You are currently browsing the category archive for the ‘Uneq Uneq’ category.

September 14, 2011 pukul 11:41 am saya menerima sebuah SMS dari funzone. Sadar bahwa ini adalah SMS dari content provider dan tidak berminat untuk registrasi content apapun, saya langsung menghapus SMS ini setelah membukanya. Saya ingat betul tidak mengklik apapun atau menelusuri link yang ada dalam SMS ini jika ada.

Ajaibnya, hanya dengan melakukan hal tersebut pulsa saya ternyata telah berkurang sebanyak Rp 3.300,-. Saya segera menghubungi Call Center Indosat di nomor 100 dengan biaya Rp 400,-/panggilan untuk menelusuri jenis transaksi apa yang baru terjadi.

Menurut petugas Call Center Indosat, saya baru saja menerima content dari layanan 9192 (Funzone) pada September 14, 2011 pukul 11:41 am. Content/SMS yang diterima ini dapat dihentikan dengan perintah:

STOP kirim ke 9192 (biaya RP 550,-)

Ketika saya menanyakan kapan saya melakukan registrasi untuk layanan ini, petugas Call Center menjelaskan bahwa itu diluar pengawasan Indosat. Hal yang sangat sulit diterima akal sehat ketika Indosat punya data transaksi terakhir namun tidak punya data kapan pelanggannya registrasi untuk sebuah layanan yang berjalan di atas jaringannya.

Petugas Call Center Indosat juga berteori bahwa kemungkinan registrasi terjadi pada saat:

  • Mengakses layanan waptrick via GPRS (saya tidak pernah melakukannya)
  • Nomor handphone saya dimasukkan seseorang pada sebuah layanan web dan dianggap langsung sebagai registrasi (agak menyeramkan juga jika hal ini benar-benar terjadi, bayangkan: fitur ini bisa menjadi sarana keisengan seseorang)

Akhirnya saya berkesimpulan (setelah dirugikan Rp 3.850,-) bahwa Indosat pasti tahu soal layanan 9192 ini dan para petugas Call Center sudah ditraining untuk pura-pura tidak tahu proses registrasinya. Mereka cuma akan “berbaik hati” memberi tahu cara UNREG dari  9192.

Anda masih percaya bahwa ada operator yang tidak tahu menahu tentang layanan content provider yang malang melintang di jaringan mereka?

Peringatan

Berdasarkan postingan kaskus di bawah ini ada beberapa kasus yang mungkin terjadi:

  1. Layanan sejenis juga datang dari nomor 9551 (layanan Bola)
  2. Kasus ini hanya terjadi pada operator Indosat
  3. Perintah UNREG sering tidak sukses
  4. Perintah yang dikonfirmasi sukses adalah UNREG FUN atau  STOP, kirim ke 9192
  5. Ada kemungkinan SMS Funzone 9192 datang kembali secara periodik dan anda harus mengulangi step UNREG FUN atau STOP kembali, yang artinya secara periodik ada kemungkinan anda harus kehilangan pulsa lagi sebesar Rp 3.850, –
  6. Anda dapat melaporkan ketidaknyamanan anda ke pengaduan@brti.or.id (Layanan Pengaduan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia)

Silahkan dibaca juga postingan Kaskus di bawah ini:

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=296922785

http://archive.kaskus.us/thread/3062901/120

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5633255

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4648393&page=5

Masih bimbang bagaimana caranya bisa segera lepas dari jerat utang KPR (khususnya konvensional)? Di bawah ini akan saya sajikan beberapa alternatif yang bisa membuat Anda berhemat sampai 64% dari Total Bunga dan 33% lebih cepat dari jadwal yang seharusnya.

Kita akan menggunakan kombinasi dari 4 fitur di bawah ini dalam rangka mewujudkan tujuan di atas:

  1. Tabungan Tetap
  2. Angsuran Ekstra Berkala
  3. Take Over ke Bank Syariah
  4. Pelunasan Dipercepat

Kunci dari cara cepat melunasi KPR adalah poin pertama, yaitu “Tabungan Tetap”. Metode pelunasan yang akan saya paparkan sebenarnya adalah standard yaitu mengurangi pokok kredit sehingga berimplikasi pada porsi bunga yang harus kita bayarkan tiap bulan. Ingat pada KPR Bank Konvensional (khususnya BTN) berlaku sistem Anuitas dimana konsepnya adalah cicilan anda akan tetap selama masa kredit (jika tidak terjadi kenaikan tingkat suku bunga kredit). Di dalam cicilan tetap itu terkandung 2 komponen yaitu pokok dan bunga.

Pada tahun-tahun pertama bank akan mengambil porsi bunga yang sangat besar. Contoh jika anda mengajukan kredit sebesar 136.500.000 dengan tingkat suku bunga 12% maka pada tahun pertama ini bank berhak memperoleh bunga sebesar 12% x 136.500.000 = 16.380.000!

Perhatikan ilustrasi berikut: Read the rest of this entry »

Belakangan ini marak wacana untuk memindahkan ibukota yang notabene adalah memindahkan pusat pemerintahan negara. Berbagai model pun diusulkan, contohnya Putrajaya-Malaysia atau Canberra-Australia. Para pakar yang kompeten di bidang tata kota pun sudah menghitung-hitung biayanya. Kurang lebih 50 Trilyun rupiah diperkirakan akan membuat rencana ini menjadi nyata. Soal pendanaan pun sudah dipikirkan oleh para pakar keuangan negara. Menurut mereka nominal 50 Trilyun Rupiah itu bisa dicicil selama 5 tahun anggaran APBN. Asal tahu saja 50 Trilyun rupiah itu juga setara dengan jumlah devisa yang dihasilkan para Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia selama setahun.

Pindah Ibukota?

Adalah hal yang lumrah bagi negara federal semacam AS, Australia, Canada bahkan Malaysia untuk tidak memiliki ibukota yang penuh sesak seperti Jakarta. Bandingkan dengan negara sentralistis lain seperti Perancis, Jepang dan Thailand. Tampaknya ke tiga negara ini menghadapi problem yang sama dengan Indonesia. Ibukota mereka pun multifungsi sebagaimana Jakarta: pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat hiburan sekaligus pusat pendidikan. Bedanya, mereka sudah jauh-jauh hari mempersiapkan ibukotanya untuk tetap layak ditinggali dengan membangun jaringan transportasi massal yang siap melayani warganya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia. Haruskah memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi kemacetan ibukota yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Jakarta bahkan telah berevolusi menjadi kota besar yang sangat tidak manusiawi, terutama di jam-jam kerja.

Akar Permasalahan

Jika kita merunut ke akar permasalahan, tampaklah jelas penyebab mengapa orang pergi berduyun-duyun mencari kerja dan kemudian berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Tidak lain tidak bukan adalah karena Jakarta telah menjelma menjadi “satu-satunya” pusat pertumbuhan yang sedemikian hebat menyedot SDM dari seluruh penjuru negeri. Ibarat sekarung besar gula yang tidak punya saingan, para semut pun berkerumun mengerubunginya dari segala arah.

Cobalah kita lihat Jakarta dalam aspeknya sebagai kota jasa. Hampir semua industri yang bergerak di sektor jasa berpusat di sini. Kita boleh mendata sektor Telekomunikasi, Perbankan, Keuangan, Transportasi, Lembaga Penyiaran, Perdagangan dan Pendidikan. Bahkan di kota-kota satelit Jakarta seperti Tangerang, Bekasi dan Cileungsi menjadi pusat-pusat manufaktur.

Imbas dari semua sektor yang berpusat di satu kawasan ini tentu saja adalah tersedotnya sejumlah besar manusia untuk bekerja dan mencari hidup disini. Efek turunannya tentu saja masalah perumahan dan transportasi, karena dua hal ini termasuk daftar teratas kebutuhan hidup manusia, khususnya pekerja. Efek turunan lapis kedua adalah berkembangnya sektor jasa yang lebih kecil dan sifatnya menyebar, contohnya usaha penyediaan konsumsi seperti warung tegal dan rumah makan padang. Usaha-usaha semacam ini akan mengisi setiap celah pemukiman dan perkantoran. Kebutuhan terhadap servis tenaga kebersihan dan keamanan pun melengkapi efek-efek turunan ini. Keseluruhnya berkait kelindan dalam sebuah lingkaran setan yang tidak henti-hentinya menyuplai jumlah manusia ke Ibukota.

Silicon Valley

Pernahkah anda mendengar Silicon Valley di AS atau Hyderabad di India? Kedua kota ini merupakan kota-kota baru yang dibentuk untuk memusatkan satu jenis industri (dalam hal ini Teknologi Informasi) sekaligus menampung para pekerja di bidang tersebut.

Bayangkan jika Indonesia punya sekian Silicon Valley yang tersebar di pulau-pulau utama. Masing-masing Silicon Valley ini diperuntukkan khusus untuk satu atau dua sektor industri. Sebagai contoh, kita bisa memusatkan sektor Telekomunikasi di Bandung, sektor Keuangan di Medan, sektor Perbankan di Makassar, Hiburan dan Penyiaran di Palembang, dsb. Read the rest of this entry »

“Hai perempuan kampung! Jangan pernah kamu membayangkan akan mengawini anakku. Satu-satunya menantu yang diakui keluarga Sanjaya hanyalah Khumairah!”

Lama tidak menyimak sinetron Indonesia, tiba-tiba saya tersentak dan terperangah ketika mendengar sepotong kalimat ini dari mulut salah satu pemerannya. Sinetron apa yah yang akhirnya saya tonton juga setelah hampir 8 tahun mengharamkan jenis tayangan ini? Judulnya adalah “Munajah Cinta“. Kenal dengan sinetron ini berkat bujuk rayu adik-adik sepupu saya di rumah ketika saya pulang kampung selama 10 hari awal bulan ini. Demam film Ayat Ayat Cinta ternyata ikut menjangkiti adik-adik saya tersebut sehingga sinetron yang diklaim sebangun dengan film sukses tersebut, pun mereka anggap layak untuk ditonton. Akhirnya saya menonton juga episode pertama sinetron ini pada tanggal 4 Mei 2008, dan ketagihan :mrgreen: sampai 7 episode yaitu sampai tanggal 10 Mei 2008. Minggu berikutnya saya sudah berada di Jakarta lagi sehingga tidak sempat lagi mengikuti sinetron ini. Kesan saya, sinetron yang satu ini memang beda dengan tayangan sejenis kalaulah tidak kita anggap melawan mainstream. Tayang pada saat primetime, tontonan ini menyajikan jalan cerita yang mendekati logis dan alur yang berjalan cepat serta cukup sukses menghilangkan ciri-ciri utama yang dianut tontonan berjenis sinetron, misalnya eksploitasi kesedihan yang berlebihan, peran antagonis yang tidak masuk akal dan adegan ternganga-nganga yang bisa menyita waktu sampai 5 menit 😀

Kembali kepada kutipan diatas setelah berpanjang-panjang membahas latar belakang sinetron unik ini. Mungkin pembaca masih bingung, apa istimewanya kutipan di atas sehingga membuat saya shock dan terperangah. Tidak dinyana, pada salah satu episode yang saya ikuti pada akhir pekan lalu saya mendengar ucapan ini. “Perempuan kampung!”, frase yang sangat saya benci itu tiba-tiba muncul di sinetron yang sudah saya naikkan penilaiannya di mata saya. Ucapan sinis bernada merendahkan ini diucapkan oleh Ayu Dyah Pasha (pesinetron senior yang telah eksis di zaman serial laga tahun 90’an) dan Dwi Yan (tak kalah seniornya mengingat sudah muncul pada serial Dokter Sartika di TVRI pada 90’an). Kedua pemeran ini saya anggap telah cukup senior dan seharusnya tidak terkontaminasi penyakit menular sinetron Indonesia sekarang.

Namun apalah daya. Kartel India yang sangat berkuasa di belantara persinetronan tanah air ternyata sangat perkasa dalam menyulap istilah “kampung” menjadi berkonotasi jelek dan tercela. Mereka sukses mendogma masyarakat kita bahwa kini istilah “kampung” lekat dengan kesan bodoh dan layak di cemooh. Yang lebih dahsyat lagi sekarang mereka mengkampanyekan Read the rest of this entry »

Mungkin ini tulisan yang kesejuta soal keluhan masyarakat pinggiran [maksudnya dipinggirkan] yang setiap hari harus mengalami penyiksaan di jalan raya. Mungkin juga ini amarah hampa yang telah kehabisan bahan bakar api emosi. Tepat juga dibilang tangisan kering tanpa air mata. Walau hanya sebuah jeritan tak berdaya, kami cukup puas masih bisa menyuarakannya. Terlalu muluk jika kami bermimpi ada yang mendengarkannya.

Pagi ini saudara-saudara. Masih belum berubah dari pagi-pagi sebelumnya. Kami para komuter angkutan umum bergerak menuju pusat-pusat Jakarta. Tuntutan hidup menyuruh kami bersegera. Satu persen angkutan umum kami perebutkan bersama-sama. Kami bersatu dalam cita dan derita. Kami berbagi ruang seluas 25 cm x 20 cm didalam bis kota. Kami berbagi CO2 dan karbon monoksida kenalpot Anda.

Diluar sana kami lihat Anda yang mengumbar amarah. Sambil duduk memegang stir dan atau mengobrol lewat handsfree. Anda yang sekilas bernasib sama dengan kami, terlihat menikmati kemacetan ini.

“Kami tergencet” pekik kami.

“Saya pun kena macet!” teriak Anda.

“Lalu kenapa pula kita harus saling mengumpat” sambung Anda.

Maaf bapak-bapak yang tertawa. Jika Anda melaju di jalan Anda, kami pun tidak sudi mengusik Anda. Lihatlah diri Anda. Untuk membawa diri Anda yang berdimensi 25 cm x 20 cm x 175 cm, Anda harus menghabiskan ruang seluas 150 cm x 350 cm. Anda yang berteriak-teriak macet sebenarnya sedang menikmatinya Read the rest of this entry »

Sesampainya di kost tadi malam, saya langsung melakukan prosedur rutin yaitu membongkar isi ransel yang setiap hari saya bawa. Meletakkan buku agenda, bolpoint, dompet,kacamata, HP dan perlengkapan lainnya ke posisi masing-masing, agar mudah dijangkau dalam situasi darurat. Satu persatu saya absen, dan saya baru tersadar ternyata ada satu barang yang tidak hadir malam itu. Saya pikir benda itu terselip dimana, maka saya memeriksa seluruh saku baju, celana, dan kantong-kantong dalam ransel. Dan hasilnya, benda itu ternyata benar-benar raib.

Prosedur kedua dijalankan. HP GSM yang raib itu saya miscall. Tidak terdengar ringtone ataupun nada getar dalam radius 2 meter sekeliling saya. Tapi saya masih berharap HP tersebut tidak kemana-mana, karena masih aktif ketika saya hubungi. Saya mulai mengingat-ingat dimana kira-kira kontak terakhir saya dengan barang penting ini. Pukul 17.30 saat ke mesjid, masih ada. Sambil nunggu maghrib, saya rebahan di masjid sepertinya masih ada. Setelah shalat maghrib dan ngobrol lagi beberapa saat dengan teman didalam masjid saya tidak ingat lagi. Berarti grey area terjadi antara pukul 18.10-18.20. OK, TKP pertama dan satu-satunya adalah masjid di lantai 3 gedung parkir Menara Jamsostek.

Berikutnya sampai jam 1 malam saya miscall HP GSM saya dengan HP CDMA setiap 1 jam. Syukur, masih bernyawa. Pagi ini dua kali saya miscall, HP sudah tidak aktif lagi. Saya, mulai curiga, jangan-jangan nih HP tidak terjatuh di masjid. Jangan-jangan saya dicopet dan tidak sadar. Saya mulai mendata TKP2 dan TKP3 yaitu warung nasi goreng dan bus P06 jurusan Grogol-Kp.Rambutan yang saya tumpangi malam itu. Tapi sepertinya kedua TKP diatas kurang memungkinkan. Saya berangkat kekantor.

Sampai dikantor saya langsung sweeping radius 2 meter sekeliling meja kerja saya, sela-sela meja, sela-sela stekker listrik, dalam tas laptop, dikerimbunan kertas-kertas dan file-file yang berserakan nggak jelas. Hasilnya nihil. Lima menit kemudian langsung menuju TKP pertama di lantai 3 gedung parkir.

Masjid masih sepi, ada seseorang yang sedang tiduran atau tertidur di pojok sebelah timur. Sweeping dimulai. Setiap karpet dan gulungan karpet diamati, lemari buku dan kitab suci, lipatan karpet yang tidak beraturan. Hasilnya nihil. Saya keluar dan sadar ada seorang laki-laki yang mengamati saya. Raut curiga diwajahnya tidak dapat dia sembunyikan. Lalu dia mengeluarkan HT. Ohh, ternyata security berpakaian preman.

Saya tanya orang itu. “Apakah Anda telah bertemu petugas yang biasa stand by ditempat ini sedari pagi?”. “Ya, saya kenal orangnya, ada keperluan apa?”. “Saya ketinggalan HP disini tadi malam, saya pikir petugas mungkin tahu”. “ Ooo, HP nya seperti apa, hilangnya jam berapa, kenapa Anda yakin hilangnya disini, Anda kerja dimana, posisinya apa, tinggal dimana, KTP nya ada nggak, bla bla bla”. Butuh waktu 20 menit untuk interogasi awal ini. Pada seorang petugas keamanan berpakaian preman yang pada awalnya cuma iseng saya tanyai.

Setelah itu saya digelandang disuruh mengikuti ybs ke posko keamanan dilantai 6 gedung parkir. Hmm, udah 20 menit nih. Sampai posko yang lebih mirip warung kopi (kabarnya emang nih posko juga jualan kopi), saya dihadapkan lagi sama atasannya. Seorang pria, umur 45-an, bertampang militer, pangkas rambut cepak, berdialek jawa banyumasan dan dengan suara digagah gagahi.

“Ya, Anda ada keperluan apa?” Bah, kumat lagi nih orang. Naluri anti militer dan anti birokrasi saya langsung keluar. Apalagi dengan tatapan penuh curiga dan interogatif itu. Read the rest of this entry »

Lengkap sudah kekecewaan saya pada bank yang satu ini. Sedari awal saya sudah tidak ikhlas membuka rekening di bank ini, namun karena dipaksa oleh perusahaan saya terdahulu (dan juga tentunya oleh perusahaan sekarang) saya harus legowo menjalaninya. Padahal tidak ada sedikitpun keuntungan yang saya rasakan dengan menitipkan penghasilan saya di bank ini, walaupun hanya untuk beberapa hari. Pemotongan Rp.7.500,- sebulan meskipun kecil tetap saja membuat saya gigit jari. Belum lagi kartu ATM-nya yang sombong sama ATM bank lain. Sungguh, dalam 12 bulan terakhir ini, hampir setiap saya menerima gaji lewat rekening bank ini, dana itu tidak pernah saya biarkan menginap disana lebih dari 24 jam. Dengan segera secepat mungkin akan saya pindahkan ke bank kesayangan saya yaitu Bank Muamalat.

Saya pernah melobby perusahaan tempat saya bekerja (dahulu dan sekarang) untuk langsung mentransfer saja gaji saya ke rekening Shar-e saya di Bank Muamalat, namun entah konspirasi apa yang merasuki mereka, lobby saya selalu saja gagal dengan berbagai macam alasan yang dibuat-buat.

Jum’at kemarin, beberapa saat setelah gajian saya bersegera ke ATM BCA sepulang kerja untuk memindahkan hasil jerih payah saya sebulan ke Bank Muamalat kesayangan saya. Tapi apa nyana, setelah tiga kali transfer selalu gagal dan kartu dikeluarkan kembali dari mesin ATM. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Saya sudah menyangka pasti ada semacam gangguan koneksi yang sedang terjadi antara jaringan ATM BCA dengan Bank Muamalat.

Keesokan harinya, saya mencoba lagi di ATM BCA yang sama, di Wisma Millennia MT.Haryono. Delapan kali saya coba, delapan kalinya gagal. Saya mulai mencium aroma ketidakberesan. Saya langsung menelepon Halo BCA untuk menanyakan perihal sebenarnya, karena tidak normal apabila network down sampai berbilang hari. Setelah memasukkan nomor rekening untuk validasi dan menunggu sampai tiga kali, seorang customer service laki-laki menyapa saya dengan suara yang jauh dari kesan ramah. Saya langsung bertanya, ada apa dengan konektivitas antara jaringan ATM BCA dengan Bank Muamalat?

Tapi apa yang terjadi, sebelum mencari dan memberikan jawaban, dia bertanya kepada saya, siapa nama saya, nomor rekening saya, alamat saya sesuai KTP, tempat tanggal lahir saya, nama ibu kandung saya sebelum menikah, alamat kantor cabang tempat rekening BCA ini dibuka, saldo terakhir, saldo yang akan saya transfer dan beberapa pertanyaan lain yang menyebalkan. Setelah itu dia minta jeda, dan setelah total CS sialan ini menghabiskan pulsa handphone saya selama 5 menit dia pun memberikan jawaban, “Pak Fadli, sepertinya ada gangguan koneksi antara BCA dan Bank Muamalat, mungkin bapak bisa coba lagi bertransaksi 2 jam lagi, Ada lagi pak yang bisa saya bantu”.

Kontan saja saya langsung mengamuk. “Jadi cuma itu jawaban yang bisa saudara berikan setelah membuang-buang waktu saya dengan pertanyaan tidak relevan itu selama 5 menit? Jadi buat apa Anda tadi nanya-nanya segala macam, padahal kepentingan saya cuma ingin menanyakan, ada apa dengan jaringan ATM BCA ke Bank Muamalat. Seharusnya Anda itu mencek dulu kondisi jaringannya dengan bertanya ke bagian teknis. Ini malah membuang-buang waktu saya dengan verifikasi aneh-aneh. SOP kalian itu gimana sih?”. Tuts. Saya putus telepon saya saking kesalnya. Read the rest of this entry »

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 76 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 308,292 hits
%d bloggers like this: