You are currently browsing the category archive for the ‘Insight’ category.

Tibet Map East Asia Map Central Asia Map Peoples Republic of China Map East Turkestan Map Manchuria Map Mongolia Map Central Eastern Asia Xinjiang Uyghur Uyghuristan

Central East Asia

Central East Asia

  1. Peoples Republic of China
  2. Republic of Turkestan
  3. Kingdom of Tibet
  4. Republic of Mongolia
  5. Republic of Manchuria
Greater Central Eastern Asia

Greater Central Eastern Asia

Hari ini di jembatan penyebrangan depan kantor.

Dua orang pengemis mengais rezekinya. Seorang ibu dengan anaknya yang berumur 4 tahun dan seorang remaja tuna daksa yang tidak sekolah lagi.

Ibu itu khusyuk mendendangkan anaknya, supaya tidur melupakan lapar.
Remaja itu setia menadahkan tangan demi sebatang rokok, yang buatnya lupa masalahnya.

Hari ini di jembatan penyebrangan depan kantor.
Jam menunjukkan pukul sebelas siang.

Tidak jauh dari kedua orang pengemis tadi, tiga orang petugas PBB nan necis dan wangi, sibuk menginterupsi langkah pejalan kaki.

Selamat pagi mas, mbak, pak, bu. Bisa minta waktunya sebentar? Dua menit saja?
Senyum terkembang brosur diunjukkan.
Di seragam mereka tertera UNICEF, lembaga PBB yang bertugas memperhatikan hak-hak anak, kelangsungan hidup anak, pendidikan anak, perlindungan anak dan pengembangan anak.

Selamat pagi mas, mbak, pak, bu. Bisa minta waktunya sebentar? Dua menit saja?
Kedua pengemis menyaksikan dengan takjub pegawai-pegawai necis ini. Tanpa tahu mereka siapa.

Sepuluh tahun sudah reformasi berlalu dan seperti sejarah yang sudah-sudah, euforia pun mulai terpecah. Keadaannya persis seperti tahun 1955, sepuluh tahun setelah proklamasi dan juga persis seperti tahun 1974, sembilan tahun setelah orde baru dicanangkan. Masyarakat terbagi atas kalangan kritis-apatis dan kritis-optimis. Sebagian kecil malah ada yang merindukan keadaan pra perubahan. Romantisme orde baru muncul satu persatu di tengah-tengah masyarakat, sama halnya dengan romantisme kolonialis yang tumbuh beberapa tahun setelah kemerdekaan. Manisnya kenangan lama semakin hari semakin menjadi candu kehidupan. Orang-orang mulai kalah sebelum perang, putus asa dan kehilangan cita-cita.

Gerakan apatisme massal disuarakan dan digelorakan dengan penuh semangat. Di bidang politik contohnya, tentu masih segar dalam ingatan kita tentang seruan golput massal yang kemudian ditanggapi dengan fatwa golput haram oleh sebagian ulama. Di bidang-bidang lain semisal ekonomi dan sosial nyaris tiada perbedaan. Semua dilanda kebekuan. Tiada gerakan-gerakan pencerahan yang menerobos keadaan dan berani menebar harapan. Masyarakat tersihir virus anti gombalisasi dan cenderung merespon negatif setiap ide-ide baru di ketiga bidang itu. Setiap usulan dan janji perubahan serta merta ditolak dengan alasan yang nyaris seragam, “kami sudah bosan dibohongi”.

Masyarakat yang memilih apatis sebagai cara bersikap kehilangan daya analisa untuk memilih yang buruk diantara yang terburuk. Lebih dari itu bahkan kehilangan harapan dan cita-cita.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, ketika sebagian besar dari kita sudah apatis lalu apa manfaat yang kita dapatkan. Apakah dengan tidak melakukan apa-apa dan kontra terhadap golongan yang berani berbuat dan berani menaruh harapan akan menghasilkan sesuatu? Apakah mungkin perubahan akan muncul ketika tidak ada yang bergerak? Ini adalah pertanyaan paling prinsipil yang selayaknya dijawab oleh kaum yang begitu bangga dengan keapatisannya. Ataukah mungkin kaum apatis justru tidak menghendaki perubahan sama-sekali? Tentu ini akan menjadi lebih aneh jika dihubungkan dengan sikap kritis yang juga salah satu ciri kaum apatis. Bagaimana mungkin mereka yang mengaku kritis tetapi tidak berusaha mendukung perubahan.

Dari logika di atas semakin terang ketidakjelasan posisi kaum apatis dalam dunia yang terus berubah. Mereka terjebak dalam ambivalensi yang tidak menghasilkan apa-apa. Mungkin posisi ini bukan masalah bagi mereka yang menjadi apatis karena kesadaran diri sendiri, karena seperti pilihan-pilihan hidup lainnya tentunya mereka akan bertanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil. Namun lain ceritanya bagi kelompok masyarakat yang apatis karena latah atau menjadi korban propaganda gerakan apatisme massal, mereka sama sekali tidak menyadari konsekuensi dari keputusan mereka. Alih alih menjadi agen perubahan, kelompok besar ini malah bersekutu menjadi agen kemandegan.

Berani untuk optimis

Adalah perkara yang sangat mudah untuk menjadi apatis karena kita hanya dituntut untuk tidak melakukan apa-apa. Pada konteks-konteks tertentu sikap apatis ini mirip dengan sikap berani mati sedangkan lawannya, sikap optimis merepresentasikan sikap berani hidup. Read the rest of this entry »

Apa yang Anda ketahui tentang Indonesia?

Bayangkan pertanyaan sederhana di atas diajukan kepada 10 orang responden yang tersebar di berbagai kawasan dunia. Lalu bayangkan kira-kira seperti apa jawaban-jawaban yang akan Anda dapatkan. Responden di Amerika Utara mungkin akan menyebut sarang teroris, responden di Eropa Utara mungkin akan teringat manusia pohon dan hutan belantara, responden di Afrika Barat mungkin akan terpikir pabrik garmen dan indomie sedangkan responden di Turkmenistan, Asia Tengah malah sama sekali belum pernah mendengar sebuah negara bernama Indonesia karena tidak berada di “pusat dunia” seperti negeri mereka, yah setidaknya dalam versi mereka.

Anda kecewa? Atau mungkin protes atau santai-santai saja. OK, jika Anda termasuk yang protes kali ini saya ajukan kembali pertanyaan yang sama kepada Anda. Tapi tunggu dulu, berhubung Anda merupakan rakyat yang memiliki KTP Indonesia, Anda tentu akan dengan sangat mudah mengklaim bahwa Anda tentunya sangat familiar dengan negeri Anda tercinta ini. Karena itu saya akan mengedit sedikit redaksional pertanyaannya. OK, kita mulai saja dengan 4 pertanyaan :

  1. Apa yang Anda ketahui tentang Papua, Makassar, Palembang, Sampang dan Bireun?
  2. Bagaimana jika bulan depan perusahaan menugaskan Anda ke Ternate?
  3. Anda lahir di Jakarta, terpikirkah oleh Anda untuk memilih Medan sebagai kota tempat Anda menyelesaikan kuliah S1?
  4. Saya mengajak Anda untuk berwisata minggu depan ke kawasan Danau Poso, Sulawesi Tengah, maukah Anda ikut?

Sekarang jawablah pertanyaan itu dengan jujur dengan mengetuk nurani Anda yang terdalam dan logika Anda yang tertajam. Wow, saya tidak akan begitu kaget dengan kemungkinan jawaban-jawaban Anda. Sama persis dengan ketidakterkejutan saya dengan jawaban responden-responden seluruh dunia tadi terhadap pertanyaan tentang apa yang mereka ketahui dari Indonesia.

Jawaban-jawaban bernada alergi, kebimbangan, keraguan, fantasi, asumsi atau bahkan penolakan tanpa alasan saya prediksi akan mendominasi jawaban-jawaban dari 4 pertanyaan tadi. Oh, mungkin saja Anda akan menyangkal dengan malu-malu karena respondennya adalah Anda. Nah bagaimana kalau saya ajak Anda untuk berpartisipasi aktif dalam survey kecil-kecilan saya ini. Read the rest of this entry »

“Hai perempuan kampung! Jangan pernah kamu membayangkan akan mengawini anakku. Satu-satunya menantu yang diakui keluarga Sanjaya hanyalah Khumairah!”

Lama tidak menyimak sinetron Indonesia, tiba-tiba saya tersentak dan terperangah ketika mendengar sepotong kalimat ini dari mulut salah satu pemerannya. Sinetron apa yah yang akhirnya saya tonton juga setelah hampir 8 tahun mengharamkan jenis tayangan ini? Judulnya adalah “Munajah Cinta“. Kenal dengan sinetron ini berkat bujuk rayu adik-adik sepupu saya di rumah ketika saya pulang kampung selama 10 hari awal bulan ini. Demam film Ayat Ayat Cinta ternyata ikut menjangkiti adik-adik saya tersebut sehingga sinetron yang diklaim sebangun dengan film sukses tersebut, pun mereka anggap layak untuk ditonton. Akhirnya saya menonton juga episode pertama sinetron ini pada tanggal 4 Mei 2008, dan ketagihan :mrgreen: sampai 7 episode yaitu sampai tanggal 10 Mei 2008. Minggu berikutnya saya sudah berada di Jakarta lagi sehingga tidak sempat lagi mengikuti sinetron ini. Kesan saya, sinetron yang satu ini memang beda dengan tayangan sejenis kalaulah tidak kita anggap melawan mainstream. Tayang pada saat primetime, tontonan ini menyajikan jalan cerita yang mendekati logis dan alur yang berjalan cepat serta cukup sukses menghilangkan ciri-ciri utama yang dianut tontonan berjenis sinetron, misalnya eksploitasi kesedihan yang berlebihan, peran antagonis yang tidak masuk akal dan adegan ternganga-nganga yang bisa menyita waktu sampai 5 menit 😀

Kembali kepada kutipan diatas setelah berpanjang-panjang membahas latar belakang sinetron unik ini. Mungkin pembaca masih bingung, apa istimewanya kutipan di atas sehingga membuat saya shock dan terperangah. Tidak dinyana, pada salah satu episode yang saya ikuti pada akhir pekan lalu saya mendengar ucapan ini. “Perempuan kampung!”, frase yang sangat saya benci itu tiba-tiba muncul di sinetron yang sudah saya naikkan penilaiannya di mata saya. Ucapan sinis bernada merendahkan ini diucapkan oleh Ayu Dyah Pasha (pesinetron senior yang telah eksis di zaman serial laga tahun 90’an) dan Dwi Yan (tak kalah seniornya mengingat sudah muncul pada serial Dokter Sartika di TVRI pada 90’an). Kedua pemeran ini saya anggap telah cukup senior dan seharusnya tidak terkontaminasi penyakit menular sinetron Indonesia sekarang.

Namun apalah daya. Kartel India yang sangat berkuasa di belantara persinetronan tanah air ternyata sangat perkasa dalam menyulap istilah “kampung” menjadi berkonotasi jelek dan tercela. Mereka sukses mendogma masyarakat kita bahwa kini istilah “kampung” lekat dengan kesan bodoh dan layak di cemooh. Yang lebih dahsyat lagi sekarang mereka mengkampanyekan Read the rest of this entry »

“Pemerintah adalah tayangan televisi yang kita saksikan tiap hari dan petugas kelurahan yang melayani kita saat perpanjangan KTP”

Tulisan ini bukan untuk tujuan provokasi maupun kampanye anarkisme. Kutipan diatas pun datangnya bukan dari saya. Malangnya saya, sampai saat tulisan ini saya tulis saya benar-benar tidak ingat siapa pencipta kalimat diatas. Yang saya yakini betul bahwa kalimat polos ini saya dengar di salah satu acara talkshow di televisi swasta.

Pemerintah dan Pemerintahan kian lama kian asing keberadaannya di tengah-tengah kita. Bukannya karena kedua hal ini menjadi barang langka seperti halnya solar, beras dan minyak tanah. Namun karena sentuhannya semakin lama semakin menghilang. Ronanya sendiri tidak kabur dalam pandangan kita. Tampak jelas dan vulgar di televisi dan koran-koran. Suaranya pun masih terdengar lantang di radio-radio. Namun kehadirannya semakin lama semakin tidak kita rasakan.

Entah ini gejala yang baik atau tidak, saya akan mencoba memandang dari sisi positif saja. Cobalah tengok dan amati sekitar kita. Bangsa kita kian hari kian menjelma menjadi bangsa yang mandiri. Peduli setan dengan krisis moneter, krisis sosial, konflik etnis, konflik agama, harga minyak dunia, pergantian presiden dan gubernur, perubahan iklim dan krisis pangan dunia, Bangsa Indonesia masih tetap hidup. Semakin melarat namun semakin kuat.

Anda tentu masih ingat dengan ramalan pakar-pakar ekonomi di barat sana, ketika krisis ekonomi menerpa sebagian negara-negara Asia Timur dan Tenggara. “Lihat Indonesia, 40 juta bayi dan balita akan mati disana!” Abracadabra, apa yang terjadi? Read the rest of this entry »

“Kepunahan manusia akan dimulai dari penyeragaman di semua lini”

Mainstream! Kata ini sekonyong-konyong menjadi monster bagi saya. Saya merasa tidak bersalah telah membaiat dan membaptist kata ini menjadi penyebab utama tersesatnya berjenis-jenis manusia kejurang kebingungan, keputusasaan dan kehancuran. Makhluk ini pulalah yang telah menyebabkan beragam-ragam manusia merasa dikutuk, tidak hoki, perlu diruwat bahkan merasa dirinya dianaktirikan oleh Tuhan [kenyataannya Tuhan sendiri tidak punya anak, apalagi anaktiri :mrgreen: ]

Kian banyak manusia modern merasa tidak berada ditempat dia berpijak dan segera ingin merubah keadaan. Dalam segala aspek kehidupan manusia merasa ada yang salah dan perlu diperbaiki. Karir, keuangan, cinta, kebahagiaan, peruntungan dan hunian adalah topik-topik sederhana yang memunculkan profesi-profesi advisor baru untuk memuaskan dahaga manusia-manusia yang tersesat dan ingin mendapat jalan cahaya. Padahal jika mereka semua tahu, mereka hanya butuh satu jalan, yaitu jalan pulang atau jalan kembali. Sejatinya topik-topik yang saya sebutkan diatas dengan segala macam profesi konsultan yang mengurusnya telah berusaha mengingatkan manusia kemana arah jalan pulang itu.

Akhir-akhir ini bermunculan buku-buku dari para trainer tersohor yang membahas langkah-langkah praktis untuk menjadi sukses. Tersebutlah buku-buku populer semacam 7 habbits, ESQ series, dan berbagai buku karya motivator lokal semacam Mbahnya Dahsyat Tung Desem Waringin ataupun Andrie Wongso. Manusia-manusia modern sangat menggemari wahyu-wahyu baru ini bahkan sangat menanti-nantikan sabda-sabda yang akan ditebar via ceramah-ceramah dalam seminar-seminar. Manusia-manusia baru begitu terpesona oleh ritual meloncat dari tempat duduk dan mengumandangkan mantera selamat pagi!, dahsyat! atau saya bisa!

Bukan, saya bukan bermaksud mengecam dan menghujat praktek-praktek demikian. Saya hanya khawatir jika manusia-manusia modern ini secara tidak sengaja telah mengkondisikan dirinya dalam keadaan “tersesat” tadi. Bagaimanapun, produk-produk buku dan ceramah itu sendiri sangat-sangat bernafaskan mainstream tadi. Makhluk yang telah saya tahbiskan sebelumnya sebagai penyebab utama tersesatnya manusia modern. Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 334,348 hits
%d bloggers like this: