Banyak yang bertepuk tangan gembira ketika mendengar berita penangkapan, penggerebekan atau penembakan teroris yang dilakukan oleh Densus 88. Wajar saja karena sebagai masyarakat umum yang cinta kedamaian dan ketenangan, berita ini tentu saja membawa sedikit rasa nyaman dan aman. Bahkan berlaku semacam ketentuan tak tertulis di masyarakat, barangsiapa merasa bersedih atau sinis, layak dituduh mendukung terorisme atau jangan-jangan dia simpatisan teroris secara diam-diam, atau malah terlibat aktif mendanai kegiatan sel-sel teroris atau bagian dari sebuah jaringan teroris terorganisir.

Namun apakah aksi-aksi itu tetap akan membuat kita gembira pula jika pada sebagian prosesnya ternyata menempuh cara-carat tidak beradab dan penuh rekayasa. Sebagai manusia yang bermartabat seharusnya kita terganggu dengan hal itu. Saya sengaja menulis hal ini dengan konsekuensi akan dituduh mendukung teroris, JAT atau FPI di kemudian hari. Tak apalah, saya sudah terbiasa kok dituduh tuduh.

Pada banyak kasus, tindakan satuan densus ini sering membuat hati miris dan tak jarang menimbulkan keprihatinan. Dalam sudut pandang saya, terorisme itu sama dengan kejahatan-kejahatan yang lain. Para terduga berhak mendapatkan proses hukum yang adil, sedangkan para pemirsa berhak mendapatkan berita yang benar dan jernih. Jangan ada dusta diantara kita.

Namun kenyataannya berapa sering kita dengar pemberitaan salah tangkap karena alasan yang tidak bisa diterima akal. Sebuah kesatuan yang katanya dididik oleh para intelijen ternyata tidak cukup intelligent untuk membedakan teroris dengan ustadz dan aktivis masjid. Asal bercadar, berjenggot, bergamis, berwajah arab dan atau sedikit introvert dengan gampang masuk dalam kategori terduga teroris.

Berapa banyak yang ditembak mati tanpa sanggup bicara lagi. Berapa banyak berita yang kita dengar hanya dari pihak polisi saja. Adakah wartawan disana seperti proses penggerebekan Azhari dan Noordin M Top. Adakah dokumentasi yang bisa disaksikan oleh publik dan pengadilan? Nyaris tidak ada sama sekali. Sekali densus bersaksi bahwa korban penembakan adalah teroris, kita sebagai masyarakat wajib percaya. Berani mempertanyakan aksi mereka, maka kita akan dengan mudah dibidik sebagai simpatisan teroris.

Apakah tidak ada cara lain untuk melumpuhkan teroris selain menembak mati? Apakah tidak ada semacam peluru bius dosis tinggi sehingga mereka cuma pingsan dan kita masih bisa sama-sama melihat pembelaan mereka di pengadilan. Kenapa berita tentang mereka harus kita telan bagaikan dogma?

Berikut saya coba sajikan berita-berita yang saya ingat tentang betapa over actingnya densus selama dua tahun ini:

  1. September 2010. Seorang ustadz di Tanjung Balai, Sumut bernama Khairul Ghazali menolak untuk mengangkat tangan tanda menyerah atas perintah densus. Alasannya dia sedang mengimami shalat Maghrib. Tentunya perintah Tuhan harus didahulukan atas perintah manusia. Densus tidak mau terima dinomorduakan dari Tuhan. Imam yang sedang shalat ini diterjang dan diinjak-injak dibagian dada ketika sedang shalat. Dia kemudian ditahan, dan seminggu kemudian dibebaskan karena tidak terbukti terkait jaringan teroris.
  2. November 2011, seorang ustadz di Jember, Jatim tak sengaja menyerempet polisi mabok. Polisi ini kemudian naik pitam dan mengejar lalu menembaknya sampai mati. Cerita kemudian direkayasa kalau ustadz ini disangka mau merampok. Sebuah clurit dicari kemudian untuk dijadikan barang bukti. Namun cerita fitnah yang busuk ini kemudian terungkap. Polisi durjana ini hanya dihukum mutasi.
  3. Desember 2012, 14 petani penggarap ladang ditepi hutan ditangkap densus dengan tuduhan teroris. Mereka disiksa, dipukuli, diinjak-injak dan disekap selama berhari-hari. Pada akhirnya mereka tidak terbukti terlibat. Namun media sudah mendakwa mereka sebagai teroris dalam berita.

 

Masih banyak cerita lain soal salah tangkap dan salah tembak. Sebagian beruntung terekspos ke media, sebagian tenggelam dan ditutup-tutupi. Kontras mengatakan, kejadian ini tidak sekali dua, nyaris berulang setiap tahunnya. Adakah keadilan bagi orang-orang seperti mereka. Mereka mati dan tak dapat bicara. Namanya hina dalam berita. Keluarganya dirundung fitnah dan dianggap sampah. Bukankah ini akan menimbulkan lingkaran sakit hati yang baru yang dapat saja berbuah dendam di masa depan. Lalu menciptakan teroris jenis baru, bukan teroris ideologis namun teroris karena dendam. Yang pasti bagi densus, kedua golongan ini tak ada bedanya, walaupun golongan kedua adalah karya cipta mereka sendiri.

Mungkin masih belum terlambat untuk memperbaiki keadaan. Masyarakat berharap densus melakukan tugas dengan penuh kebijakan, bersikaplah intelijen jangan seperti preman. Dan bagi korban-korban yang sudah tak dapat bicara ini, ungkaplah siapa mereka. Darimana mereka, sejauh apa mereka terlibat, seperti apa kronologi penghilangan nyawa mereka. Apa yang membuat mereka diduga teroris. Masyarakat ingin tahu.

Jangan anggap remeh kasus ini. Suatu saat anda bisa menjadi korbannya. Bisa saja anda berniat pergi pengajian malam-malam, namun karena menurut seseorang anda berciri-ciri teroris, mati lah anda tertembak malam itu. Dan esok pagi anda sudah dikenal sebagai teroris. Sayang anda tak dapat bicara lagi. Anda tentu masih ingat, dua hari yang lalu ada dua orang “teroris” yang mati ditembak di teras masjid.

 

 

mass

Bagi sebagian orang Indonesia, kelas-kelas motivasi yang marak diselenggarakan akhir-akhir ini menjadi sebuah pemuas dahaga akan mimpi dan ambisi. Kelas-kelas ini begitu bertaburan dimana-mana, bagaikan cendawan di musim hujan. Berbagai tema untuk meraih KESUKSESAN ditwarkan dengan berbagai rasa dan varian. Tentu saja yang paling laris adalah tema-tema seputar kesejahteraan finansial, kemapanan tanpa modal, kemampuan manajerial dan tidak ketinggalan kesalehan emosional dan spiritual.

Paket-paket yang ditawarkan dari kelas-kelas motivasi yang kurikulumnya tidak bisa diintip ini dipercaya menjadi anak tangga dalam menggapai kesuksesan. Kesuksesan itu dipercaya telah amat dekat, bahkan tak jauh didepan mata, sedekat teriakan Selamat Pagi hingga Salam Zuppperr.

Konsumen kelas-kelas motivasi menjadi semakin percaya bahwa kesuksesan telah di depan mata dengan melihat langsung figur sang motivator. Beberapa dari mereka mungkin bermimpi pula menjadi motivator suatu saat nanti. Motivator adalah simbol manusia paripurna yang sukses secara multidimensi, yang sabdanya layak diikuti bahkan dengan mengeluarkan sejumlah uang yang disebut investasi.

Mengapa motivator semakin sukses dan sukses (baca: semakin kaya)? Tidak terpikirkah dari mana sumber kekayaan mereka yang mereka pamerkan kepada anda sebagai inspirasi itu. Jawabnya tentu sangat sederhana. Andalah yang menjadi sumber kesuksesan mereka. Andalah sesungguhnya yang menjadi angsa-angsa emas yang telurnya mereka pungut.

Tidak percaya? Mari saya berikan sebuah ilustrasi nyata.

Bayangkan seorang motivator membuka sebuah kelas pelatihan holistik (katakanlah begitu namanya). Paket pelatihan ini akan mereka tawarkan dengan harga 20 juta dimana didalamnya terdapat sebuah jenjang program yang terdiri dari 2x ceramah, 2x coaching dan 1x business gathering. Kegiatan ini akan diselesaikan dalam waktu 2 tahun dimana jadwalnya akan ditentukan sendiri oleh lembaga kepunyaan motivator.

Biaya 20 juta ini wajib disetorkan didepan dengan alasan untuk komitmen belajar, dan ditambah dengan iming-iming uang investasi akan dikembalikan 100% pada akhir pelatihan, dengan kondisi tertentu misalnya prestasi terbaik. Pada kenyataannya ada juga biaya pelatihan yang tidak dikembalikan 100%.

Kemanakah uang 20 juta per peserta ini perginya? Dengan cerdiknya sang motivator memutarkan uang ini pada berbagai instrumen keuangan, baik yang beresiko rendah maupun beresiko tinggi. Salah satu contoh penggunaan uang yang termasuk beresiko rendah ini adalah dengan mengikuti program jual beli emas batangan yang diselenggarakan sebuah agen internasional. Sebut saja GT**

Biaya pelatihan yang dikumpulkan dari peserta ini akan mereka jadikan modal penyertaan untuk membeli emas batangan dari PT. Antam lewat agen ini. Sang agen akan membeli emas dengan harga normal namun karena kepiawaiannya dalam memproses emas batangan menjadi perhiasan, agen mengaku bisa meningkatkan harga emas per kilogram dari 540 juta  menjadi 700 juta. Selain itu agen juga mengaku bahwa mereka memperoleh keuntungan dari selisih harga emas regional dan karena membeli langsung dari pabrik dengan diskon 20%. Efisiensi yang mereka lakukan dalam proses distribusi emas perhiasan ke konsumen juga menambah pundi-pundi keuntungan mereka, ditambah lagi selisih keuntungan yang diperoleh dari penjualan emas yang sebenarnya sudah mereka timbun sejak 5 tahun yang lalu.

Dengan skema ini si agen berani memberikan pengembalian bonus berupa cash back sebanyak 2% sampai 5% perbulan kepada pemodal mereka dalam hal ini para motivator dan lembaga training center mereka. Setelah satu tahun modal yang disetorkan motivator akan dikembalikan (tergantung perjanjian awalnya).

Bayangkan berapa modal yang diraup oleh sebuah lembaga training dari penyelenggaraan kelas-kelas motivasi semacam ini. Pantaslah mereka semakin sukses dan semakin kaya. Uang mengalir masuk tanpa henti dan berkembang biak dengan investasi yang mereka lakukan.

 Tentunya tidak semua lembaga training memiliki modus pembiayaan seperti ini, namun dengan skema keuntungan yang ditawarkan pedagang emas tadi, motivator mana yang tidak tergiur?

muss

Mungkin ini merupakan artikel yang kesekian kalinya soal Dahlan Iskan yang muncul di Kompasiana dalam dua hari terakhir ini. Tapi saya masih tertarik untuk mencoba mengulasnya dari sudut pandang yang agak berbeda, yaitu “dari sudut pandang Dahlan Iskan sendiri”. Bagaimana bisa? Ya gampang, tinggal kita baca saja rekam jejak yang bersangkutan lalu kita konfrontir kata dengan tindakan nya.

Kita mengenal Dahlan Iskan sebagai sosok yang lahir dari kalangan pesantren. Walaupun tidak mengaku religius-religius amat namun tokoh yang mendaulat dirinya sendiri sebagai sosok inklusif ini pada kenyataannya sering menggunakan istilah-istilah agama (Islam) dalam tulisan-tuliannya di koran. Tidak tanggung-tanggung kadang menerobos sampai wilayah fiqih dan aqidah, suatu tema sentral dalam ilmu keagamaan.

Salah satunya soal “musyrik”. Dalam Islam, musyrik didefinisikan sebagai tindakan mempersekutukan Tuhan atau menolak keesaan Tuhan. Dahlan sempat menulis artikel berjudul “Neraka Dari Manajemen Musyrik”. Ummat Islam tentu semuanya paham bahwa konsekuensi dari tindakan musyrik ini adalah neraka, karena jelas-jelas memproklamirkan diri menentang Tuhan.

Namun uniknya yang dituduh musyrik oleh Dahlan Iskan ini adalah sebuah perusahaan BUMN yaitu PT Angkasapura II yang mengelola Bandara Soekarno-Hatta. Bagaimana bisa? Artikel lengkapnya bisa anda baca disini. Singkat cerita yang dimaksud musyrik oleh Dahlan Iskan adalah sikap mendua dan tidak fokus yang ditempuh perusahaan ini dan beberapa perusahaan BUMN lain, namun dalam hal ini tentu saja bukan Tuhan yang diduakan (disyirik-kan) namun visi dan misi perusahaan. Kata Dahlan “dalam bahasa agama, “tidak fokus” berarti “tidak mengesakan”. “Tidak mengesakan” berarti “tidak bertauhid”. “Tidak bertauhid” berarti “musyrik”. Memanfaatkan idle capacity di satu pihak sangat ilmiah, di pihak lain bisa juga berarti godaan terhadap fokus. Saya sering mengistilahkannya “godaan untuk berbuat musyrik”. Padahal, orang musyrik itu masuk neraka. Nerakanya perusahaan adalah negative  cash flow, rugi, dan akhirnya bangkrut”

Menarik juga pemikiran Dahlan yang mengambil analogi dari istilah musyrik ini. Namun yang terjadi dalam dua hari terakhir ini sungguh diluar pakem yang dianut oleh Dahlan selama ini. Entah punya maksud mencontohkan praktek dari konsekuensi musyrik, bukan hanya sekedar teori Dahlan menerapkan praktek kemusyrikan ini dalam pengertian sebenar-benarnya, bukan hanya analogi. Barangkali dia mencoba jalan yang pernah dilakukan seorang dosen kriminologi bernama Mulyana W Kusumah, anggota KPU pada tahun 2004.

Dahlan Iskan yang terkenal logis dan rasional tiba-tiba bersekutu dengan tokoh mistis nan paranormal. Ya, entah bercanda atau ada alasan lain, Dahlan merancang suatu upacara ruwatan yang tentu saja masuk dalam kategori kegiatan syirik untuk “menjaminkan” keselamatan mobil Ferrari Tuxaci seharga milyaran kepada selain Tuhan.

Seperti yang ditulis dan diyakini Dahlan sendiri, konsekuensi musyrik tentunya neraka. Tentunya saat ini Dahlan sedang manggut-manggut apakah dia telah mendapatkan nerakanya. Mungkin dia sedang tertawa, karena bisa saja dia hanya pura-pura musyrik sehingga mendapat konsekuensi neraka yang bukan sebenar-benar neraka. Wallahualam. Hanya Tuhan dan Dahlan yang tahu.

 

sanoto

Banyak yang suka dengan keberadaan PKS, namun tidak kalah banyak pula yang benci, anti dan alergi terhadap partai politik yang satu ini. Tuduhan munafik, korup, poligami, gemar syahwat, rakus kekuasaan, terima mahar dan lain sebagainya adalah makanan sehari hari partai ini. PKS memang fenomenal dengan begitu ramainya pujaan dan hujatan sekaligus, bahkan kalangan yang benci dengan PKS ini datang dari berbagai macam latar belakang. Mari kita kenali satu persatu: 

  1. Benci Setengah Mati, kalangan ini biasanya membenci PKS karena berseberangan secara politik dan menganggap PKS akan mengganjal agenda-agenda mereka. Mereka tidak suka terobosan-terobosan yang dilakukan PKS karena membuat mereka jadi kelihatan kotor.
  2. Benci Dari Hati, nah ini dia yang cuma alergi dengan nuansa keagamaan yang dibawa PKS. Mereka datang dari kalangan yang memang tidak terlalu suka beragama, atau datang dari kalangan agama sebelah yang benar-benar alergi dengan tampilan PKS yang amat kental berbau agama tertentu. Bagi mereka PKS adalah ancaman terhadap eksistensi mereka. Segala tindak tanduk PKS yang berbau agama adalah munafik bagi mereka.
  3. Benci Tanpa Syarat, yang ini kondisinya agak parah. Mereka hanyalah korban media-media yang anti PKS dan korban perang pemikiran di sosial media. Sebenarnya mereka belum mengenal PKS namun dengan lugunya percaya pada berita-berita yang menyamakan PKS dengan partai-partai lain. Mereka tidak perlu fakta, mereka cuma berkicau menuruti kicauan terbanyak.
  4. Benci Tapi Rindu, yang ini adalah para mantan kader dan simpatisan PKS yang memutuskan keluar dari organisasi yang dahulunya mereka anggap jamaah dakwah. Idealisme mereka tentang dakwah membuat mereka meninggalkan partai yang semakin sejahtera ini, namun mereka masih memendam harapan dan kadang tidak terima juga kalau PKS dijelek-jelekkan. Mereka biasanya membenci person tertentu atau sistem yang mereka anggap tidak pas, contohnya keputusan PKS untuk menjadi partai terbuka.
  5. Benci Karena Allah, kalangan ini adalah komunitas diluar PKS yang mengharamkan politik partisan. Mereka mengecam istilah dakwah yang digunakan PKS dengan semena-mena. Mereka anti dengan segala macam perbuatan yang menyerupai orang kafir, termasuk sistem demokrasi yang menyamakan suara ulama dengan suara pelacur.
  6. Benci Karena Patah Hati, kelompok ini datang dari kalangan terdidik yang tidak memiliki afiliasi keagamaan tertentu. Mereka sempat melihat PKS sebagai harapan baru pada tahun 2004 yang lalu. Mereka sebenarnya kesengsem dengan jargon Bersih, Peduli, Professional yang pernah diusung PKS, namun mereka kemudian kecewa karena ternyata tidak ada perubahan signifikan yang diperbuat oleh anggota legislatif dan kepala daerah dari PKS. Harapan mereka yang melambung tinggi jatuh hancur berderai ke bumi.
  7. Benci Karena Alergi, nah ini dia kelompok sesama partai Islam atau organisasi Islam yang tidak sreg dengan PKS yang merasa lebih Islam dari mereka. Kelompok Islam Tradisional ini biasanya tidak suka kalau PKS berusaha merebut masjid-masjid mereka. Mereka juga tidak senang dengan pilihan keagamaan PKS yang rata-rata tidak melaksanakan tahlilan dan maulid. Istilah partai wahabi, anti maulid dan anti tahlil ini datang dari kalangan mereka.
  8. Benci Kaleng (banci kaleng), nah ini dia yang terganggu sangat dengan tampilan PKS yang sok suci dan sok alim menurut mereka. Biasanya pendapat mereka didukung pula oleh kalangan liberal semacam JIL yang bersedia teriak-teriak demi kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, kebebasan menghujat dan kebebasan mengumpat.

Apakah anda benci juga dengan PKS? Kenali lebih dekat sebelum bersikap.

 

dakwah

Dakwah PKS : Antara Sensasi dan Halusinasi

Seorang perempuan berjilbab lebar masuk ke kandang banteng untuk ‘berdakwah’ kemudian lari keluar terbirit-birit sambil diuber pakai golok oleh penghuni kandang. Hmm … cerita yang aneh.

Namun ini bukan cerita khayalan bagi para kader PKS, karena cerita diatas sungguh-sungguh terjadi dan bisa lebih dari satu kali. Atas nama dakwah, kader-kader tersebut (bahkan perempuan, seorang diri pula, tanpa mahram) berani masuk ke kantor-kantor DPC PDIP untuk ‘mendakwahkan’ partainya atau dalam bahasa mereka direct selling. Kok bisa yah? Ya bisa donk, itulah hebatnya ‘dakwah’.

Dakwah bagi PKS bisa jadi menjadi istilah sakral sebagaimana Pancasila bagi Indonesia dan syahadat bagi Islam. Mereka punya dalil bahwa tiap-tiap manusia (muslim) itu memiliki kewajiban dakwah, dan salah satunya adalah yang mereka geluti, yaitu dakwah siyasiyah (berpolitik praktis). Atas nama dakwah dalam pemahaman kader PKS, maka demonstrasi itu adalah jihad, kampanye adalah jihad, bakti sosial mungkin juga jihad, dan mati kecelakaan ketika kampanye adalah mati syahid sehingga layak disebut syuhada (pahlawan). Cukup aneh karena dalam Islam sendiri dilarang untuk mengatakan seseorang itu syahid karena perkara syahid atau tidaknya seseorang itu hanya Tuhan yang tahu.

Maka segala hal kritik atas perilaku dan metode PKS akan dianggap menghalangi jalan dakwah, apalagi keluar dari organisasi ini akan dianggap pengkhianat dakwah atau lebih halus lagi ‘gugur di jalan dakwah’, mereka menyebutnya futhur dalam bahasa internal. Kalau saya menyebutnya futuristik, alias berpikir modern. Keluar dari PKS sungguh tidak enak, mungkin rasanya seperti murtad dari agama Islam. Orang-orang yang dahulunya bagai saudara, serentak seperti dikomando akan berlaku sinis kepada kita, inbox SMS bisa penuh dalam semalam berisi ajakan-ajakan untuk tobat, dan seketika kita akan terkenal sebagai seorang futur of the month.

Sensasi dakwah PKS memang amat terasa bagi kader-kader muda. Dengan bergelora mereka akan melakukan berbagai cara untuk merekrut anggota, semua atas nama dakwah dakwah dan dakwah. Namun sesungguhnya semangat itu kebanyakan halusinasi, karena ada juga yang masih terbata-bata mengaji namun telah sukses ‘berdakwah’ (baca:mencetak simpatisan).

Secara historis memang Partai Keadilan (bukan PKS) lahir dari sebuah jamaah dakwah dengan  tujuan membawa dakwah ke ranah politik yaitu dengan cara menunjukkan contoh-contoh yang baik. Anda tentu masih ingat Mashadi, anggota DPR periode 1999-2004 dari PK yang tidak malu memarkir motornya di samping mobil-mobil mewah anggota DPR lain di parkiran gedung DPR. Tapi itu dulu, sekarang hampir semua pendakwah dari Partai Keadilan ini sudah meninggalkan PKS, termasuk Mashadi yang fenomenal itu.

 

Piramida Dakwah dan Istilah-istilah PKS

PKS memiliki istilah-istilah khusus dalam kegiatannya, mari kita buka satu-satu:

  • Ammah,  ini artinya masyarakat umum diluar PKS yang masih belum ‘tersentuh dakwah’ sehingga menjadi target perekrutan.
  • Qiyadah, ini artinya pemimpin, pada prakteknya ketua DPW, DPC, DPRA, anggota Majelis Syura dan petinggi-petinggi lainnya. Qiyadah ini wajib dipercaya sebagai manusia bersih karena dianggap pemahamannya tentang syariat sudah amat tinggi sehingga kecil kemungkinan berbuat kesalahan.
  • Tsiqah, artinya percaya. Percaya sama siapa? Ya itu sama Qiyadah tadi. Pokoknya percaya bahwa mereka tidak macem-macem, apa yang mereka putuskan adalah yang terbaik dan pahit manis nya harus dilaksanakan walaupun bertentangan dengan logika dan hati nurani.
  • Bayan, ini maksudnya rekomendasi atau seruan atau perintah dari pada Qiyadah. Bayan ini harus diikuti dan tidak boleh dipertanyakan.
  • Thoat, artinya taat pada Qiyadah dan bayan-bayan yang mereka keluarkan. Jangan mengkritik karena hanya akan menceraiberaikan kader dari jalan dakwah.
  • Jundi, artinya prajurit. Inilah porsi terbanyak anggota PKS, dalam kata lain kader dan simpatisan. Jundi harus menaati perintah Qiyadah dan siap digerakkan dalam kondisi apa saja. Mereka adalah pion-pion tanpa nama yang diukur dalam satuan angka. 1000, 100 ribu, sejuta, dua juta. Mereka harus siap sedia untuk dipanggil dalam seruan demonstrasi dan tentu saja memberikan suara dalam pemilu.
  • Murabbi, artinya guru. Mereka adalah para ustadz yang menyelenggarakan Liqo’ (pertemuan mingguan) dalam rangka mendakwahkan ide-ide PKS dalam bahasa agama. Para murabbi ini levelnya berlapis-lapis bagai struktur MLM. Tidak semua mereka masuk di struktur partai, tapi mereka berperan penting dalam menyampaikan bayan. Murabbi kadang juga jadi pelindung bagi kader dalam urusan kesulitan ekonomi.
  • Liqo’ (pertemuan mingguan). Kegiatan ini berisi pengajian dan curhat dengan sedikit sekali muatan keilmuannya. Intinya hanya mengontrol seorang kader. Liqo’ ini bagaikan ibadah mingguan tambahan yang wajib dihadiri dalam kondisi apapun (macet, banjir, sakit, ga ada duit). Oh ya, kalau ga salah Liqo’ ini juga bagian dari jihad.
  • Jihad. Jangan takut dulu, meskipun kedengaran seram, istilah ini tak lain hanyalah demonstrasi dan kampanye.
  • Infaq. Inilah pengumpulan dana dengan besaran paling kecil 5,000 rupiah untuk kegiatan partai semacam Munas. Andaikan satu juta kader saja menyumbang 5,000 tentu akan terkumpul 5 milyard. Ya cukuplah untuk mengadakan acara di Ritz Carlton atau di Pulau Bali. Para kader yang sehari-harinya hanya mengajar mengaji cukuplah menyaksikan kemewahan ini di televisi.

 

Sekian kiranya dunia PKS yang ingin saya bagi dengan khalayak ramai, semoga memahami ayat-ayat PKS ini. Oya, bicara soal ayat, PKS paling jago dalam urusan melepaskan ayat dari asbabun nuzulnya, pokoknya asal kalimatnya cocok, ayat itu pun dicomot untuk menguatkan pendapat.

 

Selamat memilih PKS. Semoga anda mendapat Hidayah.

 

Kalau ada sebuah partai politik yang paling menggemaskan untuk dihujat dalam dua tahun terakhir ini tentunya adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Meskipun tidak tercatat sebagai kader dan simpatisan, saya tertarik membahas parpol yang satu ini karena secara konsisten saya menemukan komentar-komentar negatif yang terlalu ramai pada setiap artikel yang memberitakan tentang partai ini, terutama di media-media online besar seperti Kompas.com, Detik.com, Okezone.com, Republika.co.id, Vivanews.com dan Inilah.com.

pks-oke

Komentar-komentar negatif ini datang dari berbagai pihak dengan bermacam afiliasi politik termasuk yang mengaku apriori dan apatis terhadap politik. Lucunya komentar atau lebih tepat hujatan ini kadang benar-benar tidak ‘nyambung’ dengan berita, pokoknya apapun beritanya akan dihajar dengan hujatan-hujatan kejam yang ramainya minta ampun. Jika persentase hujatan terhadap jumlah komentar ini telah melebihi 95% tentunya akan berdampak pula terhadap opini publik.

Kalangan yang pro PKS katakanlah kader atau simpatisan barangkali pernah mencoba memberi warna pada kolom-kolom komentar ini, namun bisa dipastikan akan segera di-bully dan dihajar beramai ramai dengan sebutan onta.

Nah barangkali perlu juga kiranya saya klasifikasi jenis-jenis hujatan tersebut dan dihadapkan pada faktanya (ini bukan klarifikasi, cuma ingin sedikit berimbang karena kita sama-sama cuma pengamat). 

  1. Partai Koruptor Sejahtera, ini adalah typical hujatan yang lumayan laris, bahkan mewakili 30 % dari hujatan. Tudingan ini awal mulanya muncul karena kasus Misbakhun yang divonis bersalah dalam kasus Bank Century. Beberapa kader lain yang diperiksa terkait dugaan korupsi adalah Tamsil Linrung, Anis Matta dan Rama Pratama. Jumlahnya 4 orang, persis seperti laporan Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Namun menarik dicermati, karena 3 orang yang terakhir ternyata tidak sampai ke Pengadilan Tipikor, hanya ditanya-tanya saja. Dan ajaibnya, orang yang paling terkenal yaitu Misbakhun pada akhir cerita justru divonis BEBAS MURNI oleh Mahkamah Agung dan nama baiknya dipulihkan. Yang bersangkutan bahkan sempat menulis buku berjudul “Melawan Takluk : Perlawanan dari Penjara Century” yang berkisah tentang rekayasa hukum yang dialaminya. Artinya hingga saat artikel ini ditulis, tidak ada satupun kader PKS yang terbukti korupsi. Tudingan koruptor sejahtera ini lebih banyak karena sangkaan karena beberapa petinggi partai seperti Anis Matta memang cukup tajir dan hidup mentereng.
  2. Partai Ketagihan Syahwat, atau jenis-jenis hujatan yang terkait dengan perilaku seksual para kadernya. Hujatan ini mengemuka dan membahana sejak tertangkap kameranya Arifinto, yang terpilih dengan sangat cermat  oleh seorang juru kamera Metro TV dari 500-an hadirin di Ruang Rapat Paripurna DPR. Yang bersangkutan katanya terbukti menonton video porno dari Samsung Galaxy Tab nya. Tak ayal lagi peristiwa aneh dengan probability 1/550 ini menjadi akhir tragis dari karirnya, dimana yang bersangkutan akhirnya dipaksa mundur dari partai. Namun karya sang fotografer Metro TV ini akan tetap abadi dalam ingatan masyarakat dan menjadi cela yang tak pernah hilang bagi PKS. Metro TV memang jagonya dalam membuat berita negatif tentang PKS, ada apa? Tentunya kita sudah sama-sama tahu.
  3. Partai Kemunafikan Sejati, konon kabarnya ini soal pilihan PKS untuk berkoalisi dengan Fauzi Bowo pasca kekalahan Hidayat Nur Wahid dalam Pilkada DKI Jakarta Putaran Pertama. Kabar soal mahar milyaran dari Foke yang entah iya entah tidak, dihembuskan dengan sangat kencang oleh pendukung Jokowi-Ahok. Banyak juga yang mengaku-ngaku bekas kader, bekas simpatisan, bekas konstituen dan lain-lain yang berkomentar soal kemunafikan ini. Namun saya heran, munafik itu artinya apa? Dan apakah munafik itu menimbulkan kerugian negara? Lalu siapa saja yang tidak munafik? Oh come on, ini kan dunia politik, bukan pernikahan yang mengharamkan perselingkuhan.
  4. Partai Poligami. Hmm, sepertinya bukan hanya kader PKS deh yang berpoligami namun kenapa yang paling disorot adalah PKS? Soekarno, Hamzah Haz, Abdullah Gymnastiar dan banyak lagi tokoh-tokoh politik dan kyai-kyai juga berpoligami. Selama mereka tidak membuat Poligami Award ala Ayam Bakar Wong Solo kenapa harus dihujat?
  5. Partai Keranjang Sampah, wah yang ini gak tahu deh artinya apa.

 

Kesimpulan sementara, saya bingung dengan hujatan-hujatan ini, karena banyak yang tidak faktual, sudah expired, tidak masuk akal, tidak nyambung dan lain lain. Apa yang sebenarnya diharapkan masyarakat dari PKS sebagai partai politik?

 

Kalau cuma untuk mengisi gedung parlemen dan gedung pemerintah daerah, tentu kriteria bersih dari korupsi sudah cukup. Terus terang saya tidak terlalu peduli dengan aspek urusan pribadi mereka-mereka selama tidak merugikan negara. Bukankah pada hakikatnya setiap politisi itu hanya pekerja sosial yang kita gaji dengan uang pajak? Selama mereka amanah dengan gaji yang mereka terima tentunya tidak masalah.

 

Bagaimana menurut Anda? Ada yang lebih baik dari PKS untuk soal ini?

September 14, 2011 pukul 11:41 am saya menerima sebuah SMS dari funzone. Sadar bahwa ini adalah SMS dari content provider dan tidak berminat untuk registrasi content apapun, saya langsung menghapus SMS ini setelah membukanya. Saya ingat betul tidak mengklik apapun atau menelusuri link yang ada dalam SMS ini jika ada.

Ajaibnya, hanya dengan melakukan hal tersebut pulsa saya ternyata telah berkurang sebanyak Rp 3.300,-. Saya segera menghubungi Call Center Indosat di nomor 100 dengan biaya Rp 400,-/panggilan untuk menelusuri jenis transaksi apa yang baru terjadi.

Menurut petugas Call Center Indosat, saya baru saja menerima content dari layanan 9192 (Funzone) pada September 14, 2011 pukul 11:41 am. Content/SMS yang diterima ini dapat dihentikan dengan perintah:

STOP kirim ke 9192 (biaya RP 550,-)

Ketika saya menanyakan kapan saya melakukan registrasi untuk layanan ini, petugas Call Center menjelaskan bahwa itu diluar pengawasan Indosat. Hal yang sangat sulit diterima akal sehat ketika Indosat punya data transaksi terakhir namun tidak punya data kapan pelanggannya registrasi untuk sebuah layanan yang berjalan di atas jaringannya.

Petugas Call Center Indosat juga berteori bahwa kemungkinan registrasi terjadi pada saat:

  • Mengakses layanan waptrick via GPRS (saya tidak pernah melakukannya)
  • Nomor handphone saya dimasukkan seseorang pada sebuah layanan web dan dianggap langsung sebagai registrasi (agak menyeramkan juga jika hal ini benar-benar terjadi, bayangkan: fitur ini bisa menjadi sarana keisengan seseorang)

Akhirnya saya berkesimpulan (setelah dirugikan Rp 3.850,-) bahwa Indosat pasti tahu soal layanan 9192 ini dan para petugas Call Center sudah ditraining untuk pura-pura tidak tahu proses registrasinya. Mereka cuma akan “berbaik hati” memberi tahu cara UNREG dari  9192.

Anda masih percaya bahwa ada operator yang tidak tahu menahu tentang layanan content provider yang malang melintang di jaringan mereka?

Peringatan

Berdasarkan postingan kaskus di bawah ini ada beberapa kasus yang mungkin terjadi:

  1. Layanan sejenis juga datang dari nomor 9551 (layanan Bola)
  2. Kasus ini hanya terjadi pada operator Indosat
  3. Perintah UNREG sering tidak sukses
  4. Perintah yang dikonfirmasi sukses adalah UNREG FUN atau  STOP, kirim ke 9192
  5. Ada kemungkinan SMS Funzone 9192 datang kembali secara periodik dan anda harus mengulangi step UNREG FUN atau STOP kembali, yang artinya secara periodik ada kemungkinan anda harus kehilangan pulsa lagi sebesar Rp 3.850, –
  6. Anda dapat melaporkan ketidaknyamanan anda ke pengaduan@brti.or.id (Layanan Pengaduan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia)

Silahkan dibaca juga postingan Kaskus di bawah ini:

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=296922785

http://archive.kaskus.us/thread/3062901/120

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5633255

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4648393&page=5

Translate to

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 77 other followers

Categories

RSS Kompasiana Fadz

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitor Locations

MARAWA

Blog Stats

  • 310,026 hits
%d bloggers like this: