You are currently browsing the category archive for the ‘Mirror’ category.

 

Karena nila setitik rusak susu sebelanga”

Enam tahun dibawah pemerintahan SBY, wajah komunikasi politik negeri ini telah berubah amat dramatis. Untuk menjadi politisi atau tokoh politik saat ini benar-benar harus memiliki mental yang kuat atau staf marketing yang mumpuni. Kerja keras semata tanpa promosi yang diliput media bisa-bisa malah berdampak sebaliknya, menjadi jebakan yang memenjara.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mungkin salah satu contoh yang menjadi korbannya. Niat hati untuk mengangkat ekonomi propinsi lewat promosi pariwisata dan kerjasama di bidang energi terbarukan berujung jadi kecaman, umpatan dan hujatan.

Malang bagi gubernur yang baru terpilih ini. Seorang gubernur muda dengan latar belakang akademisi yang mungkin belum cukup awas dengan wabah citra yang berjangkit di negerinya. Ia nekat pergi ke Jerman untuk menghadiri hajatan yang memang telah dirancang jauh-jauh hari sebelumnya.

Sial baginya, hajatan itu berlangsung saat salah satu kabupaten di propinsinya tengah dilanda bencana tsunami. Bagi seorang gubernur yang tak paham citra ia telah melakukan semampunya. Sebagai seorang yang mengerti manajemen pemerintahan ia telah mengkoordinasikan penanganan bencana kepada staf dan jajarannya, sebagai bekal untuk meninggalkan negerinya selama 5 hari.

Mungkin menurut dia dengan menginap 2 hari 2 malam di lokasi bencana sudah cukup untuk menunjukkan empati, paling tidak 20 kali lipat lebih lama daripada sang presiden yang pernah melawat 2 jam saja. Mungkin menurut dia dengan koordinasi yang telah didelegasikan semua akan tetap terkendali dan akan baik-baik saja.

Maka berangkatlah dia dengan segala persiapan itu. Ia terlalu takut jika 5 propinsi lain yang diundang pemerintah Jerman akan menyambar peluang yang mungkin saja bisa didapatkan propinsi yang dipimpinnya. Ia terlalu lugu dengan semua itu.

Maka pecahlah berita. Dalam semalam ia menjadi terkenal menjadi gubernur yang tak berperasaan. Gubernur yang tega berjalan-jalan disaat rakyatnya kelaparan. Dengan segala berita media dan komentar-komentar yang menyertainya pupus sudahlah citranya. Segala fitnah dan sumpah serapah mengalir untuk dirinya.

Ia bekerja, namun tak mendapat Piala Citra.

“Hai perempuan kampung! Jangan pernah kamu membayangkan akan mengawini anakku. Satu-satunya menantu yang diakui keluarga Sanjaya hanyalah Khumairah!”

Lama tidak menyimak sinetron Indonesia, tiba-tiba saya tersentak dan terperangah ketika mendengar sepotong kalimat ini dari mulut salah satu pemerannya. Sinetron apa yah yang akhirnya saya tonton juga setelah hampir 8 tahun mengharamkan jenis tayangan ini? Judulnya adalah “Munajah Cinta“. Kenal dengan sinetron ini berkat bujuk rayu adik-adik sepupu saya di rumah ketika saya pulang kampung selama 10 hari awal bulan ini. Demam film Ayat Ayat Cinta ternyata ikut menjangkiti adik-adik saya tersebut sehingga sinetron yang diklaim sebangun dengan film sukses tersebut, pun mereka anggap layak untuk ditonton. Akhirnya saya menonton juga episode pertama sinetron ini pada tanggal 4 Mei 2008, dan ketagihan :mrgreen: sampai 7 episode yaitu sampai tanggal 10 Mei 2008. Minggu berikutnya saya sudah berada di Jakarta lagi sehingga tidak sempat lagi mengikuti sinetron ini. Kesan saya, sinetron yang satu ini memang beda dengan tayangan sejenis kalaulah tidak kita anggap melawan mainstream. Tayang pada saat primetime, tontonan ini menyajikan jalan cerita yang mendekati logis dan alur yang berjalan cepat serta cukup sukses menghilangkan ciri-ciri utama yang dianut tontonan berjenis sinetron, misalnya eksploitasi kesedihan yang berlebihan, peran antagonis yang tidak masuk akal dan adegan ternganga-nganga yang bisa menyita waktu sampai 5 menit 😀

Kembali kepada kutipan diatas setelah berpanjang-panjang membahas latar belakang sinetron unik ini. Mungkin pembaca masih bingung, apa istimewanya kutipan di atas sehingga membuat saya shock dan terperangah. Tidak dinyana, pada salah satu episode yang saya ikuti pada akhir pekan lalu saya mendengar ucapan ini. “Perempuan kampung!”, frase yang sangat saya benci itu tiba-tiba muncul di sinetron yang sudah saya naikkan penilaiannya di mata saya. Ucapan sinis bernada merendahkan ini diucapkan oleh Ayu Dyah Pasha (pesinetron senior yang telah eksis di zaman serial laga tahun 90’an) dan Dwi Yan (tak kalah seniornya mengingat sudah muncul pada serial Dokter Sartika di TVRI pada 90’an). Kedua pemeran ini saya anggap telah cukup senior dan seharusnya tidak terkontaminasi penyakit menular sinetron Indonesia sekarang.

Namun apalah daya. Kartel India yang sangat berkuasa di belantara persinetronan tanah air ternyata sangat perkasa dalam menyulap istilah “kampung” menjadi berkonotasi jelek dan tercela. Mereka sukses mendogma masyarakat kita bahwa kini istilah “kampung” lekat dengan kesan bodoh dan layak di cemooh. Yang lebih dahsyat lagi sekarang mereka mengkampanyekan Read the rest of this entry »

 koen_dwi.jpg

Sebenarnya sudah cukup lama saya mengamati keganjilan ini dalam setiap edisi Panji Koming di Kompas Minggu, namun berhubung selama ini saya cenderung berprasangka baik maka saya biasanya mengenyampingkan dugaan-dugaan itu. Saya menganggap gambaran itu semata-mata sebagai pelengkap konteks dan suasana saja sehingga dapat berubah sewaktu-waktu. Namun setelah data empirik mulai terkumpul cukup signifikan, saya mulai melihat adanya kekonsistenan itu. Kekonsistenan yang menurut saya tidak sehat untuk dalam etika media massa.

Pembaca mungkin mulai bertanya-tanya. Sebenarnya apa sih yang saya permasalahkan dalam karya seorang kartunis bernama Dwi Koendoro ini? Tidak lain tidak bukan adalah kekonsistenan ybs dalam menggambarkan karakter wajah tiga orang petinggi negeri. Siapa saja mereka? Yap, betul. Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla dan Menkokesra Aburizal Bakrie (sebelumnya saya garis bawahi dulu bahwa saya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan ketiga orang penting diatas :mrgreen: ).

SBY selalu digambarkan dengan wajah lugu, nelongso bahkan terkadang terkesan bloon dan tanpa wibawa. Sedangkan Jusuf Kalla digambarkan bermuka culas, alis ditekuk, mata mendelik bagaikan menyimpan seribu dendam kesumat. Kalla biasanya digambarkan berada dibelakang SBY dalam posisi yg gampang diartikan sebagai orang yang merencanakan sesuatu yang amat jahat dengan liciknya. Lain lagi nasib Aburizal Bakrie, tokoh yang satu ini terlalu sering digambarkan bagaikan tengkulak yang licik.

Saya tidak tahu apa yang ada dipikiran DwiKoen ketika menciptakan sketsa-sketsa itu. Jika ada ketidaksukaan personal mungkin ada baiknya tidak ditransformasi menjadi kebencian publik hanya karena ybs memegang “kuasa” untuk itu. Semoga kebebasan pers ini mengarah kepada kebebasan yang sehat, beradab dan bermartabat.

Lama tidak menulis artikel berbau nasionalisme, sejarah dan antropologi, saya kembali tergelitik ketika membaca sebuah kutipan tentang nasionalisme. Konon kabarnya di dunia barat sana nasionalisme mereka dibangun diatas rasionalisme, universalisme dan tentu saja sekularisme. Kebalikannya adalah timur yang nasionalismenya dicemari oleh kepercayaan-kepercayaan mistis, tahayul, irrasional dan primordial. Kutipan diatas secara kebetulan bersua dengan cita-cita bangsa Indonesia menjadi salah satu negara maju pada tahun 2030.

Lalu apa relevansinya judul tulisan saya kali ini dengan kedua serpihan berita diatas? Saya memandangnya dari suatu segi yang lain, yaitu dari masa kelahiran Republik Modern Indonesia yang masih muda usia di atas kepulauan nusantara ini. Bandingkan umurnya dengan negara-negara sebelumnya seperti Sriwijaya (500 tahun), Majapahit (307 tahun) dan Aceh Darussalam (408 tahun). Negara baru ini dibangun diatas nasionalisme yang diasosiasikan dengan rasa senasib sepenanggungan.

Lalu setelah berlalu enampuluh tahun, banyak kalangan berkeluh kesah tentang menurunnya rasa nasionalisme pada era ini. Banyak kalangan sibuk mendefinisikan nasionalisme yang hilang itu, ada yang dengan cara mengklaim darahnya merah putih, menghafal pancasila, merapal lagu kebangsaan, mendemo kedutaan negara tetangga sampai membawa bambu runcing ke tengah laut ambalat sana. Sembari geleng-geleng kepala, lamat-lamat saya bisa memahami suasana hati mereka juga, sekaligus mengkritisi nasionalisme ala mereka.

Zaman, telah berubah. Romantisme merebut kemerdekaan pada era kebangkitan dunia ketiga sedikit demi sedikit mulai terkikis. Kita semakin linglung tentang siapa kita. Kita merasa kurang dibanding bangsa-bangsa lain. India misalnya, walaupun mereka dijajah tak kalah lama oleh Inggris, mereka masih dengan kokoh memiliki kebanggaan terhadap peradaban yang telah mereka bangun ribuan tahun. Tiga negara Asia Timur yaitu China, Jepang dan Korea juga berpacu mengaktualkan kegemilangan sejarah peradaban mereka. Dibelahan dunia lain, Iran dan Turki mengibarkan kembali marwahnya. Read the rest of this entry »

Kapal itu telah memesonaku sejak kanak-kanak dahulu
Namun ketika datang kesempatan berlayar, aku urung menaikinya
Badai musim ini benar-benar membuatku gila
Sekarang aku berdiri di tebing menatapnya berlayar menjauh …

Aku tidak tahu apakah kapal berikutnya yang dijanjikan akan datang,
Dan aku tidak tahu apakah jika ia datang aku masih ingin menaikinya.
Duh, badai musim ini terasa amat panjang

@@@

Ibu, berdosakah aku padamu?
Sungguh ibu, sungguh aku bimbang
Awan dipuncak tebing sana terlihat lebih cemerlang ketimbang yang dikaki cakrawala itu
Ayah,
Maaf, aku telah memilih jalanku.

@@@

Wahai Nahkoda,
Tidak terlalu lamakah menurutmu lima tahun perjalanan itu?
Maaf Nahkoda,
Selain cakrawala itu, apakah engkau tidak punya dongeng lain?

@@@

Bahtera, engkau cinta pertama tak bersyarat
Tapi mengapa engkau datang saat badai
Engkau menawan bahtera, bahkan angkuh
Tapi sedikitpun tak kau bawa berita tentang ranah tujuan

@@@

Padamu tebing,
Mungkin aku akan setia bergelantungan
Walau curam-mu tambah lukaku.
Berjanjilah tebing,
Bukan hanya awan yang dapat kuraih dipuncak-mu.

@@@

Badai, pergilah!

Saya berpikir lebih dari dua kali sebelum menulis postingan ini. Namun setelah mempertimbangkan bahwa efek kontroversi dan salah paham itu pun sifatnya relatif, maka saya beranikan diri untuk menulis karena saya sadar masih banyak pula orang yang berpikir lebih dari dua kali untuk memahami maksud saya setelah membaca artikel ini. Sedemikian sensitifkah artikel kali ini? Saya juga tidak punya prediksi tentang itu. Lagi-lagi ini relatif terhadap penafsiran pembaca. Seorang anggota TNI, mahasiswa dan politisi dimungkinkan untuk menafsirkan secara berbeda.

Mengawali opini saya, saya akan cuplikkan serpihan fakta yang saya comot dari media massa yang menjadi inspirasi postingan kali ini :

  1. Metro TV pada hari kemerdekaan menayangkan berita berjudul “Mantan Anggota GAM Menghadiri Upacara Hari Kemerdekaan RI”.
  2. Asrama mahasiswa Papua di Denpasar, Bali diteror orang tidak dikenal karena tidak memasang bendera merah putih.
  3. Sebagian warga Papua di Merauke tidak memasang bendera merah putih karena harga bendera sangat mahal yaitu Rp.15.000,- / potong. Uang sejumlah itu lebih diperlukan mereka untuk membeli beras dan minyak goreng.
  4. Sebuah desa di pantai utara Jawa Tengah telah bertahun-tahun tidak memasang bendera merah putih pada saat 17-an, karena menurut pemahaman mereka, kemerdekaan sejati adalah didalam hati, bukan pada materi bendera yang mereka anggap simbol belaka. Warga desa tetangga mereka dan pemerintah daerah setempat memaklumi sikap mereka tanpa harus mencap mereka separatis.
  5. Prof. Taufik Abdullah berpendapat, akar nasionalisme model Indonesia itu sebenarnya adalah solidaritas sosial yang bisa kita saksikan muncul di kampung-kampung pada saat perayaan 17-an. Akar nasionalisme kita bukan romantisme ala Italia, chauvinisme ala Jerman dan Jepang, tribalisme ala negara-negara Arab atau liberalisme ala Amerika Serikat.

Berangkat dari serpihan fakta diatas saya bangun keprihatinan saya yang sebelumnya telah saya perkenalkan lewat judul postingan ini. Saya miris menyaksikan bahwa ternyata dipelosok negara ini, ribuan kilometer dari ibukota masih ada warga negara kita yang memasang bendera karena takut. Takut akan ditegur tentara, takut di cap sebagai pemberontak bahkan takut di cap sebagai mantan pemberontak. Mereka membeli dan memasang bendera dengan mengorbankan uang yang pada saat yang sama lebih diperlukan oleh mereka untuk membeli beras dan minyak goreng. Benarkah mereka tidak cinta pada negeri ini. Jika tidak, maka tidak menurut siapa? Siapakah yang begitu berkuasa mendefinisikan secara sepihak rasa cinta itu.

Terkadang saya merasa lucu melihat rasa cinta tanah air diwujudkan dengan menghafal Pancasila, Pembukaan UUD atau lagu kebangsaan yang konon kabarnya panjangnya sampai tiga stanza. Sedangkal itukah rasa nasionalisme didefinisikan. Read the rest of this entry »

Tenang dulu, saya tidak sedang memprovokasi Anda, apalagi sedang berniat makar terhadap NKRI dan Konstitusi. Saya sebenarnya cuma sedang geli terhadap fenomena negeri ini sekaligus “iri” sama lembaga TNI yang bercikal bakal dari Tentara Keamanan Rakyat (baca: Tentara Dari Rakyat yang Merupakan Sahabat Rakyat) dan lembaga Polisi yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Saya iri karena dunia loreng ini memberikan cukup banyak “sumbangan” terhadap warna dan image negeri ini. Setidaknya dari kepopuleran tokoh yang berasal dari dunia mereka pada nama jalan protokol diseluruh Indonesia. Hampir bisa ditebak, sebagian besar nama-nama jalan protokol terutama di luar Jawa menggunakan nama Jendral Besar Sudirman dan sisanya dikapling korban tragedi September 1965.

Sebenarnya tidak ada yang salah juga dengan penamaan ini, toh sekurangnya mereka pernah memperjuangkan sesuatu yang dapat dikenang, paling tidak untuk gengsi organisasinya. Tiga dasawarsa lebih kepemimpinan sang jendral kuat di negeri ini, memberikan ruang yang sangat leluasa untuk proyek “militerisasi” nama jalan itu. Selain itu pada era sang jendral juga berlaku tradisi mengambil tokoh dunia loreng sebagai pemimpin daerah seperti gubernur atau bupati/walikota. Khusus untuk tradisi terakhir ini, masih bisa kita lihat lestarinya pada pilkada DKI Jakarta barusan. Dunia loreng memang ruarrrr biasa! Tinggal comot salah satu orangnya dengan embel-embel jendral bintang sekian, maka jadilah ia pemimpin instan. Cukup dengan mengganti kostum lorengnya dengan baju safari atau busana daerah jadilah ia pemimpin.

Jadi sebetulnya kita patut “gembira” juga melihat penampakan yang sangat lazim ini. Bangsa kita tidak akan pernah mengalami yang namanya krisis kepemimpinan. Bahkan jika anda-anda pembaca sekalian memilih untuk tidak sekolah dan buta huruf sampai tua, tidak akan terjadi apa-apa kok sama bangsa ini. Anda akan bisa tetap bernafas lega seperti biasa dan tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu. Anda butuh apa? Bupati, Walikota, Gubernur atau Presiden sekalipun. Tinggal comot aja kok dari dunia loreng. Pasti memuaskan. Sudah Terbukti dan Teruji, bak kata Mbak Mega. Gitu aja kok repot, bak kata Gus Dur. Dan metode ini pun terbilang Hi Tech bak kata Pak Habibie.

Butet Kertaradjasa mungkin hanya orang gila yang bermimpi bahwa republik ini akan menjadi Republik Seniman dengan mengganti nama jalan Ahmad Yani dengan Ahmad Dhani, walau hanya semalam saja. Saya pun mungkin hanya orang gila yang bermimpi bahwa republik ini sebenarnya Republik Sastrawan, walaupun saya tahu bahwa salah satu pencetus nasionalisme Indonesia terutama dalam pengembangan Bahasa Indonesia adalah para sastrawan angkatan 1920-an. Lewat karya-karya mereka lah untuk pertama kalinya bangsa ini merasa sejajar dan sama pintar dengan bangsa penjajahnya. Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 310,026 hits
%d bloggers like this: