Balai, Sumut bernama Khairul Ghazali menolak untuk mengangkat tangan tanda menyerah atas perintah densus. Alasannya dia sedang mengimami shalat Maghrib. Tentunya perintah Tuhan harus didahulukan atas perintah manusia. Densus tidak mau terima dinomorduakan dari Tuhan. Imam yang sedang shalat ini diterjang dan diinjak-injak dibagian dada ketika sedang shalat. Dia kemudian ditahan, dan seminggu kemudian dibebaskan karena tidak terbukti terkait jaringan teroris.
  2. November 2011, seorang ustadz di Jember, Jatim tak sengaja menyerempet polisi mabok. Polisi ini kemudian naik pitam dan mengejar lalu menembaknya sampai mati. Cerita kemudian direkayasa kalau ustadz ini disangka mau merampok. Sebuah clurit dicari kemudian untuk dijadikan barang bukti. Namun cerita fitnah yang busuk ini kemudian terungkap. Polisi durjana ini hanya dihukum mutasi.
  3. Desember 2012, 14 petani penggarap ladang ditepi hutan ditangkap densus dengan tuduhan teroris. Mereka disiksa, dipukuli, diinjak-injak dan disekap selama berhari-hari. Pada akhirnya mereka tidak terbukti terlibat. Namun media sudah mendakwa mereka sebagai teroris dalam berita.

 

Masih banyak cerita lain soal salah tangkap dan salah tembak. Sebagian beruntung terekspos ke media, sebagian tenggelam dan ditutup-tutupi. Kontras mengatakan, kejadian ini tidak sekali dua, nyaris berulang setiap tahunnya. Adakah keadilan bagi orang-orang seperti mereka. Mereka mati dan tak dapat bicara. Namanya hina dalam berita. Keluarganya dirundung fitnah dan dianggap sampah. Bukankah ini akan menimbulkan lingkaran sakit hati yang baru yang dapat saja berbuah dendam di masa depan. Lalu menciptakan teroris jenis baru, bukan teroris ideologis namun teroris karena dendam. Yang pasti bagi densus, kedua golongan ini tak ada bedanya, walaupun golongan kedua adalah karya cipta mereka sendiri.

Mungkin masih belum terlambat untuk memperbaiki keadaan. Masyarakat berharap densus melakukan tugas dengan penuh kebijakan, bersikaplah intelijen jangan seperti preman. Dan bagi korban-korban yang sudah tak dapat bicara ini, ungkaplah siapa mereka. Darimana mereka, sejauh apa mereka terlibat, seperti apa kronologi penghilangan nyawa mereka. Apa yang membuat mereka diduga teroris. Masyarakat ingin tahu.

Jangan anggap remeh kasus ini. Suatu saat anda bisa menjadi korbannya. Bisa saja anda berniat pergi pengajian malam-malam, namun karena menurut seseorang anda berciri-ciri teroris, mati lah anda tertembak malam itu. Dan esok pagi anda sudah dikenal sebagai teroris. Sayang anda tak dapat bicara lagi. Anda tentu masih ingat, dua hari yang lalu ada dua orang “teroris” yang mati ditembak di teras masjid.

 

 

mass

Bagi sebagian orang Indonesia, kelas-kelas motivasi yang marak diselenggarakan akhir-akhir ini menjadi sebuah pemuas dahaga akan mimpi dan ambisi. Kelas-kelas ini begitu bertaburan dimana-mana, bagaikan cendawan di musim hujan. Berbagai tema untuk meraih KESUKSESAN ditwarkan dengan berbagai rasa dan varian. Tentu saja yang paling laris adalah tema-tema seputar kesejahteraan finansial, kemapanan tanpa modal, kemampuan manajerial dan tidak ketinggalan kesalehan emosional dan spiritual.

Paket-paket yang ditawarkan dari kelas-kelas motivasi yang kurikulumnya tidak bisa diintip ini dipercaya menjadi anak tangga dalam menggapai kesuksesan. Kesuksesan itu dipercaya telah amat dekat, bahkan tak jauh didepan mata, sedekat teriakan Selamat Pagi hingga Salam Zuppperr.

Konsumen kelas-kelas motivasi menjadi semakin percaya bahwa kesuksesan telah di depan mata dengan melihat langsung figur sang motivator. Beberapa dari mereka mungkin bermimpi pula menjadi motivator suatu saat nanti. Motivator adalah simbol manusia paripurna yang sukses secara multidimensi, yang sabdanya layak diikuti bahkan dengan mengeluarkan sejumlah uang yang disebut investasi.

Mengapa motivator semakin sukses dan sukses (baca: semakin kaya)? Tidak terpikirkah dari mana sumber kekayaan mereka yang mereka pamerkan kepada anda sebagai inspirasi itu. Jawabnya tentu sangat sederhana. Andalah yang menjadi sumber kesuksesan mereka. Andalah sesungguhnya yang menjadi angsa-angsa emas yang telurnya mereka pungut.

Tidak percaya? Mari saya berikan sebuah ilustrasi nyata.

Bayangkan seorang motivator membuka sebuah kelas pelatihan holistik (katakanlah begitu namanya). Paket pelatihan ini akan mereka tawarkan dengan harga 20 juta dimana didalamnya terdapat sebuah jenjang program yang terdiri dari 2x ceramah, 2x coaching dan 1x business gathering. Kegiatan ini akan diselesaikan dalam waktu 2 tahun dimana jadwalnya akan ditentukan sendiri oleh lembaga kepunyaan motivator.

Biaya 20 juta ini wajib disetorkan didepan dengan alasan untuk komitmen belajar, dan ditambah dengan iming-iming uang investasi akan dikembalikan 100% pada akhir pelatihan, dengan kondisi tertentu misalnya prestasi terbaik. Pada kenyataannya ada juga biaya pelatihan yang tidak dikembalikan 100%.

Kemanakah uang 20 juta per peserta ini perginya? Dengan cerdiknya sang motivator memutarkan uang ini pada berbagai instrumen keuangan, baik yang beresiko rendah maupun beresiko tinggi. Salah satu contoh penggunaan uang yang termasuk beresiko rendah ini adalah dengan mengikuti program jual beli emas batangan yang diselenggarakan sebuah agen internasional. Sebut saja GT**

Biaya pelatihan yang dikumpulkan dari peserta ini akan mereka jadikan modal penyertaan untuk membeli emas batangan dari PT. Antam lewat agen ini. Sang agen akan membeli emas dengan harga normal namun karena kepiawaiannya dalam memproses emas batangan menjadi perhiasan, agen mengaku bisa meningkatkan harga emas per kilogram dari 540 juta  menjadi 700 juta. Selain itu agen juga mengaku bahwa mereka memperoleh keuntungan dari selisih harga emas regional dan karena membeli langsung dari pabrik dengan diskon 20%. Efisiensi yang mereka lakukan dalam proses distribusi emas perhiasan ke konsumen juga menambah pundi-pundi keuntungan mereka, ditambah lagi selisih keuntungan yang diperoleh dari penjualan emas yang sebenarnya sudah mereka timbun sejak 5 tahun yang lalu.

Dengan skema ini si agen berani memberikan pengembalian bonus berupa cash back sebanyak 2% sampai 5% perbulan kepada pemodal mereka dalam hal ini para motivator dan lembaga training center mereka. Setelah satu tahun modal yang disetorkan motivator akan dikembalikan (tergantung perjanjian awalnya).

Bayangkan berapa modal yang diraup oleh sebuah lembaga training dari penyelenggaraan kelas-kelas motivasi semacam ini. Pantaslah mereka semakin sukses dan semakin kaya. Uang mengalir masuk tanpa henti dan berkembang biak dengan investasi yang mereka lakukan.

 Tentunya tidak semua lembaga training memiliki modus pembiayaan seperti ini, namun dengan skema keuntungan yang ditawarkan pedagang emas tadi, motivator mana yang tidak tergiur?

September 14, 2011 pukul 11:41 am saya menerima sebuah SMS dari funzone. Sadar bahwa ini adalah SMS dari content provider dan tidak berminat untuk registrasi content apapun, saya langsung menghapus SMS ini setelah membukanya. Saya ingat betul tidak mengklik apapun atau menelusuri link yang ada dalam SMS ini jika ada.

Ajaibnya, hanya dengan melakukan hal tersebut pulsa saya ternyata telah berkurang sebanyak Rp 3.300,-. Saya segera menghubungi Call Center Indosat di nomor 100 dengan biaya Rp 400,-/panggilan untuk menelusuri jenis transaksi apa yang baru terjadi.

Menurut petugas Call Center Indosat, saya baru saja menerima content dari layanan 9192 (Funzone) pada September 14, 2011 pukul 11:41 am. Content/SMS yang diterima ini dapat dihentikan dengan perintah:

STOP kirim ke 9192 (biaya RP 550,-)

Ketika saya menanyakan kapan saya melakukan registrasi untuk layanan ini, petugas Call Center menjelaskan bahwa itu diluar pengawasan Indosat. Hal yang sangat sulit diterima akal sehat ketika Indosat punya data transaksi terakhir namun tidak punya data kapan pelanggannya registrasi untuk sebuah layanan yang berjalan di atas jaringannya.

Petugas Call Center Indosat juga berteori bahwa kemungkinan registrasi terjadi pada saat:

  • Mengakses layanan waptrick via GPRS (saya tidak pernah melakukannya)
  • Nomor handphone saya dimasukkan seseorang pada sebuah layanan web dan dianggap langsung sebagai registrasi (agak menyeramkan juga jika hal ini benar-benar terjadi, bayangkan: fitur ini bisa menjadi sarana keisengan seseorang)

Akhirnya saya berkesimpulan (setelah dirugikan Rp 3.850,-) bahwa Indosat pasti tahu soal layanan 9192 ini dan para petugas Call Center sudah ditraining untuk pura-pura tidak tahu proses registrasinya. Mereka cuma akan “berbaik hati” memberi tahu cara UNREG dari  9192.

Anda masih percaya bahwa ada operator yang tidak tahu menahu tentang layanan content provider yang malang melintang di jaringan mereka?

Peringatan

Berdasarkan postingan kaskus di bawah ini ada beberapa kasus yang mungkin terjadi:

  1. Layanan sejenis juga datang dari nomor 9551 (layanan Bola)
  2. Kasus ini hanya terjadi pada operator Indosat
  3. Perintah UNREG sering tidak sukses
  4. Perintah yang dikonfirmasi sukses adalah UNREG FUN atau  STOP, kirim ke 9192
  5. Ada kemungkinan SMS Funzone 9192 datang kembali secara periodik dan anda harus mengulangi step UNREG FUN atau STOP kembali, yang artinya secara periodik ada kemungkinan anda harus kehilangan pulsa lagi sebesar Rp 3.850, –
  6. Anda dapat melaporkan ketidaknyamanan anda ke pengaduan@brti.or.id (Layanan Pengaduan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia)

Silahkan dibaca juga postingan Kaskus di bawah ini:

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=296922785

http://archive.kaskus.us/thread/3062901/120

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5633255

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4648393&page=5

Masih bimbang bagaimana caranya bisa segera lepas dari jerat utang KPR (khususnya konvensional)? Di bawah ini akan saya sajikan beberapa alternatif yang bisa membuat Anda berhemat sampai 64% dari Total Bunga dan 33% lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.

Kita akan menggunakan kombinasi dari 4 fitur di bawah ini dalam rangka mewujudkan tujuan di atas:

  1. Tabungan Tetap
  2. Angsuran Ekstra Berkala
  3. Take Over ke Bank Syariah
  4. Pelunasan Dipercepat

Kunci dari cara cepat melunasi KPR adalah poin pertama, yaitu “Tabungan Tetap”. Metode pelunasan yang akan saya paparkan sebenarnya adalah standard yaitu mengurangi pokok kredit sehingga berimplikasi pada porsi bunga yang harus kita bayarkan tiap bulan. Ingat pada KPR Bank Konvensional (khususnya BTN) berlaku sistem Anuitas dimana konsepnya adalah cicilan anda akan tetap selama masa kredit (jika tidak terjadi kenaikan tingkat suku bunga kredit). Di dalam cicilan tetap itu terkandung 2 komponen yaitu pokok dan bunga.

Pada tahun-tahun pertama bank akan mengambil porsi bunga yang sangat besar. Contoh jika anda mengajukan kredit sebesar 136.500.000 dengan tingkat suku bunga 12% maka pada tahun pertama ini bank berhak memperoleh bunga sebesar 12% x 136.500.000 = 16.380.000!

Perhatikan ilustrasi berikut: Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 311,776 hits
%d bloggers like this: