You are currently browsing the category archive for the ‘Romance’ category.

 

Pagi di Kaki Gunung Osga

Tidak ada yang berbeda pada pagi ini. Seperti pagi-pagi lainnya di musim semi, matahari tetap terbit dengan cerlang di ufuk timur. Kabut mulai terangkat dari kaki-kaki bukit di pegunungan Sinabar. Cewang berwarna jingga menghiasi cakrawala di sekitar Gunung Nubus. Di selatan kota, lereng-lereng Gunung Osga mulai berubah warna dari biru pekat menjadi sedikit jingga. Sesaat lereng-lereng itu mempertontonkan guratan-guratan yang sejatinya adalah jalur lava di masa purba.

Rakyat Bakuhumpay sudah sejak dua jam yang lalu terjaga. Kota kecil di kaki Gunung Osga ini memang dihuni oleh penduduk yang tergolong rajin. Ba’da shubuh mereka sudah beranjak memulai kegiatan rutin. Dimulai dari menyambangi kedai kopi sekitar setengah jam, mereka mulai berangsur-angsur pulang ke rumah untuk selanjutnya turun ke sawah. Masyarakat Bakuhumpay sebagian besarnya memang petani. Beberapa gelintir kelas menengah ada juga yang berprofesi sebagai pegawai negeri atau guru.

Pagi itu Sumitra barusaja beranjak dari kedai kopi sehabis menyetorkan uang penjualan gorengan kepada pemilik kedai. Ia sempat menyimak pembicaraan atau lebih tepatnya kehebohan berita yang sedang dibahas oleh bapak-bapak di kedai kopi. Salah seorang di antara mereka membawa cerita yang baru didengarnya dari Radio Gasak. Khabarnya Presiden Oroskane telah memberi titah kepada Panglima Pasukan Rodeopigon untuk menghukum Negeri Bingkanamua atas pembangkangannya terhadap Presiden. Ultimatum yang dikirim Panglima Haldan, seorang panglima penting Negeri Bingkanamua kepada sang presiden dirasa sudah sangat keterlaluan. Maka tiada cara lain yang layak ditempuh untuk memulihkan wibawa presiden, kecuali mengirimkan pasukan ke Negeri Bingkanamua.

Kehebohan di kedai kopi tadi sempat menjadi buah pikiran Sumitra, namun apalah yang bisa dimengerti oleh anak petani berumur sepuluh tahun itu. Dengan seragam putih lusuhnya ia segera bergabung dengan rombongan kecil anak-anak seumurannya. Anak-anak lain berpenampilan kurang lebih sama dengan Sumitra, dengan telanjang kaki mereka bergerak ke arah pasar ternak. Sekolah mereka kebetulan berada di samping pasar ternak itu. Sampai di sekolah, masing-masing anak duduk bersila di lantai dengan rapi. Mereka mengeluarkan alat tulisnya dengan rapi pula. Sebuah batu pipih sebagai buku, beberapa batu tulis dan sebutir putik pepaya sebagai karet penghapus. Dan rutinitas pagi itu pun segera dimulai. Read the rest of this entry »

“Kematian hanyalah tidur panjang”

“Maka mimpi indahlah engkau… Camelia”

Tidak. Ternyata Satrio tidak salah. Bu Siska juga tidak salah. Dan jam di HP ku juga tidak mungkin salah. Hari ini adalah hari Kamis. Dua hari setelah hari Selasa saat aku pergi mencari tambahan bunga yang dipesan Bu Siska. Hari ini bukan hari kesembilan setelah aku bertemu Camelia untuk pertama kalinya. Hari ini adalah dua hari sejak peristiwa itu. Setidaknya dalam hitungan manusia normal.

Ohh, apakah aku telah sedemikian gila karena jatuh dari motor. Kemana saja aku seminggu kemarin. Kenapa waktu tidak berjalan semestinya. Benarkah apa yang dikatakan dua gadis tadi. Kenapa aku langsung percaya pada mereka, padahal selama ini aku tak pernah percaya pada cerita mistik. Kenapa aku sedemikian pengecutnya sehingga memilih untuk kabur dari desa itu begitu mendengar cerita dua gadis tadi. Kenapa? Ohh, apakah yang telah terjadi pada diriku? Kenapa sama sekali tidak ada bekas luka pada diriku. Ilusi apakah ini? Kenapa harus aku?

Kembang, jembatan, Camelia, kucing hitam. Semua berputar-putar dipikiranku membentuk rantai pertanyaan yang tak kunjung putus. Mataku nanar menatap lampu kamar kostku yang seakan-akan berputar-putar dan berubah warna. Kepalaku terasa berat. Berat sekali. Read the rest of this entry »

“Sekarang setelah kau pergi, kurasakan makna tulisanmu”

“Meski samar, tapi jelas tegas”

“Engkau hendak tinggalkan kenangan”

Seminggu telah berlalu sejak aku menginap dirumah Camelia. Gadis ini sungguh baik hati. Dia membuang segala kecurigaan terhadap pemuda kota sepertiku yang belum beberapa lama dikenalnya. Satu hal yang masih belum bisa kupahami adalah kebiasaannya menaruh kembang segar di vas bunga diatas meja kecil samping tempat tidurku setiap pagi. Jujur saja aku merasa risih dengan kembang itu, bahkan pernah kusembunyikan vas itu pada malam hari sebelum aku tidur. Namun entah bagaimana caranya ia menemukan, pagi hari ketika aku terjaga vas itu telah kembali ketempatnya dengan seikat kembang segar didalamnya. Ketika kutanyakan kepadanya, Camelia hanya senyum-senyum saja.

Camelia gadis sederhana yang bersahaja. Ia tidak terlalu banyak bicara. Diwajahnya masih terpancar sisa-sisa keluguan seorang gadis desa. Ia penyuka warna putih. Setidaknya dari yang aku ingat belum sekalipun ia mengenakan pakaian yang bukan putih sejak aku menginap dirumahnya. Namun ia tampak sungguh anggun dibalut pakaian itu. Kadangkala ia mengenakan topi lebar warna putih juga, kalau ia keluar rumah.

Tiga hari terakhir ini badanku sudah mulai pulih. Camelia membawaku keladangnya tiap pagi selama tiga hari ini. Ladang bunga ini tidak berapa luasnya, karena itu Camelia tidak punya kios sendiri. Ia menitipkan bunga-bunganya dibeberapa kios dipinggir jalan utama. Ladang ini satu-satunya peninggalan orangtuanya selain rumah yang ditempatinya. Menurut Camelia kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan sewaktu ia berumur 10 tahun. Setelah itu ia tinggal bersama keluarga Wak Somad. Namun ia masih merawat rumahnya yang juga tidak terlalu jauh dari rumah Wak Somad.

“Lia, hari ini aku berencana kembali ke Jakarta. Sepertinya keadaanku sudah mendingan. Aku tidak mau ketinggalan ujian untuk kedua kalinya”, Aku membuka percakapan pagi ini ketika Camelia meletakkan kembang di vas bunga. Read the rest of this entry »

“Tiba-tiba langkahku terhenti”

“Sejuta tangan t’lah menahanku”

“Ingin kumaki mereka berkata”

“Tak perlu kau berlari mengejar mimpi yang tak pasti”

Pukul delapan lewat duapuluh menit. Jam dinding kusam disudut warung mulai memperdengarkan detaknya. Kabut tipis sudah mulai turun diluar sana. Aku meyeruput sisa kopi digelasku. Aneh sekali kampung ini pikirku dalam hati. Belum jam sembilan sudah sepi sekali. Aku masih tidak habis pikir, kenapa tidak satupun warga yang mampir ke warung ini mengenali ciri-ciri gadis yang kucari. Paling tidak mobil bak terbukanya itu. Dikampung sepi seperti ini berapa orang lah yang punya mobil. Paling hanya satu dua pikirku. Aku juga tidak tahu kenapa aku dengan ngototnya beranggapan demikian. Entah karena aku belum menemukan rumah batu satupun sejak jembatan tempat pertemuanku tadi dengan si gadis, atau karena keyakinanku yang sangat kuat bahwa gadis penyelamatku ini adalah warga kampung sini. Ahh, apapun itu yang penting aku harus bisa menemukan rumah gadis itu sebelum matahari terbit. Toh kalau ngebut bisa sampai Jakarta dalam tiga jam besok pagi.

“Mas, masih lama ya? Maaf, warungnya sudah mau tutup, sepertinya sudah sepi”. Ucapan ibu warung membuyarkan lamunanku. “Ah nggak kok bu, saya juga udah selesai. Semuanya jadi berapa bu?” Aku bergegas menyelesaikan urusanku dengan si ibu warung.

Sebenarnya aku juga bingung, kalau rumah si gadis nggak ketemu aku mau nginap dimana ya? Pikiranku terombang ambing sepanjang perjalanan. Aku terus berputar-putar dikampung ini dengan kecepatan rendah. Mushala kecil tempat aku maghriban tadi sudah duakali kulewati. Aku benar-benar mencari tanpa arah. Selama itu pula tidak ada seorangpun yang berpapasan denganku.

Dalam kekalutanku, kuputuskan balik ke Jakarta saja. Aku meralat semua ambisiku menemukan gadis misterius itu malam ini. Persetan dengan Bu Siska. Mau pecat juga silahkan. Aku masih bisa pinjam uang sama Satrio, paling tidak untuk sementara pikirku menguatkan alasan kepulanganku. Kali ini si beng aku pacu sekencang-kencangnya. Aku sudah cukup lelah dengan hari paling buruk ini. Aku baru ingat kalau hari ini adalah hari selasa, hari paling sial sepanjang sejarah hidupku. Ahh, yang penting nyampe di kost secepatnya. Tidur.

Seekor kucing hitam tiba-tiba meloncat entah darimana. Sekonyong-konyong dia telah berada dua meter dihadapanku. Aku tidak sempat mengerem lagi dan dengan sigap kuhindari dengan membanting stang kekiri.

Read the rest of this entry »

“Kau sejuk seperti titik embun membasah di daun jambu”

“Dipinggir kali yang bening”

“Sayap-sayapmu kecil lincah berkepak”

“Seperti burung camar, terbang mencari tiang sampan”

Dengan langkah gontai aku beranjak dari kios terakhir ini. Ini adalah kios kelima yang kudatangi, dan semuanya memberikan satu jawaban. “Sudah habis Mas, kenapa tidak pesan dari dua hari kemarin?, kenapa tidak telpon dulu?” Ahh, tahu apa mereka tentang kesulitanku. Aku juga tidak menyalahkan mereka atas jawaban-jawaban tadi. Aku hanya mengumpat diri sendiri. Kenapa harus hari ini. Kenapa pada hari pertama kerjaku. Kenapa pada diriku.

Apa kata Bu Siska nanti. Hari pertama kerja udah nggak becus, masa dikasih tugas segampang ini aja gagal. Aku tak kuasa lagi membayangkan dan ingin segera menghapusnya dari khayalan.

Matahari kian jatuh keufuk barat. Aku meneruskan perjalanan tanpa arah. Berputar-putar didesa-desa sekitar lembah ini. Berharap menemukan sebuah keberuntungan. Namun satu jam berlalu, belum ada tanda-tandanya. Hari kian senja, dan aku makin putus asa.

Pada sebuah jembatan, kuputuskan menghentikan motor bututku. Untuk beberapa saat aku hanya duduk terdiam. Berusaha menghilangkan suara-suara bising yang berputar-putar dikepala. Berusaha untuk tenggelam dalam keheningan senja. Pandangan kupusatkan pada jeram kecil dibawah sana. Airnya memantulkan rona jingga yang masih tersisa di angkasa.

Namun aku tak dapat menguasai pikiranku yang lagi dan lagi terus kembali ke Jakarta sana. Hari pertama kerja ku ini akan segera berakhir. Berakhir sebagai hari terakhir. Bukan aku yang mendramatisir. Namun begitulah perjanjiannya kemarin. Dasar nasib. Hidup memang tak memberi pilihan. Sekalinya datang, secepat itu pula ia menghilang.

“Maaf mas, bisa dipindahkan motornya dari jembatan?” Pertanyaan barusan mengiringi sebuah tepukan dipundakku. Aku terkejut dan segera menoleh kebelakang. Seorang gadis bermata teduh telah berada dibelakangku entah sejak kapan. Read the rest of this entry »

Tulisan ini adalah pembuka untuk kategori Romance yang efektif akan saya isi mulai bulan Juni 2007. Isinya nanti bisa berupa cerpen, cerbung, serial atau skenario. Untuk karangan pendek atau puisi-puisi ngaco akan saya buang pada kategori Personifikasi. Kategori Romance ini saya khususkan untuk menampung obsesi yaitu menjadikan Blog sebagai sarana berbagi cerita fiksi. Saya tidak akan meributkan soal HAKI untuk tujuan ini. Yah syukur-syukur ada yang tertarik untuk mengangkat dan mengolahnya menjadi skenario film pendek atau serial. Kategori Romance ini juga menampung obsesi saya akan penulisan cerita-cerita bernuansa realis atau berlatar belakang sejarah atau fiktif namun logis.

Saya hanya akan menuliskan cerita-cerita sederhana yang kira-kira gampang dikonversi menjadi skenario. Sebab saya memang tidak punya keahlian untuk menulis cerpen kompleks ala Putuwijaya apalagi novel-novel berat ala NH.Dini. Saya juga bukan tipe penulis buku tebal ala Supernova-nya Dewi Lestari. Satu-satunya tulisan saya yang paling tebal hingga saat ini hanyalah skripsi saya 😀 . Saya juga tidak keberatan jika nanti tulisan saya hanya cocok untuk konsumsi remaja. Tapi tak apalah, paling tidak bisa memuaskan obsesi saya untuk menulis cerita yang rada logis, ketimbang tidak berbuat apa-apa dan rajin pula menghujat sinetron televisi atau film nggak mutu tiap hari.

Kenapa kategori ini saya beri nama Romance? Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 76 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 305,866 hits
%d bloggers like this: